Hppy Reading♡
Kalau ada orang yang berkunjung ke rumah Rafka sudah pasti mereka akan berpikir kalau ini adalah gudang, buku berserakan dimana-mana dan kresek. Bahkan kertas yang sudah usang juga bertebaran di lantai.
"Akta kelahiran gue dimana sih." geram Rafka sudah mencari dan membongkar isi lemari, Rafka akan mengikuti turnamen basket tingkat provinsi hanya saja persyaratannya dalam mengumpulkan berkas harus ada fc akta kelahiran 3 rangkap.
"dimana sih ya allah, udah 1 jam gue bongkar ini lemari." Seandainya ada seseorang yang bisa Rafka tempati bertanya tapi di rumah ini hanya dia seorang diri.
Kamar Bunda.
Kenapa Rafka sampai lupa untuk mencarinya di kamar bundanya, pasti Bundanya menyimpan barang itu disana.
"Assalamualaikum."
Rafka sebenarnya tidak kuat untuk masuk ke dalam kamar ini karena bau dari kamar ini selalu mengingatkan nya dengan almarhumah bundanya dan itu membuat Rafka langsung menangis.
"Nah ketemu."
Rafka mengambil map biru itu lalu mencari akta kelahirannya.
"Syukurlah ada."
Tapi tunggu dulu,
Rafka Maulana Adhijaya
Kenapa nama Rafka di akta kelahiran beda dengan yang selama ini dia tau. Rafka memang belum ngurus KTP dan SIM, tapi di kartu pelajar Rafka tertera namanya yaitu Rafka Maulana Adhi.
Ingatan itu terlintas, Rafka teringat apa yang bosnya katakan soal sahabat bosnya yaitu Pak Adhi.
"Dulu itu nama Adhi, Adhijaya. Hanya saja waktu di brunei Adhi mengganti namanya menjadi Adhipura. Gak tau juga kenapa dia ganti nama."
Adhijaya, Adhipura.
Adhi juga sempat cerita kepada Kevin dan saat itu Rafka tanpa sengaja mendengar percakapan mereka kalau katanya Adhi mempunyai seorang putra dari pernikahannya sebelum menikah dengan Diana.
"Apa mungkin? Gak mungkin juga sih, bodo amat gue soal ayah. Mau dia meninggal atau nggak itu urusan belakangan. Yang penting sekarang gue harus lengkapi berkas ini secepat-cepatnya." ucap Rafka lalu mengambil helm dan kunci motornya untuk ke toko fotocopy.
Untungnya masih ada tempat fotocopy yang buka, salahkan Rafka yang memilih untuk keluar padahal sudah hampir jam 12 malam.
"Kok masih buka kak?" tanya Rafka basa basi.
"Saya tadi sudah mau beberes tapi kamu langsung dateng." nyesek nggak tuh.
Tak lama setelah itu Rafka sudah selesai dengan urusannya, sudah waktunya dia untuk pulang.
"Kunci motor gue mana sih." Rafka ngedumel sendiri mencari dimana kunci motornya dia simpan, berkas yang sudah dia fotocopy jadi acak-acakan karena panik.
"Nah ketemu."
Brukkk
Karena terlalu senang, Rafka malah nabrak seseorang. "Maafkan saya Pak, saya tadi gak sengaja." Berkasnya jadi bertebaran di trotoar.
"Rafka?" panggil orang itu.
Tepat saat Rafka mendongak ternyata ada Adhi dan Sam. Ini sudah yang kedua kalinya Rafka menabrak Direktur sekaligus sahabat bosnya, sial terus nasibnya.
"Mari saya bantu." Adhi berjongkok untuk membantu Rafka memungut barangnya yang berjatuhan, namun Adhi malah salfok dengan tulisan yang ada pada berkas itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Butuh Rumah
Fiksyen PeminatSekumpulan remaja berproses menjadi dewasa di tengah kenyataan hidup yang tak ramah. Mereka ditampar oleh realita, dipaksa tumbuh dalam luka yang bahkan belum sempat mereka pahami. Bagi mereka, rumah bukanlah tempat berlindung yang dinantikan setela...
