RTD 13

7.7K 271 5
                                        

"Semoga semua berjalan lancar
Tanpa ada kendala ya Allah."
Alif Al Fatih

~RTD~

Setelah berganti pakaian, aku keluar menemui Citra. Gadis itu sudah berdiri di depan pintu kamar, senyumnya lembut namun matanya sembab—entah karena lelah atau terlalu banyak memikirkan sesuatu.

“Ayok, Mas. Kamu pasti lapar,” ucapnya pelan.

Aku mengangguk. “Iya, ayo.”

Sepanjang jalan menuju restoran, hatiku rasanya seperti ditarik dua arah—antara janji yang harus aku tepati, dan luka yang mungkin akan terbuka kembali. Hari ini aku harus bicara. Tidak boleh ditunda lagi. Tidak boleh ada kebohongan yang dibiarkan tumbuh.

~RTD~

“Turun, Cit. Sudah sampai,” ucapku ketika mobil berhenti.

Kami masuk dan duduk di sudut paling ujung—tempat yang biasa kupilih ketika harus membicarakan sesuatu yang berat. Citra menaruh ponselnya, menatapku dengan senyum kecil yang membuat dadaku sesak.

“Aku pesen nasi goreng ayam dan lemon tea ya, Mas,” katanya.

Aku memanggil pelayan, memesan makanan, lalu menunggu bersama keheningan yang anehnya terasa panjang sekali. Ketika makanan datang, kami makan sambil berbicara hal-hal ringan… tapi pikiranku tidak di situ.

Waktu terasa berjalan lambat.

Aku tahu setelah ini semuanya akan berubah.

~RTD~

Di waktu yang sama, Tasya baru pulang dari mengajar. Sapu tangan kecilnya masih basah oleh keringat, wajahnya lelah namun matanya tetap lembut seperti biasa.

“Assalamu’alaikum,” sapanya.

“Wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh,” jawab umma dan abi hampir bersamaan.

“Baru pulang, nduk?” tanya Abi.

“Nggih, Bi.”

Umma menatap sekeliling. “Sya… Al mana? Kok dari tadi Umma gak lihat?”

Tasya menarik napas pelan. Detik itu saja sudah terasa berat.

“Umma… Abi… sebenarnya Sya ada yang mau disampaikan.”

Abi langsung berdiri. “Ayo masuk dalam, nduk. Ngomong di ruang keluarga.”

Mereka duduk. Tasya menunduk lama sekali, jarinya menggenggam ujung jilbabnya. Suaranya bergetar saat akhirnya ia bicara.

“Mas Al… ke rumah Citra, Umma.”

Umma mengerutkan dahi. “Citra? Temanmu yang di rumah sakit itu? Kenapa Al ke sana?”

Tasya menelan ludah.

“Sebab… Citra juga istri Mas Al, Umma.”

Hening.

Hening yang sangat panjang, nyaris memecahkan dada.

Abi sampai merapatkan tangan ke lututnya, wajahnya terlihat jelas ada gurat amarah disana. suara napas Umma tercekat.

“Maksudmu apa, nduk?” tanya Abi perlahan, wajahnya seperti tak percaya.

Tasya menguatkan diri. Dengan suara lirih ia menceritakan semua—pernikahan yang dipaksa, posisi Citra sebagai yang kedua, dan bagaimana ia sendiri baru mengetahui semuanya saat kejadian di rumah sakit.

Ketika cerita itu selesai, Umma memejamkan mata sembari menahan tangis.

“Maafkan Al ya, nduk…” suara Umma pecah dalam sedu, “umma merasa gagal jadi ibu…”

Tasya langsung memeluknya.

“Tidak, Umma… ini takdir. Mas Al tidak salah. Sya… hanya sedang belajar mengikhlaskan.”

“Namun apa kamu sudah benar-benar siap dengan ini semua, Sya?” tanya Abi dengan mata berkaca-kaca.

Tasya menggeleng. “Belum, Bi… tapi Sya sedang berusaha.”

Abi mengangguk pelan, suaranya bergetar menahan emosi.
“Abi bangga padamu, nduk. Kalau kamu sedih… jangan pendam sendiri. Ada kami.”

Tasya tersenyum tipis, meski air matanya jatuh juga.

“Maturnuwun, Bi… Umma…”

~RTD~

Setelah makan, aku membawa Citra ke taman kota. Udara senja menyapu lembut, tapi dadaku rasanya sesak luar biasa.

“Duduk sini, Cit,” ucapku.

Ia duduk pelan. Rambutnya tertiup angin, wajahnya tampak tenang—sampai akhirnya aku mulai bicara.

“Cit… Mas mau jelasin soal yang pernah mas bilang ke kamu di rumah sakit.”

Ia menatapku, menunggu.

Aku menceritakan semuanya. Tanpa menambah, tanpa mengurangi. Tentang Tasya. Tentang statusnya. Tentang bagaimana seharusnya sejak awal Citra tahu, tapi aku kalah oleh keadaan dan waktu.

Citra terdiam. Sangat lama. Lalu perlahan bibirnya bergetar.

“Jadi tasya… teman aku sendiri… benar itu istri Mas juga?” suaranya pecah.

Aku mengangguk.

Citra menutup mulutnya, menahan isak. “Ya Allah… kenapa jadi seperti ini mas? kenapa harus dia? kenapa kamu nggak pernah bilang dari awal?”

“Dia tidak salah apa-apa, Cit,” ucapku. “Semua ini salah Mas. Karena Mas terlalu takut melukai.”

Citra mengusap matanya kasar. Antara sedih… dan ada sekelibat cemburu yang tak bisa ia sembunyikan.

“Besok… tasya ngajak kita ke mall,” ucapku perlahan. “Dia ingin kita bisa saling mengerti.”

Citra menatapku lama. “Iya… besok kita ketemu dia.”

Aku mengangguk. Matanya masih sembab, tapi ia berusaha tegar.

“Sekarang… kita keliling taman dulu ya, Mas? Aku masih pengen disini” katanya memaksakan senyum.

Kami berjalan menyusuri taman kota, sama seperti dulu… hanya saja hari ini, ada sesuatu yang berubah.

Sesuatu yang tidak bisa kembali seperti sebelumnya.

~RTD~
"Kenapa ini semua harus terjadi ya Allah…
Apa salahku?"
Bunga Citra Kamira
~~

Rembulan Terbelah Dua {Ning Tasya}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang