Aura telah menjadi mahasiswa hukum. Syukurlah dia bisa kuliah di jurusan impiannya sejak SMP. Itu semua juga karena dia mendapatkan beasiswa dari kampus, kecerdasan nya di waktu SMA terbayarkan di bangku kuliah sekarang.
Hari ini, Aura dan Keysa akan bertemu. Keduanya memang akrab hanya saja Aura dulu lebih sering menghabiskan waktunya bersama Saras. Mereka memilih cafe untuk dijadikan tempat bertemu nanti. Keysa mau bertemu dengan Aura di jam 10 malam dekat Supermarket tempat kerjanya. Shift malamnya akan berakhir di jam itu juga.
Jam 10 malam pun telah tiba, Aura lebih dulu sampai di tempat janjian mereka. Tak lama setelah itu Keysa juga sudah tiba.
"Maaf yah telat, nih gue bawa cemilan." Ucap Keysa duduk di depan Aura. Sepertinya yang membuat Keysa telat karena dia ganti baju dulu, mungkin dia malu atau tidak nyaman dengan seragamnya. Ntahlah bodo amat.
"Santai aja, ini juga gue baru 10 menit. Gimana kerja di sana? Nyaman?"
Keysa lalu tertawa hambar, "Kalau bicara soal nyaman, tidak. Tapi cukuplah untuk bisa gue makan dan keperluan sehari-hari."
Aura lalu berkata, "Lah? Bukannya kalau gak nyaman malah buat orang tertekan? Awas loh, batin lu jadi tersiksa."
"Sejauh ini, Kenyamanan bukan alasan gue untuk cari kerja. Gue kerja karena kebutuhan dan kewajiban." Jawaban Keysa membuat Aura bungkam. Aura hanya sangat menyayangkan nasib Keysa, padahal Keysa berpotensi bisa dapat beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Apalagi dia merupakan Juara Umum 1 waktu kelulusan dengan nilai menghampiri sempurna. Sangat di sayangkan dia tidak bisa menikmati kesempatan itu.
"Lo sendiri gimana? Anak IPA tiba-tiba jadi mahasiswa hukum. Gak salah lu?"
Aura lalu terkekeh, "Sebenarnya gue juga salah sih, padahal dari SMP gue emang udah ngincar hukum tapi karena dulu Rafka ambil IPA jadi gue ikut deh."
Keduanya lalu melanjutkan bercerita, Ntah itu membahas nostalgia masa SMA atau kehidupan mereka yang di lalui sekarang.
"Key, gue mau minta pendapat lo aja nih ya. Seandainya saja lo tiba-tiba nemuin cowok yang perhatian banget terus kayak figur ayah lo sendiri, lo bakal gimana? Dari dulu kan lo gak pernah rasain gimana kehangatan seorang ayah tapi lo tiba-tiba nemu cowok yang seolah ngingetin lo tentang ayah lo." Ucap Aura iseng bertanya.
Keysa mulai berpikir lalu berkata, "Gue benci ayah gue Ra, kalau lo mau tau. Jadi kalau gue nemu cowok mirip ayah gue maka gue bakal benci cowok gue itu juga. Karena Ayah gue jahat, otomatis cowok itu juga pasti jahat." Jawab Keysa membuat senyum Aura sirna, Aura tidak tahu kalau ternyata Ayah Keysa jahat.
"Aduh sorry banget Key, gue sumpah gak tau."
"Kenapa? Lo nemu cowok, ya? Bukan Rafka lagi kan?" Ucap Keysa mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau Aura malah fokus ke dirinya.
Aura malah senyum sendiri, "Iya, gue tiba-tiba nemu cowok yang baik banget di kampus. Dari kecil kan gue gak pernah ngerasain gimana kalau punya ayah, nah si cowok ini tiba-tiba datang terus gue seolah bertemu ayah gue."
"Pacarin aja Key. Kalau dia baik dan perhatian, udah cocok banget tuh jadi pacar lo."
Padahal Keysa tidak tahu aja kalau cowok yang di maksud Aura itu,
....
°•°•°•°
Menjadi mahasiswa asing di negara orang adalah hal yang awalnya Yuda dan Yuna takut kan saat pertama kali menginjakkan kaki di Singapore. Apalagi ini bukan kemauan mereka berdua. Ini semua juga hanyalah kemauan Papanya, lagi pula tidak ada gunanya menentang karena Yudi adalah tipikal orang berpendirian tinggi. Pokoknya kalau A, selamanya harus A.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Butuh Rumah
Fan-FictionSekumpulan remaja berproses menjadi dewasa di tengah kenyataan hidup yang tak ramah. Mereka ditampar oleh realita, dipaksa tumbuh dalam luka yang bahkan belum sempat mereka pahami. Bagi mereka, rumah bukanlah tempat berlindung yang dinantikan setela...
