“Ya Rabb… benarkah fakta ini?
Sahabatku… dan Temanku… memiliki suami yang sama?”
Aisyah Mecca Firli
~RTD~
Aisyah berdiri seakan hendak mengatakan sesuatu.
“Loh, Gus Al… bukankah Gus itu—”
Namun ucapannya terpotong.
Tatapan Gus Al mengeras.
Hatinya bergemuruh.
"Aisyah…?", "Dia sahabat Ning Tasya…?" gumamnya dalam hati
Ia menelan ludah. “Ning… saya pamit ke luar dulu.”
“Nggih,” jawab Ning Tasya lembut, lalu mencium punggung tangan suaminya dan mengantar sampai halaman ndalem.
Mobil Gus Al melaju meninggalkan pesantren.
Dan Ning Tasya kembali ke dalam ndalem…
melanjutkan tawa yang tak tahu sedang menyimpan luka.
~RTD~
“Sya, tadi itu siapa?” tanya Aisyah hati-hati.
“Suamiku, Ais. Kenapa?” jawab Tasya polos.
“Ha?” Aisyah tersedak.
Lalu tertawa kecil yang terkesan dipaksakan.
“Oh… eh… nggak, cuma nanya aja.”
Ning Tasya menatap mereka baik-baik.
“Kalian sudah makan belum?”
“Udah,” jawab mereka serempak.
Tawa kembali pecah.
Namun hanya tiga tawa yang tulus.
Yang satu… suara yang berusaha tidak runtuh.
~RTD~
Ketika siang makin condong…
“Ya sudah, Sya, kami pulang dulu ya?” ucap Aisyah.
“Iya. Kapan-kapan main lagi,” timpal Putri.
“Bye, Sya. Jangan kangen,” canda Bela.
“Yang ada kamu yang kangen aku,” sahut Tasya kecil.
Mereka pamit.
Mobil menjauh.
Dan Ning Tasya masuk ke ndalem…
tak tahu badai sedang menjemput pelan-pelan.
~RTD~
Di mobilnya, Gus Al mencengkeram setir.
Dadanya sesak.
Jika ini terbuka sekarang…
ia tahu, ada satu hal yang pasti:
Ia akan kehilangan.
“Aku belum siap…
aku nggak mau Tasya tahu sekarang…”
Chat Masuk — Aisyah
Assalamu’alaikum, Gus.
Bisa minta waktunya sebentar?
Balasan — Gus Al
KAMU SEDANG MEMBACA
Rembulan Terbelah Dua {Ning Tasya}
Spiritual(PROSES REVISI) ''Allah tak pernah mengambil cintanya... Dia hanya memindahkannya ke tempat yang lebih aman'' Terpaksa menikah karena permintaan terakhir sang abi mungkin masih bisa di terima oleh para wanita, tapi bilang di poligami tidak ada satu...
