Sekumpulan remaja berproses menjadi dewasa di tengah kenyataan hidup yang tak ramah. Mereka ditampar oleh realita, dipaksa tumbuh dalam luka yang bahkan belum sempat mereka pahami.
Bagi mereka, rumah bukanlah tempat berlindung yang dinantikan setela...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
_____
Apa yang membuat seseorang selalu betah berada di rumah?
Rumah mewah? Tidak,
Masakan enak yang dibuatkan para pembantu? Hmm, di restoran mah juga banyak.
Terus apa?
"Coba aja Mama sama Papa nerima gue apa adanya, gak nuntut ini itu, gue pasti juga betah di rumah. Apalagi kan di rumah lebih dingin, disini mah panasnya buset." Dari tadi Yuda mengeluarkan begitu banyak kata sumpah serapah karena sudah begitu banyak nyamuk yang menggigitnya ditambah lagi hawa panas yang menyiksanya, dimana lagi kalau bukan rumah Rafka.
Saat ini mereka berencana belajar bersama di rumah Rafka, berbagai macam buku tryout untuk tes masuk PTN mereka bawa. Sedangkan Rafka sendiri sama sekali tidak mengeluarkan buku, sebab dia memang tidak ada niatan untuk kuliah. Uang dari mana coba untuk bisa kuliah?
"Buset, buku lo banyak banget. Itu buku atau kamus?" Tanya Geo membuka buku tryout yang dibawa oleh Zeyyan dari rumahnya.
Bukan Zeyyan yang membeli buku itu sebenarnya, ini adalah kerjaan kakaknya yang memaksa Mamanya agar membeli buku tryout untuk Zeyyan. Dengan harapan Zeyyan menghabiskan waktunya dengan belajar, mengerjakan semua soal-soal yang ada dalam buku itu.
"Taiklah, gue lebih milih lari keliling GBK sebanyak 7 kali dari pada ngerjain semua soal yang ada dalam buku ini." Ucap Zeyyan menempelkan kepalanya pada tumpukan buku yang dia bawa, ada 10 buku tryout UTBK bahkan ada yang dari luar negeri.
"Gak sopan banget lo bertiga, bisa-bisanya rumah gue yang lo tempati untuk belajar masuk PTN padahal kalian tau kalau gue gak daftar PTN." Semuanya langsung cengengesan mendengar perkataan Rafka.
Akhirnya Rafka juga tetap mengajari ketiga temannya, tak lupa mereka juga memesan makanan karena kalau otak bekerja terus-menerus maka perut juga akan ikut kosong. Menurut Geo.
"Eh btw, itu si Bara beneran udah baikan sama Naura?" Ucap Yuda mulai bosan mengerjakan semua soal di bukunya.
Geo pun menambahi, "Halah, dari dulu mereka berdua juga saling berharap. Cuman gengsi aja jadi mereka lama pisah, sampai Bara dengan tekad yang bulat mengajak Naura balikan." Kata Geo masih fokus dengan kalkulator nya.
Tuk!
"Ini kenapa 9x9 jadi 72? Seharusnya 9x8 baru 72, hitung ulang!" Rafka mengetuk kepala Geo menggunakan pulpen saat mengoreksi jawabannya, "Ah, ini gara-gara Yuda ngajak ngomong. gue jadi gak fokus tadi." Pinter banget nyari alasannya.
"Lo semua ada yang kenal Derron nggak? Anak MIPA 1, sekelasnya Aura." Kali ini Zeyyan yang bicara, Rafka hanya bisa geleng-geleng. Sebenarnya mereka mau belajar atau gosip? Seperti perempuan saja, tidak pernah ketinggalan gosip.
"Gue kenal." Jawab Rafka mulai memeriksa jawaban Yuda.
"Anjir cok! Gue pernah ketemu dia di club yang rame itu, dekat dari pusat kota. Wah Gila dia main cewek, gue liat dia merangkul 2 cewek." jelas Zeyyan terlihat sangat serius dari wajahnya.