13

103 9 0
                                        

Happy reading ✨


" Eh eh Nat itu ada diskon sepuluh persen , ayokk kesana " ajak Lea antusias .

Mereka yang baru saja sampai , menatap datar Lea yang sudah berlari ke arah toko tersebut .

" Gue mau ke sana dulu ya Nat , Lo ikutin aja tuh si lele siapa tau dia ke sasar gara gara matanya pokus sama diskon " ujar Vanya lalu pergi begitu saja.

" Ck , sialan " umpatnya .

Lea yang masih antusias dengan perdiskonan nya , dan Vanya yang masih sibuk dengan pencarian Hoodie nya .

Sedangkan nata sendiri ia menatap was was ke arah pojok kiri yang berarah menuju toilet , di sana berdiri tiga orang lelaki dengan pakaian serba hitamnya .

Saat kakinya berbalik ia di kejutkan dengan sepuluh lelaki lagi dengan pakaian serba hitam pula .

Nata yang merasa ada yang tak beres pun segera berlari ke arah Lea dan langsung menariknya , lalu ia menyusul ke arah Vanya dan menariknya pula membuat mereka menggerutu dengan kesal .

" Kenapa sih Nat ??" Kesal Vanya padahal ia tadi sudah menemukan Hoodie yang ia inginkan .

" Tau gue baru aja mau ambil bajunya eh langsung di tarik " gerutu Lea .

Nata menghentikan langkahnya dan menatap mereka datar , ia kemudian mengarahkan dagunya ke belakang mereka .

Yang membuat mereka buru buru menoleh dan mengikuti arahan dagu nata tersebut , betapa terkejutnya mereka saat melihat banyak pria berpakaian hitam yang kini seperti menargetkan mereka .

Lea dan Vanya yang baru paham pun panik seketika , mereka tidak membawa senjata apa apa , sedangkan orang orang itu sudah di pastikan membawa senjata tajam .

Nata yang melihat kepanikan mereka berdua , langsung kembali melangkah ke arah motornya membuat mereka lagi lagi mengikutinya .

Tapi sebelum mereka menyentuh motornya sebuah pisau datang dari arah belakang membuat mereka dengan refleks menghindar dan menatap tajam pria berpakaian hitam tersebut .

" LO SIAPA ANJJ !" teriak Lea marah , hampir saja pisau itu menancap ke arah lengannya .

" Bunuh mereka " titah seseorang yang di yakini mereka ialah ketuanya .

Keadaan parkiran mall yang sepi membuat mereka bertambah was was , perlahan lahan tapi pasti , mereka mendekati motornya dan langsung dengan cepat menaikinya dan menjalankannya .

Tak peduli mereka memakai helm atau tidak , yang penting mereka ingin menghindarinya terlebih dahulu .

Di sini bukanlah tempat yang pas untuk pertumpahan darah , karena pasti ada yang menontonnya atau yang lebih parahnya lagi merekamnya yang nanti akan melibatkan kepolisian .

Setelah mereka merasakan jalanan yang mereka lewati sepi , akhirnya mereka menghentikan motornya dan lalu turun dari motornya .

" Ck sialan , lo pada di suruh pak tua itu kan ?" Decak nata menatap tajam mereka .

" Pak tua yang anda maksud itu tuan saya nona , anda tak berhak menghinanya " sargah ketua kelompok tersebut .

" Dih apa yang Lo pada mau ?" Ujar Vanya dengan tangan yang terlipat di dada .

" Mau bunuh kita ?" Tanya Lea yang di angguki mereka .

" Yakin bisa ?" Tanya nata meremehkan .

Bukannya mereka tak takut mati  , karena setiap manusia pasti sudah ada waktunya untuk mati , tapi mereka di sini hanya ingin terlihat tegar , supaya tidak lemah di hadapan musuh .

Padahal jantung mereka saat ini sedang bertalu talu , kalian bayangkan ketiga gadis yang tak membawa senjata melawan dua puluh pria kekar yang memegang senjata tajam .

Bukannya tidak mampu , sebenarnya mereka mampu jika mereka memegang senjata tapi sayangnya saat ini mereka harus menggunakan tangan kosong , seperti sekarang ini .

" LE AWAS DI BELAKANG DUA ORANG PAKE SENAPAN !" teriak Vanya yang masih fokus memukul tengkuk lawanya .

Sedangkan nata , setelah menghabisi lawannya ia mengambil senjatanya dan menembaki mereka dengan senjata yang ia dapatkan .

" Membunuh kalian dengan senjata teman  sendiri bukankah itu menyenangkan ?"batin nata menyeringai .

" Akan ku buat kalian mati " desis Lea saat merasa tubuhnya remuk karena banyak menerima hantaman dan goresan dari belati yang mereka pegang .

Sedangkan untuk pistol ia masih bisa menghindarinya , tapi sayangnya satu tembakan mengenai kakinya membuat ia menghela nafasnya menahan rasa sakit yang ia rasakan .

" MATI GAK LO ?!!! " Teriak Vanya bak kesetanan saat mereka berhasil menonjok wajahnya .

BUGHH

BUGHH

Srettt

Dorr

Dorr

Semua perkelahian ini terjadi begitu lama sampai mereka benar benar tepar di jalan , tak ada yang menang dan tak ada yang kalah .

Karena kedua nya sama sama terbaring tak berdaya di atas kasarnya aspal tersebut .

" Gue gak mau mati dulu , black girl nanti gak akan ada yang memimpin " gumam Lea lirih sembari menahan sakit di area kakinya yang terus mengeluarkan darahnya belum lagi bagian lainnya karena terdapat lebam dan goresan  .

" G-gue ngerasa gak kuat " lirih Vanya sembari menahan pandangannya yang semakin memberat itu agar tak tertutup .

" Y-yah nikmatin saja " gumam nata lalu tak sadarkan diri dengan darah yang  bersimbah di mana mana .

Entahlah ada orang atau tidak yang menemukan mereka semua di sini .

LEVANA [ END ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang