❗DISCLAIMER❗
Dalam cerita Aku Butuh Rumah di sini aku sama sekali tidak fokus kepada 1 tokoh, tapi semuanya terlibat. Karena Rafka sudah menemukan rumahnya, begitupun dengan Andika. Maka kita akan fokus ke yang lain.
[SELAMAT MEMBACA]
Ada pepatah mengatakan "Apa yang tersembunyi dalam gelap, suatu saat akan tersorot cahaya."
Lalu bagaimana dengan hubungan Aura dan Nichol? Terungkap? Pasti akan terungkap tapi belum waktunya saja.
Salah satu teman kelas Aura sering melihat Aura masuk ke ruang dosen saat kelas berakhir. Tapi dia hanya mengira itu urusan nilai-atau laporan. Maklum, Aura memang dikenal sebagai asisten dosen yang rajin. Tak ada yang aneh, Jadi ia sama sekali tidak merasakan hal yang janggal.
Tapi, Aura pernah dilihat oleh dosen pembimbingnya. Aura dilihat sedang masuk ke dalam mobil Pak Nichol, padahal mereka pikir ini sudah tempat yang bagus untuk bertemu secara diam-diam tapi tetap saja tertangkap basah.
"Aura, ibu boleh nanya sesuatu ke kamu?" Tanya dospem Aura, untungnya dosen ini baik hati dan pembawaan nya tenang.
"Boleh, Bu. Silakan."
Sang dosen menarik napas pelan sebelum bicara, "Maaf kalau ibu terlihat mencampuri, ya... Ibu hanya khawatir. Apalagi kamu ini pintar, punya masa depan yang bagus. Jangan sampai hanya karena satu kesalahan kecil, kamu malah masuk ke lubang yang dalam."
Detak jantung Aura mulai tak teratur. Ujung jarinya terasa dingin, tapi ia berusaha menjaga raut wajahnya tetap netral.
"Ibu lihat kemarin... kamu masuk ke mobil Pak Nichol." Hal yang selama ini Aura takutkan terjadi juga, tapi dospem nya hanya bertanya. Bukan menuduh atau mengetahui hubungannya.
Aura tercekat.
Ini dia. Hal yang selama ini ditakutkan. Tapi sang dosen tidak menuduh. Tidak menghakimi. Ia hanya bertanya. Aura masih punya ruang untuk bernapas.
Aura berusaha tenang, mengatur nafasnya. "Oh... itu..."
"Kebetulan saya mau ke rumah Om saya, dan ternyata Pak Nichol itu sahabat lamanya. Om saya minta tolong ke Pak Nichol untuk nganterin saya ke rumahnya. Ibu bisa tanya kalau tidak percaya... saya juga awalnya kaget." Apa ini bisa di terima? Semoga saja, akal sehatnya sudah mulai kalut.
Sang dosen mengangguk pelan. Tidak langsung menjawab, hanya menatap Aura sejenak. Lalu berkata, "Ya sudah, jaga dirimu baik-baik ya, Aura. Apapun yang sedang kamu jalani... pikirkan baik-baik dampaknya. Ibu percaya kamu tahu apa yang kamu lakukan." Akhirnya Aura bisa bernapas lega, tapi tangannya tak berhenti gemetar karena takut.
"Kalau begitu saya permisi dulu bu,"
Saat ingin keluar dari ruangan, dospem Aura memanggilnya lalu berkata, "Kadang, yang pintar pun bisa jatuh saat merasa paling aman." Akhirnya diiringi dengan senyum hangat tapi bagi Aura, senyum itu lebih terlihat seperti senyum mematikan.
Malamnya, Aura kembali mendatangi apartemen Nichol. Ini memang sudah biasa bagi Aura karena Nichol sendiri yang meminta, kadang saat malam Minggu Aura tidak pulang. Dia akan tinggal seharian hingga malam datang kembali.
"Mas..." Lirih Aura memandangi Nichol yang tengah sibuk dengan laptopnya.
"Iya sayang." Jawab Nichol tenang tapi matanya tak lepas dari layar laptop.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Butuh Rumah
FanfictionSekumpulan remaja berproses menjadi dewasa di tengah kenyataan hidup yang tak ramah. Mereka ditampar oleh realita, dipaksa tumbuh dalam luka yang bahkan belum sempat mereka pahami. Bagi mereka, rumah bukanlah tempat berlindung yang dinantikan setela...
