30 - Pengungkapan

100 6 0
                                        

"Kamu yang sabar Key, Tante Ika udah bahagia di sana. Sekarang kamu cukup berdoa, agar Tante Ika bahagia punya putri yang baik seperti kamu." Ucap Naura yang mendampingi Keysa saat Ibunya telah dikuburkan. Hari ini, Kamis tanggal 21 November 2024, Bu Ika dikuburkan yang di hadiri oleh keluarga, tetangga beserta teman sekolah Keysa.

"Aku gagal Ra, seharusnya ibu aku tidak ada di sana. Ibu aku seharusnya sudah di rumah dengan keadaan sehat seperti dulu." Naura hanya bisa mengelus punggung Keysa tanpa berkutik, mau sebanyak apapun kata sabar yang dia keluarkan tentunya itu tidak akan berpengaruh.

Keluarga serta kerabat mulai meninggalkan perkuburan, hanya beberapa diantara mereka yang masih berada di tempat. Sebenarnya bukan teman sekolah Keysa saja yang datang, ada guru, staf dan kepala sekolah yang datang. Karena Keysa termasuk murid berprestasi dan banyak menyumbangkan piala jadi mereka berbelasungkawa untuk datang. Bahkan Adhi, selaku donatur sekolah juga datang.

Di sisi lain, ada Rafka yang sedang menatap makam bundanya. Tak jauh dari makam Ibu Keysa, senyum masam Rafka tampilkan saat menatap makam bundanya.

Tapi senyum itu mendadak hilang begitu dia memperhatikan Adhi juga menatap makam bundanya. Dia merasa sakit hati begitu Adhi menatapnya, rasanya itu tidak pantas.

Rafka berjalan mendatangi Adhi, "Permisi Pak, bapak sedang melihat apa yah?" Tanya Rafka sengaja memancing Adhi.

Adhi langsung menghentikan aktifitas menatap makam mantan istrinya, "Tidak, saya hanya menatap makam yang berjejeran. Siapa tau ada makam kerabat saya dekat sini."

Rafka lalu maju satu langkah untuk mendekati Adhi dan membisikkan sesuatu.

"Jangan pernah menatap makam Bunda saya dengan mata kotor anda itu, tatapan anda membuat Bunda saya menangis, dan jangan sesekali pun anda mengunjungi makam itu lagi atau saya akan membunuh istri anda." Ancam Rafka lalu pergi, meninggalkan yang lain tanpa berpamitan.

Andika sejak tadi memperhatikan tingkah Rafka hingga Rafka menghampiri Papanya, dia tidak menyangka kalau ternyata keduanya sedekat itu.

"Sejak kapan mereka kenal?" Batin Andika.

*****

"Diana, aku ingin ngomong sama kamu."

Suasana hening ruang tamu beralih menjadi tegang, Dika yang tengah asik main game dan Alin sedang mengerjakan tugas juga ikut menghentikan aktivitas nya mendengar ucapan Papanya.

Diana jadi memikirkan yang tidak-tidak. Apakah mungkin suaminya akan mengungkapkan bahwa dirinya selama ini sudah punya wanita lain? Atau mungkin dia ingin cerai? Ntah pikiran negatif apalagi yang bisa dia pikirkan.

"Bicaralah mas." Ucap Diana sudah siap mendengar kepahitan.

Adhi menarik nafas dalam-dalam, sudah 3 hari lamanya dia memikirkan hal tersebut. Dan memutuskan untuk mengungkapkan kepada keluarganya.

"Kamu tahu kan kalau sebelum kita menikah, aku waktu itu juga telah menikah dengan wanita lain."

Diana mengangguk.

"Sebenarnya, aku dengan mantan istriku itu telah mempunyai anak dari pernikahan kami."

Diana begitu terkejut mendengar ucapan Adhi. padahal sebelum mereka bertunangan, Adhi mengatakan kalau dia belum punya anak.

"Kenapa kamu bohong mas? Terus bagaimana dengan anak itu sekarang? Kamu pernah bilang kalau mantan istri mu itu telah meninggal." Tanya Diana diiringi nafas tak beraturan karena gemetar.

"Anak itu masih hidup, dia sehat, tumbuh menjadi anak yang baik."

"Mas sudah bertemu dengan nya?"

Adhi mengangguk, apa mungkin kalau dia menyebut nama anaknya akan membuat keadaan jadi rumit? Sudahlah, Adhi sudah siap menerima resiko dari kesalahannya di masa lalu.

Aku Butuh RumahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang