39 - Aku belum pulang

43 7 1
                                        

"LO APAIN NYOKAP GUE SETAN?!" Pukulan dari Andika menjadi sambutan untuk Rafka, pukulan Andika tepat mengenai pipinya hingga darah segar keluar dari sana.

"Anjing? Lo apa apaan malah mukul gue?" Ucap Rafka tidak terima atas perlakuan Andika.

Saat ini, mereka sedang berada di rumah sakit.

"Rafka." Panggil seseorang dari belakang, ternyata Papanya. "Kenapa istri saya bisa seperti ini? Kamu apakan dia?"

Bahkan Papanya seolah menuduh Rafka penyebab kecelakaan ini.

"Sial! Kalian berdua dengar! Tadi ada pengendara motor rem nya blonk, terus dia mau nabrak gue. Istri anda tiba-tiba mendorong saya, dan bodohnya malah dia yang tertabrak. Padahal gue juga gak minta untuk di selamatkan." Jelas Rafka membuat Andika semakin emosi.

"EH SETAN! SEHARUSNYA LO BERSYUKUR KARENA MAMA GUE RELA NABRAKIN DIRINYA DEMI LO! BUKAN MALAH LO KATAIN DIA BODOH!" Teriak Andika dengan penuh amarah.

"Andika sudah nak, ingat ini rumah sakit. Kamu gak boleh teriak teriak begitu seenaknya." Ucap Adhi menenangkan putranya.

Rafka lalu berbalik, sekarang keluarga ini sudah berkumpul. Seharusnya dia pulang.

"Afka!"

"Apalagi? Anda mau marah marah lagi karena saya malah membuat istri anda berakhir seperti ini?" Emosi Rafka benar-benar sudah di ujung tanduk, apalagi tadi lutut dan pelipisnya terhantam batu.

"Terimakasih nak." Ucap Adhi, "Terimakasih karena sudah peduli ke istri saya. Kamu tidak membiarkan istri saya sendirian di sini. Pasti Diana akan bangga sama kamu."

Apa ini? Kenapa Papanya malah berterimakasih? Seharusnya Papanya mengamuk karena kecerobohannya.

Pughh

Adhi lalu memeluk Rafka, sebuah pelukan yang begitu hangat dan tulus, seolah ingin menebus waktu yang hilang. Rafka bisa merasakannya, setiap detak jantung, setiap getar rindu yang tak pernah terucap. Perlahan, ia membalas pelukan itu, meremas kemeja Papanya sekuat perasaannya yang selama ini dipendam.

Air mata pun jatuh di antara mereka. Pelukan ini adalah pelukan yang seharusnya terjadi sejak awal, saat pertama kali mereka bertemu. Namun kini, meski terlambat, pelukan itu terasa seperti rumah yang akhirnya ditemukan.

"Kamu ke dokter yah, nak. Obatin luka kamu, biar Papa temenin." Sial, ini bahkan lebih menyakitkan dari pada luka yang hadir di tubuh Rafka. "Tidak usah, aku bisa sendiri."

Adhi merogoh saku celananya, mengeluarkan dompetnya. "Ini Papa ada uang, bisa kamu pakai beli obat dan makanan. Tadi Papa udah telpon bos kamu, katanya biarkan kamu cuti dulu 3 hari."

Perhatian dari Papanya membuat hati kecil Rafka meringis, sudah lama dia menantikan nya. Tapi ego dan sakit hati Rafka terus membuat dirinya menolak apa yang Papanya berikan.

"Pulang yah nak, dan terima uang ini. Papa akan menghubungi kamu kalau Diana sudah sadar. Papa yakin, pasti dia akan khawatir dan nyariin kamu."

Apa Diana betul-betul sudah menganggap dirinya sebagai putranya? Apa artinya Rafka akan segera merasakan kasih sayang seorang ibu? Ntahlah, mungkin itu semua hanya mimpi belaka.

°•°•°•°

Keesokan harinya, Diana telah sadar.

"Gimana keadaan Mama? Ada yang sakit?" Ucap Andika penuh khawatir. Diana hanya menggelengkan kepala.

"Mas..."

Adhi bergegas mendekati istrinya, "Apa sayang? Mau aku panggilkan dokter?"

"Rafka mana? Dia baik-baik aja kan?"

Aku Butuh RumahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang