Mungkin kalian akan menganggap Aura gila, atau kalian akan mengira kalau Aura telah menjual dirinya demi bisa bersama Duda itu.
Saat pertama kali membuka mata, Aura pikir tidak mungkin kamarnya berubah. Atau ini mimpi? Dia juga bisa mencium bau familiar di ruangan ini. Begitu kagetnya Aura ketika balik badan menampakkan punggung lelaki membelakanginya. Aura langsung menarik selimutnya, syukurlah dia masih memakai pakaian yang sama seperti semalam.
"Ini kan apartemen Mas Nichol."
Jijik? Mungkin, tapi sudahlah guys.
Hubungan antara Aura dan Nichol sudah berlangsung 1 bulan, awalnya Aura juga sedikit tidak nyaman tapi sikap Nichol meluluhkan hatinya. Dia benar-benar telah di butakan oleh cinta, kira kira jika kalian yang ada di posisi ini, apa yang akan kalian lakukan?
"Mas..." Panggil Aura, Nichol langsung berbalik hingga mempertemukan keduanya dengan jarak dekat.
Nichol gemas dengan wajah baru bangun tidur Aura, sangat di sayangkan dia tidak bisa menerkam nya. Emm- okay ini agak gila.
"Kenapa sayang?"
"Aku mau pulang, kamu kan harus ke kampus hari ini." Lirih Aura tidak berani menatap mata Nichol.
Nichol lalu melingkarkan lengannya pada pinggang Aura, menarik Aura lebih dekat dengannya. "Apa kamu lupa? Ini kan hari Minggu sayang."
"Ah, aku lupa. Tapi kayaknya aku harus pulang deh, Mas. Aku takut ada orang yang nemuin aku di apartemen kamu terus mereka laporin kita ke pihak kampus, sebenarnya aku juga selalu takut setelah kita bersama, aku takut tiba-tiba beasiswa ku dicabut sama pihak-"
Ciuman telah mendarat di bibir Aura, saat Aura berbicara tadi hanya bibirnya yang di perhatikan oleh Nichol. Ciuman itu membuat keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing, Aura sama sekali tidak memberikan penolakan.
Aura, sepertinya kamu telah membangun kehancuran dirimu sendiri.
Siang harinya, Aura baru pulang dari apartemen Nichol.
Namun, orang yang paling Aura hindari malah bertemu dengan dirinya saat ini.
"Aura?" Merasa namanya dipanggil, Aura berbalik melihat orang itu.
"A...afka?"
Untungnya Rafka tidak melihat Nichol, kalau saja Rafka melihat Nichol mungkin masalah akan semakin rumit.
"Lo ngapain di sini?" Tanya Rafka tatapan penuh intimidasi.
Aura mencoba untuk tenang, dia tidak boleh terlihat panik. "Aku tadi nginep sama teman kuliah aku, semalam kita ngerjain tugas kuliah bareng."
"Oh gitu, ini gue mau antar pesanan. Kapan-kapan datang ke tempat kerja gue, gue udah kangen sama lo tau." Setelah itu mereka berpisah karena Rafka tidak mau costumer nya menunggu lama.
Rafka lalu memencet bell dari kamar tersebut, hingga seseorang lelaki sedikit berumur muncul membuka pintu. "Terimakasih yah, ini saya ada tip buat kamu."
1 hal yang Rafka kaget kan, bukankah kamar ini tempat Aura keluar? Lelaki berumur? Ah, bisa saja kan itu ayah dari teman kuliah Aura.
"Bego! Aura kan cewek gentel,"
°•°•°•°
"Kok orang bisa yah, dengan mudah dapetin apa yang mereka mau. Sedangkan gue, harus berjuang mati-matian, itu juga belum tentu bisa gue dapat."
Waktu telah menunjukkan jam 1 dini hari, tapi manusia terlihat enggan berhenti sejenak untuk istirahat. Lalu lalang kendaraan di jalan raya masih padat, para pedagang masih sibuk dengan dagangan mereka, pengamen terlihat kebingungan harus kemana lagi untuk menghibur seseorang demi bisa mendapat uang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Butuh Rumah
FanfictionSekumpulan remaja berproses menjadi dewasa di tengah kenyataan hidup yang tak ramah. Mereka ditampar oleh realita, dipaksa tumbuh dalam luka yang bahkan belum sempat mereka pahami. Bagi mereka, rumah bukanlah tempat berlindung yang dinantikan setela...
