RTD 64

1.1K 37 5
                                        

Gerbang pesantren telah tertutup sempurna.

Langit gelap sepenuhnya, hanya menyisakan bulan yang tergantung pucat di antara awan tipis. Malam terasa hening, namun pikiran Ning Tasya justru semakin riuh.

Ia berdiri beberapa saat di teras, memandangi jalan yang perlahan sepi, sebelum akhirnya melangkah masuk kembali.

Di dalam, Ahrem sudah tertidur pulas di sudut ruang tamu. Mobil-mobilannya masih tergeletak berserakan.
Syaqila tertidur dengan pipi tertekan bantal, balonnya terikat di jemari kecilnya.
Syaqil tidur menyamping, menghadap dinding, tangan kecilnya berada di bawah dagu.

Ning Tasya tersenyum samar.

Anak-anak selalu menjadi rumah paling sederhana… sekaligus paling sempurna.

Ia menggendong memunguti mainan, menata satu per satu ke dalam keranjang kecil, lalu mematikan lampu ruang tamu perlahan.

Kakinya melangkah menuju kamarnya.

Namun saat hendak membuka pintu…

Ia berhenti.

Matanya menangkap sesuatu di lantai.

Sebuah kotak kecil berwarna cokelat muda.
Tidak ada nama pengirim.
Tidak juga tulisan apa pun.

Hanya seikat pita kusam.

Ning Tasya mengernyit, lalu berjongkok dan mengangkat kotak itu.

Perlahan, ia membuka.

Isinya sederhana.

Sekotak kurma mini.
Dan sebuah buku kecil berwarna hijau tua.

Kitab dzikir.

Ia membuka halaman pertamanya.

Tulisan tangan rapi tertera:

“Tak semua yang hadir membawa masa depan.
Tapi semua yang Allah kirim… membawa penguatan.”

Ning Tasya menahan napas.

Tulisan ini…

Ia tahu.

Entah kenapa, tangannya sedikit bergetar.

Ia memejamkan mata sejenak.

Bukan karena cinta.

Tapi karena ketenangan yang tak pernah ia minta… malah datang menyapanya.

~RTD~

Malam itu Ning Tasya shalat lebih lama dari biasanya.

Ia duduk di atas sajadah usai salam, membiarkan air matanya jatuh, bukan dalam isak, bukan juga dalam pilu.

Melainkan… lelah.

“Ya Allah…
aku tidak lagi meminta masa lalu kembali.
Aku hanya memohon…
jangan Engkau biarkan aku kembali pada diriku yang dahulu.”

Ia menunduk.

“Aku ingin pulang…
bukan ke seseorang…
tapi kepada-Mu.”

~RTD~

Keesokan pagi.

Pesantren kembali hidup dengan suara santri dan aroma sarapan.

Syaqila menjadi yang paling ribut.

“Ammaahhh!
Qila mimpi dikejar kambing gede banget!”

Ning Tasya terkekeh.
“Kambingnya kenapa kejar kamu?”

“Karena Qila makan rumputnya!”

Syaqil ikut menyahut datar. “Kamu pemakan segalanya, Qila.”

Ahrem yang duduk di pojok sambil mengikat tali sepatu ikut nimbrung.

Rembulan Terbelah Dua {Ning Tasya}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang