Aku senang…
Semua akhirnya berubah menjadi kebahagiaan.
Tasya Alhaira Putri
~RTD~
“Humairo, pulang ya ke rumah. Umma nyariin kamu,” ujar Al pelan.
“Maaf, Mas. Hari ini aku ke rumah Mas Risyat dulu. Mungkin besok baru aku pulang, ya,” jawab Tasya lembut.
“Ya sudah, tidak apa-apa,” balas Al.
“Kalau begitu, aku pamit dulu ya, Mas. Kasihan yang lain nunggu. Assalamu’alaikum.” ucap Tasya seraya mencium tangan Al sebelum pergi.
“Wa’alaikumsalam, Humai. Hati-hati ya,” ucap Al, menatapnya dengan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan.
Hari ini… adalah hari paling bahagia untuk Tasya.
Untuk pertama kalinya, sang suami - Al 'menganggapnya'.
~RTD~
“Sa, kamu sakit ya?” tanya Aisyah tiba-tiba.
“Ha? Nggak kok. Kenapa?” Tanya Tasya bingung.
“Lah itu… kamu senyum-senyum sendiri,” jawab Aisyah.
Tasya langsung menahan wajahnya yang memanas.
“Hahaha iya nih, Sa. Kayaknya ada yang salah,” ucap Bela ikut menggoda.
“Hahaha, iya,” tambah Putri.
“E-enggak kok, lagian kalian tau dari mana aku senyum? ” ucap Tasya makin malu.
“Mata kamu tuh nggak bisa bohong tau. ah… pasti gara-gara tadi ya?” ujar Bela menahan tawa.
“Tadi apa sih, Bel?” tanya Tasya pura-pura tak tahu.
“Ketemu suami tercintaaaa~,” goda Putri keras-keras.
Tasya langsung menunduk, wajahnya merona.
“Oh iya, kamu kan belum cerita soal yang tadi di rumah sakit, kita bilng tau, aneh banget” ucap Bela
Akhirnya Tasya menceritakan semuanya—mulai dari omongan Al, kebenaran tentang pernikahannya, hingga bagaimana orang tua Citra meminta maaf padanya.
“Sya… sabar ya,” ucap Bela memegang bahunya.
Putri mengangguk, “Iya, kamu kuat kok. Kita yakin kamu bisa,” ucap Putri menimpali.
“Iya Sya, kalau ada apa-apa cerita ke kita ya. Kita siap dengerin kok,” tambah Aisyah.
“Betul tuh,” ucap Bela seraya mengangguk.
“Setuo—eh, setuju,” ucap Putri ikut-ikutan seraya terkekeh
Tasya tertawa kecil, “Asiap,” jawab Tasya sambil tersenyum.
Setelah perjalanan panjang, mereka akhirnya sampai rumah masing-masing.
~RTD~
“Assalamu’alaikum, Mas, Mbak yang Tasya sayangi,” sapa Tasya ketika masuk.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Sya,” jawab Risyat dan Sisil bersamaan.
“Baru pulang, Dek? Makan dulu gih,” ujar Sisil.
“Iya, Mbak. Baru pulang. Tadi udah makan. Sya ke kamar dulu ya, mau ganti baju. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam,” jawab keduanya.
Usai berganti baju dan istirahat sebentar, Tasya turun ke ruang keluarga.
“Mbak, Mas… Sya mau ngomong,” ucapnya hati-hati.
“Loh itu kamu lagi ngomong, Dek,” jawab Risyat sambil menahan tawa.
“Ih Mas! Sya serius! Masa Mas nggak ngerti sih?” ucap Tasya kesal.
“Mas jangan godain mulu adekmu. Sini Sya duduk sebelah Mbak,” ujar Sisil sambil menepuk sisi sebelahnua
“Iya, Mbak.”
“Hahaha, iya iya. Sini duduk,” Risyat akhirnya serius dengan tawa yang belum berhenti
“Mbak, Mas… maaf ya. Sya sudah bikin kalian repot. Sya juga jadi ganggu waktu kalian bertiga,” ucap Tasya lirih.
“Iya nih, kamu Sya. Mas jadi nggak bisa berduaan sama Mbakmu…” ujar Risyat—lalu cepat-cepat menambahkan, “Hahaha, bercanda!”
“Mas ini lho, kalau lagi serius jangan bercanda mulu,” ucap Sisil menggeleng.
“Iya, Sya. Kamu nggak ganggu kok. Justru Mbak senang ada kamu di sini,” tambah Sisil lembut.
“Iya. Lagi pula, kamu Sya ngomongnya begitu ke siapa aja sih coba?” Risyat menggoda lagi.
“Ya ke orang paling ganteng lah,” jawab Tasya cepat.
“NAH! Itu maksud Mas!” seru Risyat bangga.
“Nah, kamu bercanda juga kan! Giliran Mas diomelin,” ucap Risyat protes.
“Biarin sih, Mas,” ucap Tasya menjulurkan lidah.
“Udah, lanjut Sya,” ucap Risyat tertawa.
“Jadi, Sya… kamu mau ngomong apa sih sebenarnya?” tanya Sisil.
“Jadi Mbak… Sya mau….”
~RTD~
Kakak adalah pelindung,
tempat pulang, dan tempat bercerita—
bagi adik kandung maupun adik iparnya.
Sisil Rahmania
KAMU SEDANG MEMBACA
Rembulan Terbelah Dua {Ning Tasya}
Spirituale(PROSES REVISI) ''Allah tak pernah mengambil cintanya... Dia hanya memindahkannya ke tempat yang lebih aman'' Terpaksa menikah karena permintaan terakhir sang abi mungkin masih bisa di terima oleh para wanita, tapi bilang di poligami tidak ada satu...
