CERITA DAN HUJAN

114 12 2
                                        

SUARA rintikan air hujan mulai membasahi perkarangan rumah Azkia

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

SUARA rintikan air hujan mulai membasahi perkarangan rumah Azkia. Selang beberpa saat Azkia dan Cera sampai di rumah. Angin mulai terasa berhembus lebih kencang dari sebelumnya. Semakin terasa seakan ingin menusuk secara perlahan. Hujannya semakin terlihat deras, dengan diiringi pohon-pohon yang bergoyang. Waktu mulai menunjukan pukul 16.11. Teh manis hangat dan sepiring goreng pisang menjadi pilihan yang tepat untuk mereka.

Azkia sedang terduduk di sofa ruang tamunya. Dengan ditemani hidangan yang dibuat oleh bi Imas tadj. Sepiring goreng pisang dan teh manis hangat. Di ruang yang sama juga terduduk Cera dan Cessy, sedang menyantam hidangan tersebut sambil menonton kartun yang biasa Cessy tonton sore hari. Sedangkan Azkia membaca buku. Bukan buku pelajaran, namun buku komik. Komik yang pernah ia diskusikan bersama Esha. Hal itu menjadi pilihannya untuk menghabiskan sore yang akan berakhir. Dia-diam ternyata Azkia membeli komik yang pernah di baca oleh Esha, sewaktu mereka bermain di mall. Azkia membelinya melalui jasa online shop. Karena rasa penasarannya itu, yang membuat Azkia untuk membeli.

Cessy yang lebih fokus menonton itu, sesekali ia tertawa cukup keras. Ketika melihat adegan yang menurut ia lucu. Namun tidak bagi Cera yang ada disebelahnya. Cera juga jarang nonton kartun, dan ia menonton juga karena memang tidak ada yang bisa ia lakukan lagi.

"Dee berisik lohh. Lagi hujan juga, malah nonton tv" saut Azkia yang merasa terganggu oleh suara tawanya sang adik.

"Ihh kakak sirik aja kalo aku seneng"

"Belom aja ada petir dee"

"Gaak.." CTARRR. Belum saja Cessy melanjutkan kalimatnya. Terdengar keras suara pertir, yang membuatnya terperanjat, meloncat, kaget dari sofa yang ia duduki. Lalu spontan memeluk Cera yang duduk di sebelahnya. Sesangkan Cera yang dipeluk pun membalas pelukan Cessy. Ia juga takut akan suara petir. Ia juga merasa kaget.

"Kan baru aja kakak bilang. Udah bunyi aja" Azkia yang sebenarnya ikut kaget mendengarnya. Ia hanya mencoba bersikap tenang didepan adiknya.

"Tvnya matiin aja yah dee" sambut Cera sembari mengambil remote yang berada dimeja didepannya. Cessy hanya mengganggukkan kepalanya. Tubuhnya masih berada dalam pelukan Cera. Ia masih merasa kaget.

Tiga jam kemudian. Mereka bertiga sedang menghabiskan makan malamnya. Tanpa kehadiran dari mamah Azkia dan Cessy. Sang mamah sedang berada di luar kota, untuk mengurus sebuah pekerjaan.
Sudah hampir beberapa minggu sang mamah mulai dapat menerima pekerjaan ke luar kota. Sebelumnya, sang mamah belum berani mengambilnya. Dikarenakan dengan kondisi Azkia sebelumnya, yang selalu terlihat murung. Rasa khawatirnya selalu menahan untuk tidak mengambil pekerjaan ke luar kota. Baru minggu-minggu ini sang mamah mengambilnya. Hujan pada malam itu masih mengguyuri perumahan yang mereka tempati. Meraka segara mempercepat makan malamnya.

Di dalam kamar Azkia. Cera sedang terduduk di atas ranjang Azkia yang berukurang sangat luas. Sama seperti ranjang dikamarnya. Cera menatap kesekitar ruangan ia berada. Sesekali ia tersenyum, saat melihat ruangan tersebut. Nampak tidak banyak yang berubah dari ruangan itu, masih sama dengan keadaan beberapa bulan yang lalu. Sedangkan Azkia sedang duduk seperti biasa dikursi belajarnya. Ia kembali membaca komik yang tadi sore ia baca.

THE PAST - (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang