⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kami tiba di bandara terbesar di Indonesia. Aku, Aidan, Abel, dan mamanya Aidan. Supir keluarga Aidan membantu membawakan barang-barang mereka sehingga kami bisa duduk santai di kursi tunggu.
"Jaket itu." Aku menunjuk jaket yang Aidan gunakan. Jaket yang pernah aku hadiahkan padanya ketika dia berulang tahun yang ke-16, aku terkesan jaket itu masih dia pakai sampai sekarang.
"Wah, iya, Ra. Gue nggak bawa banyak baju soalnya. Nanti di Texas gue angkut semua deh bajunya. Iya nggak Ma?"
Mama Aidan tidak memperhatikan. Beliau sibuk mengurus sesuatu di ponselnya. "Apa, Nak? Maaf Mama lagi urus pekerjaan sebentar, ya."
Aidan mengedikkan bahu. Mamanya sudah kembali ke ponsel lagi. Tak lama kemudian dia mengangkat telepon dan harus meninggalkan kami sesaat.
Aku melirik Abel yang sedang berfoto selfie. Tangannya terjulur, mengarahkan kamera ke wajahnya sendiri. Aku bergabung beberapa saat kemudian, Aidan juga. Akhirnya kami berfoto bersama.
"Ih, jelek banget. Boleh ulang nggak?" Abel menarikku dan Aidan lagi. Kami berfoto entah berapa puluh kali.
"Gimana perasaan lo, Bel?" tanyaku. Abel mematikan ponsel. Matanya berbinar.
"Nggak sabar, Ra. Nggak sabar pengen bisa jalan lagi. Bosen banget gue pakai kursi roda mulu."
Aku bisa melihat rasa bosan itu. Abel beberapa kali berganti-ganti kursi roda sampai suatu ketika dia menyuruh dokter untuk mengganti kursi roda itu dengan tongkat. Namun Abel tidak bisa berjalan, jadi percuma saja.
"Seneng banget nanti pas pulang lo udah bisa lari dan peluk gue. Aaaa!" aku berseru gemas. Abel juga.
Tak lama kemudian, Mama Aidan datang dengan tiga tiket tercetak di tangannya. "Okey kids! Sudah waktunya bersiap-siap."
Itu adalah kode untukku agar segera pergi dari bandara. Aku tau, mereka hanya pergi selama beberapa hari atau mungkin minggu, tapi aku akan sangat kesepian tanpa mereka. Dan aku tidak siap untuk berpisah sekarang.
"Eh, Ra, boleh ngobrol sebentar nggak?" tanya Aidan. Abel menoleh ke arah kami. Wajahnya tampak bertanya-tanya. Aku juga. Tidak tau apa maksud Aidan mengajakku mengobrol padahal sejak tadi kami mengobrol.
"Boleh," sahutku, sedikit bingung. "Ngomong aja."
"Nggak di sini."
Aidan membuatku semakin penasaran. Aku hanya tidak ingin membuat Abel tak nyaman. Apa sesuatu yang ingin Aidan bicarakan adalah sesuatu yang seharusnya tidak Abel tau? Kalau iya, apa itu?