RTD 6

10.2K 377 6
                                        

“Dengan melihatmu tersenyum dan tertawa lagi… 
mas sudah cukup bahagia, dek. 
Semoga setelah ini, tak ada lagi yang berani menyakitimu.”
Risyat Fatah Ramadhan

~RTD~

Langkah Tasya terhenti tepat di depan pintu ruang tamu.
Tawa kecil mas dan mbanya menyambutnya — hangat, sederhana… namun membuat dadanya terasa sesak.
Sesak karena ia tahu, kebahagiaan seperti itu belum tentu ia dapatkan di rumah suaminya.

“Aee… baper ciee, ciee… inget udah ada anak ya!” ledek Tasya, menutupi gejolak hatinya dengan candaan.

“Bilang aja kalo iri, dek,” jawab Risyat sambil nyengir.

“Mas, jangan gitu…” Sisil menahan pipinya yang memerah.

Tasya tertawa — padahal hatinya tidak ikut tertawa.

“Oh iya mba, mas… aku mau izin pergi sama Aisyah, Bela, dan Putri,” ucap Tasya akhirnya.

“Iya, dek. Tapi kamu tetap harus izin ke Al.
Apa pun yang terjadi, dia masih suamimu,” kata Sisil, lembut namun tegas.

Kata 'suami' membuat jantung Tasya berhenti sejenak.
Bayangan luka, air mata, dan malam-malam yang tidak pernah membiarkannya tidur kembali menghampiri.

“Tetep izin, Sya.
Mas masih kesel sama dia… tapi kamu harus tetap menjaga adab pernikahanmu,” sambung Risyat, kali ini lebih serius.

“SIAP BU DAN PAK KOMANDAN!” seru Tasya — lagi-lagi menutupi gemuruh hatinya dengan tawa.

Mas dan mbanya hanya memasang senyum kecil… seolah tahu, tapi memilih tidak menyinggung luka itu.

~RTD~

Tangan kirinya bergetar.
Bukan karena takut, tapi karena ingatan-ingatan yang kembali menamparnya.

"Kalau aku izin… apa dia akan marah?"
"Apa dia akan menyalahkanku lagi?"
"Atau… apa dia akan diam seperti kemarin?"

Keraguan itu menekan dadanya.

Tapi ia tetap mengetik.

Assalamu’alaikum gus… maaf mengganggu.
Saya ingin izin pergi bersama teman-teman.
Apakah gus mengizinkan?

Jantungnya memukul-mukul, menunggu balasan.
Setiap detik terasa seperti hukuman.

Lalu notifikasi muncul.

Wa’alaikumsalam warohmatullohi wabarokatu, ning.
Iya, aku izinkan.
Hati-hati di jalan ya… zaujatiku.

Zaujatiku.

Satu kata itu saja cukup membuat pertahanan Tasya runtuh.
Ia menutup mulutnya, menahan napas yang bergetar.

"Ternyata, satu kalimat lembut darimu masih sanggup mengacaukan hatiku…"

“Syaaa! Temenmu sudah dateng!” teriak Risyat.

Tasya menoleh ke arah pintu, seraya meletakan handphone ke atas nakas. “Iya mas, ini mau turun!” balas Tasya, buru-buru menyeka sudut matanya sebelum turun.

Ia berjalan ke teras dan melihat ketiga sahabatnya berdiri di sana dengan wajah cerah, seolah menjadi cahaya yang ia butuhkan.

“Assalamu’alaikum ukhtyyyyku!” sapanya.

“Wa’alaikumsalam!” jawab mereka serempak

"Langsung jalan?" Tanya bela

Tasya mengangguk. "Iya langsung aja, yuk"

"Yuk"

~RTD~


Selama perjalanan, bahkan setelah mengeliling mall pun perjalanan keempatnya di hiasi oleh canda dan tawa namun retakan masih ada dalam hati tasya. Dan, retakan itu semakin terasa ketika akhirnya ia hanya berdua dengan Aisyah di meja makan.

“Ais… aku mau nanya,” suara Tasya terdengar pelan, tapi berat.

Aisyah mengangguk. “Nanya apa, Sya?”

“Kemarin… kamu jenguk Citra?” tanya Tasya menatap lekat kedua mata aisyah

Aisyah membeku.

Tasya menatap lurus, matanya tenang tapi kosong.

“Kamu tau dia sudah menikah.
Dan kamu tau siapa suaminya?”
tanya Tasya dengan suara yang seperti menahan badai.

“Sya… maaf,” ucap aisyah menggigit bibirnya.l

“Aku baru tau pas ketemu dia di rumahmu. aku… nggak tau kalau itu suamimu. aku mau kasih tau kamu, tapi dia, dia melarangku. Katanya takut nyakitin kamu.”

Tasya menutup mata sebentar.
Sakit. Tapi ia sudah terlalu terbiasa dengan rasa itu.

“Aku nggak marah, Ais,” ucap Tasya, “Sakit itu sudah datang bahkan sebelum kamu cerita.”

Aisyah menatapnya lemah. “Maafin aku, Sya…”

Tasya tersenyum, senyum yang lebih mirip retakan halus di bibirnya.

“Aku sudah maafin kamu bahkan sebelum kamu minta.” ucap Tasya tulus

Saat itulah Bela dan Putri kembali dengan gaduh seperti biasa… membawa sedikit kehangatan yang memecah kesedihan mereka.

Namun hati Tasya sudah terlanjur jatuh terlalu dalam.

Saat mereka selesai makan dan memutuskan menjenguk Citra…

Ada sesuatu yang berubah di mata Tasya.

Ketegasan.
Keberanian.
Dan luka yang siap ia hadapi.

~RTD~

“Bersyukurlah… 
karena masih bisa tersenyum 
meski hatimu sudah berkali-kali dihancurkan.”
Tasya Alhaira Putri

Rembulan Terbelah Dua {Ning Tasya}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang