43 - Perkampungan Geo

20 3 0
                                        

Perceraian, pengkhianat, dan kesepian.

Seolah semuanya telah merenggut jiwa Geo. Dirinya yang dulu selalu ceria telah menghilang ditelan kesepian.

Rafka mendapatkan pesan dari Zeyyan, katanya Geo sudah 2 minggu tidak masuk kuliah. Geo juga tiba-tiba menghilang tanpa kabar, dan sialnya hanya Zeyyan yang menyadarinya. Bahkan kedua orangtuanya tidak ada yang mencari keberadaan Geo.

"Geo emang udah lama putus hubungan sama Papa Mamanya, Geo pernah ngomong ke gue katanya dia pernah bertengkar sama Papanya terus di usir dari rumah. Kalau Mamanya, mereka udah lama tidak saling contact karena Geo nggak mau ganggu kebahagiaan Mamanya dengan keluarga barunya." Itulah penjelasan dari Zeyyan waktu telponan dengan Rafka.

Bagaimanapun, Geo adalah teman Rafka. Bahkan Rafka sudah menganggap Geo seperti saudaranya sendiri.

Zeyyan
Jln. Cendana Blok C, rumah nomor 7 warna coklat. Ini alamat dari salah satu teman kelasnya, katanya Geo sering tinggal di sini.

Menempuh perjalanan selama 45 menit membuat Rafka merasa aneh, seolah Geo sedang mengasingkan diri. Ini lumayan jauh dari pusat kota, lorongnya juga sangat kumuh.
Begitu memasuki lorongnya, kebanyakan laki-laki kurus dan pucat. Tampang mereka seperti mati tidak mau, hidup juga tidak mau.

Rafka juga tadi sempatkan membeli makanan untuk Geo, "Sampai juga akhirnya." Ucap Rafka menghentikan motornya di depan rumah Geo, setidaknya motor Geo menjadi patokan Rafka, kalau saja motor itu tidak ada terparkir, mungkin dia masih keliling kesana kemari karena banyak rumah warna cokelat lainnya.

Tok Tok Tok!

"GEO!"

"Ge, ini gue Afka!"

"Ge, ayo ketemu! Gue kangen banget sama lo sobat."

"GEO! GEO!"

Tidak ada jawaban dari dalam rumah. Malah tetangga Geo yang keluar, perempuan dengan pakaian minim muncul dari rumah sebelah. "Orangnya lagi keluar, Mas. Gue tadi sempet liat dia jalan ke arah sana. Mas tunggu aja, nggak lama lagi pasti bakal pulang. Biasanya kalau jam segini suka keluar beli minum." Jelas perempuan tersebut. Rafka merasa janggal dengan daerah ini, tadi pas masuk lorong juga banyak laki-laki dengan penampilan memprihatinkan, sekarang malah perempuan berpenampilan minim yang dia lihat.

"Temennya, Mas?" Tanya perempuan itu penasaran, Rafka hanya mengangguk sambil tersenyum ramah agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. 

Perempuan itu berjalan ke dekat Rafka, "Mas, saya nggak bakal macam-macam ke mas. Saya juga tahu diri kali." ia menjedah kalimatnya. "Mas, kalau boleh saya saranin ya. Mas gak usah berteman sama orang daerah sini. Apalagi disini orang-orangnya gak ada yang waras. Mas tau kan apa julukan perkampungan ini?" Rafka langsung menggeleng. 

"Perkampungan Narkoba."

Rafka mematung setelah mendengar kalimat perempuan tersebut, Kampung Narkoba? Tunggu. Bisa saja kan hanya nama kampungnya yang narkoba, tapi bukan berarti warga setempat memakai narkoba. Iya, kan?

"Oh. Jadi nama kampung ini perkampungan narkoba, gitu, mbak?" Ucap Rafka tidak mau berburuk sangka. Perempuan tersebut malah tertawa atas ucapan Rafka,

"Lo ini bodoh? Tolol? Atau goblok, sih? Udah jelas kampung ini dijuluki perkampungan narkoba karena disini para pengedar narkoba hidup, di sini semua mereka sembunyi dari kejaran polisi. Tolol!" Akhir perempuan itu lalu kembali masuk ke dalam kosannya.

"Jadi, Geo pake narkoba?" Ungkap Rafka pada dirinya sendiri. Tapi, nggak mungkin Geo sebodoh itu untuk menyentuh obat-obatan terlarang itu.

Namun, ada kemungkinan jika Geo memang menyentuh obat-obatan itu. Sudah beberapa minggu tiba-tiba ia menghilang, nomornya susah dihubungi, bahkan ia juga menjauh dari kehidupan yang biasa ia jalani. Tidak masuk kuliah, menjauh dari sahabatnya, bahkan putus hubungan dengan keluarganya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 01 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Aku Butuh RumahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang