IS 22

7.2K 246 0
                                        

Selamat membaca🤗

•••

"sial, kenapa sih kalian gak bisa habisin mereka, bodoh!"

"Maaf bos,"

Seorang yang disebut sebagai bos tersebut mulai mendudukkan dirinya di sebuah kursi. Kemarahannya memucak kala ia tau lagi-lagi bawahannya gagal menghancurkan Darel maupun bruiser.

"Ck, salah gue kerjasama sama lo, kaya gini aja gak bisa, apa gue sendiri yang harus turun tangan?"

"Sekarang kita jalanin cara kita yang baru, gue yakin ini akan berhasil," ucapnya lagi.

•••

"Mas bangun sholat subuh dulu," panggil Unna.

"Bentar lima menit lagi," balas Darel.

Bukannya bangun, Darel malah mengeratkan pelukannya pada Unna.

"Ish, lepasin dulu tapi ini tangannya, aku mau bangun,"

"Biarin gini aja dulu,"

Baiklah Unna akan menuruti. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit sudah terlewat tapi, Darel tak kunjung bangun dan melepaskan pelukannya.

"Mas, katanya lima menit ini udah lebih dari lima belas menit Lo, ayo bangun,"

Melonggarkan pelukannya, Darel perlahan membuka matanya.

"Ganteng banget suamiku ternyata pas bangun tidur," batin Unna.

"Ngapain senyum-senyum sendiri, aku tau kok kalau aku ganteng, ngeliatin ya biasa aja," pede Darel.

"Jadi orang kok pd banget, mending mandi sono gih, tu iler sampek kemana-mana, haha," ledek Unna.

Darel melototkan matanya, "enggak ya, siapa yang ngiler, kamu kali, orang aku ganteng gini."

"Astaghfirullah, punya suami kok pd banget, udah ah cepet mandi keburu siang ih,"

"Iya-iya, eh mau mandi bareng gak?, " Tawar Darel dengan menaik turunkan alis.

"Hah, gak-gak cepetan, atau..."

"Atau apa?"

"Atau nanti malam kamu tidur di luar,"

"Eh eh gak bisa gitu dong, iya-iya ini aku mandi,"

Unna geleng-geleng, heran kenapa cowok tu kalo di suruh mandi malah ngeles Mulu, untung cinta, eh;

"Mumpung aku lagi gak sholat, mending aku masak sekarang aja deh,"

•••

Melihat suasana di luar cukup panas, malas rasanya berlama-lama di luar. Seperti kedua insan muda ini, mereka bermalas-malasan di depan tv.

"Panas-panas gini rujak kayaknya seger banget deh," ucap Darel.

"Iya, enak banget kayaknya apalagi, mangganya masih muda, sambelnya pedes duh, jadi pengen kan," sanggah Unna.

"Yaudah, beli yuk ay," ajak Darel.

"Males tapi mas aku keluar, panas,"

"Katanya mau rujak, ya beli dulu lah,"

"Kamu aja gih yang beli aku tunggu di rumah mas, hehe,"

"Hilih, yaudah deh, aku aja yang beli,"

"Sekalian es cincau ya mas, hehe,"

"Huh, dah?apa lagi, sekalian keluar,"

"Gak deh itu aja, tapi jangan lama-lama ya,"

"Hmm, aku pergi dulu, assalamualaikum,"

"Wa'alaikumussalam,"

Sambil menunggu Darel membeli rujak dan es cincau Unna memanfaatkan waktunya dengan membereskan sampah-sampah sisa makanan ringan yang tadi mereka makan.

Sepuluh menit, dua puluh menit, hingga tiga puluh menit telah terlewat sejak Darel keluar, tapi kenapa sampai sekarang ia belum kembali juga, padahal hanya beli rujak dan es cincau, bukannya di depan gang juga ada yang jual.

Unna mencoba menghubungi suaminya kenapa sampai sekarang belum kembali.

"Halo, assalamualaikum, mas, kok belum pulang, belinya di mana sih," tanya Unna.

"Wa'alaikumussalam bentar ay, aku belinya di taman depan, antri juga," jawab Darel.

"Astaga, kenapa Sampek situ belinya, kan depan gang ada yang jual,"

"Gak ada ay, pada libur yang jual, aku dah dapet ni sebentar lagi aku pulang,"

"Huh ya udah hati-hati, assalamualaikum,"

"Iya, wa'alaikumussalam,"

Sambungan telpon sudah terputus.

"Lama, banget sih mas Darel keburu kering ni tenggorokan," gerutu Unna.

Satu jam lebih terlewat sejak Unna menelpon Darel. Tetapi, kenapa Darel belum juga menampakkan batang hidungnya.

"Mas Darel kemana sih, katanya tadi udah mau otw, kok gak sampek-Sampek, aku telpon lagi deh,"

Tut Tut

"Duh kok gak di angkat sih, udah lima kali aku telpon. Kenapa perasaan aku juga gak enak, sebenarnya ada apa ini, semoga semuanya baik-baik saja," pinta Unna.

"Coba aku telpon temen-temennya mas Darel deh, mana tau mampir ke tempatnya,  untung kemarin pas di cafe sempet tukeran nomer," ucapnya lagi.

"Halo, assalamualaikum,"kata Unna saat telponnya sudah tersambung.

"Wa'alaikumussalam, ada apa Na?" Jawab suara Tian di seberang sana.

"Aku mau tanya mas Darel apa ada sama kamu," tanya Unna.

"Darel? Enggak tu, di sini hanya ada gue, Vino, sama Satria, emangnya Darel kemana?" Jawab Tian.

"Tadi katanya mau beli rujak keluar tapi sampai sekarang gak pulang-pulang padahal udah lebih dari dua jam dia pergi,"

"Oke-oke lo tenang gue coba cari Darel, lo gak usah khawatir, doain aja gak ada apa-apa,"

"Hiks-hiks, aku minta tolong ya, cari mas Darel dan kabarin aku kalo udah ketemu,"

"Iya-iya, kalau gitu udah dulu telponnya, assalamualaikum,"

"Wa'alaikumussalam,"

Entah kenapa tiba-tiba sesak rasanya dada Unna, air matanya kembali turun membasahi pipi. Sebenarnya kemana Darel, kenapa ia selalu membuat Unna khawatir seperti ini.

•••

18 Februari 2023

Jangan lupa vote, komennya untuk dukung aku ⭐⭐

Terimakasih 🧡

Ikatan Suci [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang