42 - Takdir menyakitkan

47 1 0
                                        

Happy Reading

Bayangkan... seseorang yang selama ini kalian jaga dengan sepenuh hati, yang kalian rawat, kalian cintai, dan kalian doakan setiap hari... tiba-tiba hancur. Bagaimana perasaan kalian? Sakit? Tidak. Kata sakit bahkan mungkin sudah tidak layak untuk menggambarkannya. Rasanya seperti seluruh dunia runtuh dan merenggut segala yang berharga dalam hidup ini.

Dua hari terakhir, Danu hidup dalam kecemasan yang luar biasa. Putrinya, Dinda, sedang mengikuti study tour ke luar kota selama lima hari. Namun sudah dua hari ini, tidak ada satu pun pesan atau telepon dari Dinda yang masuk. Nomornya tidak pernah aktif, dan setiap kali Danu mencoba menghubungi dosen pendamping atau teman-teman Dinda, jawaban yang ia dapat selalu sama, tidak tahu.

"Kira-kira Dinda kenapa, yah? Aku khawatir sekali, sayang..." ucap Danu lirih pada istrinya, Nia, yang sejak tadi duduk di sampingnya di ruang tamu.

Sudah entah berapa kali Nia berusaha menenangkan suaminya, namun tetap saja rasa cemas itu tak hilang.

"Kamu terlalu berlebihan, Mas," jawab Nia dengan suara lembut. "Bisa saja tempat yang Dinda kunjungi tidak ada jaringan. Atau mungkin HP-nya kehabisan baterai. Kita doakan saja semoga besok Dinda pulang dengan selamat, ya? Dinda itu sudah dewasa, Mas. Dia pasti bisa jaga diri."

Danu mengangguk pelan, meski jelas sekali dia tidak benar-benar tenang. Malam itu mereka tidur lebih awal, tapi lelaki itu sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Hatinya gelisah, perasaannya perih, seolah ada sesuatu yang buruk akan terjadi, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Keesokan harinya.

Pagi-pagi sekali, Danu sudah bertanya kepada orang tua teman-teman Dinda. Menurut kabar yang ia dapat, rombongan mahasiswa akan tiba di kampus pada sore hari. Begitu mendengar itu, Danu langsung bersiap, lalu mengeluarkan motor scoopy miliknya. Dengan kecepatan sedang namun penuh harap, ia melaju menuju kampus Dinda.

Sesampainya di sana, suasana tampak ramai. Banyak mahasiswa lalu-lalang, sebagian membawa koper, sebagian duduk-duduk sambil menunggu jemputan. Beberapa orang tua berdiri berkerumun, menantikan dengan antusias anak mereka turun dari bus.

Di antara kerumunan itu, Danu melihat Pak Wahyu dan Bu Husna-orang tua Jihan, sahabat dekat Dinda di kampus. Danu cukup akrab dengan mereka karena Dinda sering berkunjung dan menginap di rumah Jihan. Setiap kali itu terjadi, Danu selalu membekalinya hasil panen dari kebunnya.

"Wih, Pak Danu sudah datang juga ternyata," sapa Wahyu sambil mendekat.

"Iya, Pak. Sudah nggak sabar nunggu anak gadis pulang," jawab Danu, mencoba tersenyum.

Mereka mengobrol sambil menunggu bus rombongan tiba. Sesekali Danu melontarkan candaan khas bapak-bapak, dan Wahyu tertawa karenanya. Nia pernah bilang bahwa Danu punya cara sendiri untuk menutupi rasa cemasnya yaitu dengan bercanda.

Tak lama, setelah sekitar sepuluh menit, bus tiba.

Danu langsung maju ke depan dengan langkah penuh semangat. Wajahnya berseri, senyumnya bahkan tidak pernah hilang sejak bus itu muncul di kejauhan.

"JIHAN!" teriak Wahyu saat putrinya turun dari bus.

Namun anehnya, Jihan terlihat murung. Ia menatap ke arah orang tuanya dengan mata sembap, seperti habis menangis.

"Hah, tumben mereka nggak bareng," gumam Husna heran.

Danu mulai merasa gelisah lagi. Saat sopir bus berkata semua mahasiswa sudah turun, Danu langsung menuju bus lain, takut kalau Dinda hanya berada di rombongan berbeda.

Di sisi lain, Wahyu bertanya pada putrinya, "Dinda nggak bareng kamu, Nak?"

Jihan menunduk.

Saat Danu kembali, ia langsung bertanya sambil terengah, "Nak Jihan, Om kok nggak lihat Dinda, ya? Kamu tahu Dinda naik bus yang mana, Nak?"

Aku Butuh RumahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang