Mobil Aisyah melaju pelan meninggalkan area mall.
Suasana di dalam mobil tak seramai tadi.
Bela duduk di depan bersama Putri seperti biasa, masih sibuk berceloteh tentang sepatu yang gagal dibeli.
Namun di kursi belakang...
Aisyah sibuk memperhatikan seseorang yang setia duduk di sampingnya. Tidak ada gerakan, tidak juga ada ucapannya, hanya tatapan yang senantiasa melihat. Disana, Ning Tasya justru diam.
Wajahnya menghadap kaca. Kedua tangannya tergenggam erat diatas pangkuannya, memilin pelan jari jari cantik yang hanya tersemat satu perhiasan cantik disana. Cincin nikah.
Langit Yogyakarta sore itu tidak memancarkan sinar matahari, tapi juga tidak hujan, hanya mendung, seolah ikut mewakili pikirannya.
"Sya..." panggil aisyah menyentuh tangannya pelan.
"Kamu beneran nggak apa-apa?" Tanya penuh kehati-hatian
Ning Tasya tersenyum tipis. "Iya... aku baik-baik aja."
Padahal...
Dadanya berdebar.
Takut.
Gelisah.
Dan... terluka.
Nama itu kembali terucap, 'Citra'. Perempuan yang pernah menjadi alasannya belajar, tersenyum, bahkan tertawa. Tapi kini, perempuan itu yang justru menjadi alasan sakitnya.
"Sebentar lagi sampai," ucap Aisyah pelan.
Tasya menarik napas dalam, lalu mengangguk kecil. "Bismillah..." ucapnya lirih
~RTD~
Gedung Rumah Sakit Cempaka berdiri sunyi.
Lorongnya panjang.
Putih.
Dan dingin.
Keempat sahabat itu melangkah bersama menuju kamar rawat inap Citra.
Namun semakin dekat, langkah Ning Tasya semakin melambat.
Ning Tasya menyentuh lengan aisyah. "Ais..."
bisiknya.
"Kalau aku nggak kuat..." ucap ning Tasya tertahan
"Pegang aku ya." lanjutnya menatap penuh mohon pada aisyah
Aisyah tersenyum seraya menepuk pelan tangan ning Tasya, seperti menyalurkan kekuatan. mengangguk.
Selalu.
Tok...
Putri mengetuk pintu.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
Suara itu...
Lirih.
Dan asing.
Ceklek.
Pintu dibuka.
Di dalam...
Citra menatap kedatangan mereka dengan posisi setengah berbaring di ranjang, wajahnya pucat, selang infus menempel di tangan kirinya.
Saat pandangannya terangkat...
Seketika wajahnya berubah.
"Tasya..." lirihnya
Nama itu keluar dari bibir Citra...
Seperti doa, atau mungkin...
penyesalan.
Ning Tasya berdiri kaku.
Wajahnya menyimpan senyum.
Namun matanya, Basah.
"Assalamu'alaikum," ucap ning Tasya lembut.
Citra menelan ludah. "Wa'alaikumsalam..." ucap citra lirih dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kamu... baik-baik aja?" tanya Citra hati-hati.
Pertanyaan sederhana yang biasa diucapkan oleh seseorang yang sudah lama tidak bertemu, namun kali ini, pertanyaan itu justru terasa seperti pisau yang menusuk. Perih.
Ning Tasya mengangguk. "Alhamdulillah."
Hening.
Mereka saling menatap.
Dua perempuan, satu laki-laki, dan satu luka.
Bela dan Putri saling pandang, tidak ada yang berani untuk mulai bicara lebih dulu. Sedangkan, Aisyah menggenggam tangan Tasya lebih erat.
"Maafin aku, Sya..." ucap citra dengan air mata yang mulai jatuh.
"Tolong... maafin aku..."
Ning Tasya menggeleng pelan. Lidahnya keluh hanya untuk sekedar mengiyakan ucapan tersebut.
Ning Tasya memejamkan matanya sesaat. "Seharusnya aku tidak membencimu" ucap ning Tasya menatap citra lekat, "Tapi... aku belum bisa memaafkan."
"Setidaknya... belum hari ini." lanjutnya sembari membuang pandangan
Suara itu tenang.
Namun menusuk.
Ning Tasya menghela nafas pelan, untuk mengatur ulang intonasinya. "Aku datang bukan buat bertanya, atau mengungkit. Aku kemari, hanya karena kamu sakit."
Citra menangis dalam diam. Tak ada jawaban yang diberikannya. ruangan yang seharusnya terasa diingin berubah menjadi pengap dan panas.
"Semoga kamu cepat sembuh," lanjut ning Tasya.
Ucapan itu, tulus. Sangat tulus, meski hatinya remuk.
Ning Tasya melangkah mundur, diam sejenak di tempatnya. Lalu membalikkan badan, memperhatikan ketiga temannya secara bergantian.
"Ayo... pulang." ucap ning Tasya seraya melangkah meninggalkan ruangan itu dengan mantap
Ia tak mau menangis di hadapannya. Namun, di luar kamar, tangannya gemetar.
"Sya..." ucap putri lirih
Bela bergerak lebih dulu untuk memeluk ning Tasya lalu disusul oleh kedua temannya yang lain.
Hancur.
Namun... tegar.
~RTD~
"Tidak semua luka butuh balasan"
Tasya Alhaira Putri
KAMU SEDANG MEMBACA
Rembulan Terbelah Dua {Ning Tasya}
Spiritual(PROSES REVISI) ''Allah tak pernah mengambil cintanya... Dia hanya memindahkannya ke tempat yang lebih aman'' Terpaksa menikah karena permintaan terakhir sang abi mungkin masih bisa di terima oleh para wanita, tapi bilang di poligami tidak ada satu...
