RTD 8

9.4K 368 9
                                        

“Jangan pernah merasa dirimu paling terluka,
sebab di atas awan… masih ada awan lainnya.”
Tasya Alhaira Putri

~RTD~

Ruangan itu mendadak hening ketika Gus Al menatap Tasya.

“Ning… maafkan aku.
Maafkan aku yang selalu melukai hatimu…” ucapnya lirih, nyaris bergetar.

Tasya tersenyum, senyum yang terlalu tenang untuk seorang yang remuk.

“Tidak apa-apa, Gus.
Mungkin memang ini takdirku.”
ucapnya dengan Suara yang lembut, tapi kehilangan cahayanya

Al menelan ludah, tampak gelisah. “Ning… bolehkah aku meminta sesuatu darimu?”

Tasya mengangguk. “Nggih, Gus. Silakan.”

“Mulai sekarang, bisa jangan panggil aku 'Gus'. tapi panggil aku, 'Mas'”

Tasya terdiam sejenak.
Seolah hatinya berhenti berdetak.

“Nggih, Gus…
eh… maksudku… Mas.” ucap Tasya kaku

Senyum kecil muncul di bibir Gus Al. Tanpa bisa menahan diri, ia langsung menarik Tasya ke dalam dekapannya, hangat, erat, seolah ia takut kehilangan lagi.

Namun detik berikutnya—

“Nak Al! Apa-apaan kamu ini?” suara itu menggelegar.

Dan Monika - orang tua citra, langsung menunjuk Tasya.

“Jadi kamu… kamu mengkhianati anak saya begitu, hah?!” ucap monika menggebu

Tasya menunduk.

Diam.

Tidak membela diri.

Seperti biasa.

Namun kali ini — Gus Al tidak tinggal diam.

“Cukup!” ucap Gus Al menggema, penuh emosi.

“Jangan menuduhnya!
Dia adalah, istri pertama saya. Saya tidak mau menikah dengan Citra, kalian yang memaksa!
Dan sekarang… kalian menyakiti Tasya lagi?!”

Ruangan terdiam.
Ridwan dan Monika terbelalak, seolah baru disadarkan oleh tamparan kenyataan.

“Sudah, Mas… sabar…" ucap Tasya mencoba menenangkan.

“Saya ndak papa…” lanjutnya yang justru kata-kata itu membuat semua orang semakin terpukul.

“Ma–maafkan Om dan Tante, Tasya…” ucap Monika bergetar, “Kami… kami salah menilai…”

“Iya, Tasya… maafkan kami,” timpal ridwan

Tasya tersenyum.
Lembut. Seperti biasa.

“Tidak apa-apa, Om, Tante. Saya maklum kok”

Mereka hanya bisa tersenyum — malu sekaligus terharu dengan kebesaran hati Tasya.

Tidak lama ketiga temannya kembali menghampiri mereka dengan gurat wajah yang berbeda-beda. Tidak ada yang buka suara semuanya saling mengamati dalam diam, sampai tiba akhirnya aisyah yang memulai duluan.

“Udah selesai bicaranya, sya? kalo udah pulang yuk, Aku ditanyain nih sama bunda.” ucap aisyah

“Iya, yuk. Aku juga masih harus pergi lagi” timpal Putri.

“Kalo gitu, kami pulang dulu ya,
Om, Tante… Mas…” ucap Tasya

Tatapan Tasya sempat bertemu dengan tatapan Gus Al yang membalasnya dengan senyum kecil — penuh arti.

Monika mengangguk. "Makasih yah, kalian udah mau jenguk citra, hati-hati dijalan”

Bela mengangguk, " Sama-sama tante, kalo gitu kami pamit dulu, assalamu'alaikum"

"assalamu'alaikum"

"Waalaikumsalam"

~RTD~

langkah kaki keempatnya terayun lembut meninggalkan koridor ruangan citra.

“Maaf… boleh saya bicara dengan Tasya sebentar?” pinta Al, menghampiri mereka

Tasya, Putri, Bela, dan Aisyah menghentikan langkahnya. Keempatnya saling pandang satu sama lain sebelum akhirnya membalikan badan.

Bela mengangguk. “Oke, ayo guys… kita ke parkiran duluan,” ucap Bela sambil menarik tangan kedua temannya yang lain untuk pergi menjauh

"Kita tunggu ya, sya" ucap aisyah sebelum benar benar pergi

Begitu mereka tidak terlihat lagi, suasana berubah hening. Al berdiri di hadapan Tasya, ragu, namun ingin bicara.

Lirih ia memanggil…

“Humairoh…”

Panggilan yang dulu sempat menjadi panggilan impian Tasya.
impian yang sempat tidak terujut.
Dan kini… mengguncang hatinya.

~RTD~

“Di balik kesusahan… 
pasti ada kebahagiaan menunggu. 
Meski kecil, ia tetap cahaya.”
Alif Al Fatih

Rembulan Terbelah Dua {Ning Tasya}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang