“Semua yang kita jalani di dunia adalah takdir Allah. Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa… agar ia seindah ridha-Nya.”
Tasya Alhaira Putri
~RTD~
Tok… tok… tok…
“Assalamu’alaikum, le… nduk…”
Langkah Gus Al terhenti seketika.
Ning Tasya menoleh. Degup di dadanya mengencang.
“Maaf, gus. Saya izin buka pintu dulu,” ucapnya lembut.
Gus Al hanya mengangguk. Ia kembali duduk di sofa, membuka kitab seolah tak ada apa-apa yang baru saja hampir terucap… lalu terputus.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Umma. Sebentar,” kata Ning Tasya sambil menuju pintu.
Ceklek.
“Ada apa, Umma?” tanyanya sembari mencium punggung tangan mertuanya.
Beliau Nyai Fatimah—ibunda Gus Al. Sosok teduh dengan wajah keibuan yang selalu berbinar bila menatap menantunya.
“Ada temanmu dari Kairo, nduk. udah datang, dari tadi. Kasihan, jauh-jauh ke sini. temui dulu guh. Nanti Al biar Umma yang bicara.”
Ning Tasya terdiam sesaat. “Astagfirullah… iya, Umma. Matur nuwun.”
“Iya, sana temui dulu. Biar Umma yang mengurus nanti,” ujar sang Nyai tersenyum hangat.
Ning Tasya menunduk hormat. “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Sya.”
Ia memang kerap dipanggil "Sya" oleh keluarga dan orang-orang yang lebih tua—potongan lembut dari namanya.
Langkah Ning Tasya berbelok menuju ruang tamu pesantren.
Dan di sanalah…
Tiga wajah yang tak asing.
Tiga nama yang lama terpendam dalam rindunya.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucapnya pelan.
“Tasyaa?!”
Ketiganya berdiri serempak.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!”
Tanpa aba-aba, mereka memeluk Ning Tasya erat. Seolah ingin menebus rindu yang tak sempat terucap bertahun-tahun.
“Apa kabar, Tas?” tanya Bela, suaranya parau.
“Alhamdulillah, baik,” jawab Ning Tasya dengan mata berkaca. “Kalian? Aku kangen banget loh…”
“Alhamdulillah, baik juga,” ujar Putri.
“Aish. Kamu seenaknya aja pulang duluan ke Indonesia,” protes Aisyah. “kita sampe nggak sempat pamit!”
“Dan pas kami ke sini…” Bela menyikut lengan Ning Tasya kecil. “…kamu sudah jadi istri orang!”
Mereka tertawa.
Namun tawa Ning Tasya terasa tertahan.
“Udah, duduk dulu.”
Mereka duduk melingkar di sofa.
“Eh, tapi aku heran deh,” ucap Ning tasya. “kalian kan nggak bilang kalau udah di Indonesia, aku juga nggak bilang kalo tinggal di pesantren ini.”
Putri terkekeh. “Kami aslinya dateng ke Umma dulu, eh malah dapat kejutan… kalo kamu di sini.”
Ning Tasya tersenyum kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rembulan Terbelah Dua {Ning Tasya}
Spiritual(PROSES REVISI) ''Allah tak pernah mengambil cintanya... Dia hanya memindahkannya ke tempat yang lebih aman'' Terpaksa menikah karena permintaan terakhir sang abi mungkin masih bisa di terima oleh para wanita, tapi bilang di poligami tidak ada satu...
