"Masa indah akan datang
bila kita menjalani ujian itu
dengan ikhlas dan sabar."
Tasya Alhaira Putri
~RTD~
Tasya menapakkan kakinya perlahan menuju ndalem pesantren. Langkahnya pelan, seakan setiap meter yang ia tempuh membawa ribuan kenangan yang ia coba rapikan dalam diam.
Sesampainya di depan ndalem, ia menarik napas panjang lalu mengetuk pelan.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…”
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh—ya Allah, nduk… pulang juga kamu,” sambut Umma sambil berdiri.
“Iya, Umma. Umma sehat?” Ucap Tasya mencium punggung tangan Umma penuh takzim.
“Alhamdulillah sehat. Umma kangen kamu, nduk…”
“Sya juga kangen Umma,” ucap Tasya, memeluknya erat—pelukan rumah yang selama ini ia rindukan.
“Duduk dulu, nduk.”
Abi muncul dari dalam sambil membawa buku tafsirnya. “Sopo sing teko, Ma?”
“Tasya, Bi. Baru pulang dari rumah Nak Risyat.”
“Oalah, kamu toh nduk… tak kira sopo.” Abi tersenyum kecil. Tasya segera mencium tangannya.
“Gimana kabar Nak Risyat lan keluargane, Sya?”
“Alhamdulillah baik, Bi. Oiya… mereka titip salam untuk Umma dan Abi.”
“Wa’alaikumsalam,” ujar Umma.
Tapi tiba-tiba wajah Umma berubah penasaran. “Kemarin kamu ke rumah Nak Risyat kok gak bilang-bilang? Ada apa toh, nduk?”
Tasya sempat terdiam sepersekian detik.
“Ndak ada apa-apa, Umma… Sya cuma pengen main aja.”
Umma mengangguk, tapi sorot matanya seakan tahu ada yang Tasya sembunyikan. Namun ia tidak memaksa.
Mereka bertiga berbincang lama—panjang, lebar, bahkan mungkin sampai luas seperti candaan mereka. Hingga waktu hampir bergeser ke sore, suara salam terdengar dari luar.
“Assalamu’alaikum, Umma, Abi… Sopo toh sing teko? Sampe Al ucap salam kok ndak ono sing jawab.” ucap Al dari depan pintu utama
“Wa’alaikumsalam,” jawab mereka serempak.
“Tasya le…” jawab Umma sambil tersenyum.
Gus Al menatap Tasya, ada sesuatu yang sulit dijelaskan di matanya—rindu? canggung? penyesalan? Atau semua jadi satu?
“Humai… kapan pulang? Kok ndak kabarin? Kan bisa Al jemput,” katanya pelan.
“Dari siang, Mas. Ndak papa… jenengan kan sibuk,” jawab Tasya sopan.
“Yo wes… makan wae sek,” ujar Umma.
Mereka makan bersama. Tak ada suara, tapi keheningan itu hangat. Setelah selesai, Abi bersuara.
“Kalian bersih bersih gih. Habis itu kita ke masjid bareng.”
"Nggih, Bi."
Mereka mandi bergantian. Lalu bersama menuju masjid untuk shalat Maghrib. Seusai shalat, keempatnya duduk di gazebo belakang, angin sore membelai lembut.
“Tasya, Al…” Umma membuka suara. “Kalian ndak ada niat bulan madu? Umma iki pengen gendong cucu…”
Uhuk!
Kalimat itu membuat Tasya tersentak. Matanya membesar refleks.
“Eng—”
Belum sempat menjawab, Al memotong.
“Nanti, Ma. Tunggu Al ndak sibuk. Al lagi ada client dari luar kota.” ucapnya sopan
“Yo sempetno waktu toh, Al…”
Tasya hanya diam. Tatapannya menerawang jauh.
Bulan madu?
Cucu?
Bagaimana mungkin sedangkan hatinya saja belum sepenuhnya sembuh.
Tak lama, adzan Isya terdengar. Mereka shalat bersama di gazebo, tak berpindah ke mushola—biar hangat, kata Umma.
Selesai doa, Umma menepuk lutut.
“Kalian istirahat gih… wis bengi.”
“Nggih, Ma,” jawab Tasya.
“Ayo, Dek. Assalamu’alaikum,” pamit Gus Al.
“Wa’alaikumsalam…”
Mereka masuk kamar masing-masing.
Tasya membuka pintu kamar pelan.
Ceklek
“Humairo, besok kita keliling kota mau?” tanya Gus Al sambil duduk di sofa
Tasya mengangguk, “Iya, Mas.”
“Yo wes. Tidur sek. Biar sholat malamnya ndak telat.” ucap Al tersenyum hangat
“Iya, Mas.”
Hening mengisi ruangan itu.
Gus Al rebahan di sofa, Tasya di kasur. Dua dunia yang hanya dipisahkan jarak beberapa meter… tapi hatinya masih seperti ada dinding tinggi.
“Mas…” panggil Tasya lirih.
“Dalem.”
“Mm… Mas tidur di kasur aja. Ndak papa.”
Gus Al menoleh cepat. “Bener, Mai?”
“Iya, Mas.”
Senyum kecil muncul di wajah Gus Al. “Matur nuwun, Humairo-nya Mas.”
Ia bangkit, berjalan mendekat, lalu berbaring di sisi kasur.
“Mas taro guling di tengah ya. Mas tau kamu belum terbiasa…” ucap Al dengan tangan yang sibuk memindahkan guling
Tasya menatapnya sebentar—mata yang lelah tetapi lembut.
“Makasih ya, Mas… udah ngerti sya.”
“Iya. Sama-sama. Wes… tidur. Selamat malam.”
“Selamat malam, Mas.”
Malam itu mereka tidur bersebelahan—tanpa bersentuhan, tanpa kata-kata.
Tapi untuk pertama kalinya, jarak di antara mereka tidak lagi terasa menyakitkan… hanya menunggu waktu untuk mencair.
~RTD~
"Terima kasih ya Rabb,
Engkau telah memberi hamba rahmat
yang lebih banyak dari yang hamba minta."
Alif Al Fatih
KAMU SEDANG MEMBACA
Rembulan Terbelah Dua {Ning Tasya}
Spiritualité(PROSES REVISI) ''Allah tak pernah mengambil cintanya... Dia hanya memindahkannya ke tempat yang lebih aman'' Terpaksa menikah karena permintaan terakhir sang abi mungkin masih bisa di terima oleh para wanita, tapi bilang di poligami tidak ada satu...
