IS 27

6.6K 233 0
                                        

"BERHENTI SEMUANYA ANGKAT TANGAN!!"

Semua yang berada di ruangan tersebut menghentikan kegiatannya.

Beberapa polisi segera mendekat untuk mengamankan Alex dan Sean beserta dengan anak buahnya. Saat polisi mendekati Sean, ia memberi ultimatum," JANGAN MENDEKAT ATAU SAYA AKAN MEMBUNUH DIA."

Satu tangan Sean sudah melingkari leher Darel, dengan satu tangan lain memegang pistol yang sudah ia dekatkan pada pelipis Darel.

"Saya harap anda jangan nekat atau anda yang akan kami tembak!" Ucap salah seorang polisi tersebut.

"Hahaha, bahkan gue bisa lebih dulu nembak dia jika kalian semua berani mendekat," ancam Sean.

•••

Belum lama Satria meninggalkan Unna dan Zia, tapi lagi-lagi Unna gelisah, kembali ingin menemui Darel sekarang juga,"zi aku mau susul mas Darel, perasaan ku semakin gak enak."

"Gak-gak na, di dalem bahaya, udah kita tunggu di sini aja ya, biarin Satria, Vino, Tian, dan anak-anak lain yang bawa Darel ke sini lo udah tenang aja," bujuk Zia.

"Hiks-hiks, tapi zi..."

Tok tok tok

Ketukan kaca mobil mengalihkan perhatian Zia dan Unna. Terlihat beberapa orang berpakaian hitam yang membuat mereka semakin takut.

Dion yang sudah tau siapa mereka menurunkan kaca mobilnya, "langsung saja pak, tadi teman saya mengabari mereka ada di sebuah ruangan paling kanan, pojok dari pintu depan."

"Baik kalau begitu kalian tetap di sini saja, saya juga akan tinggalkan beberapa personil untuk menunggu di luar," ucap orang tadi.

Setelah beberapa orang tadi masuk Zia mulai bertanya pada Dion," siapa orang tadi Yon, kok sepertinya kamu kenal?"

"Mereka beberapa anggota polisi yang menyamar sebagai orang biasa," jawab Dion.

"Kok bisa mereka dateng ke sini, padahal tempat ini cukup sulit dijangkau," tanya Zia penasaran.

"Memang, ini sesuai rencana kita, bang Satria di tugasin untuk jaga kalian, sekaligus koordinasi sama polisi untuk menangkap dalang dari semua ini," terang Dion.

"Tapi, bagaimana nanti kalau mereka bakal apa-apain mas Darel kalau sampai tau bahwa kita bawa-bawa polisi segala," saut Unna.

"Awalnya kita juga takut jika harus melibatkan polisi di sini, tapi kita juga perlu bantuan mereka untuk menangkap orang-orang itu," jelas Dion.

"Kalau gitu kita ikut masuk aja ya, kan juga udah ada polisi," pinta Unna lagi-lagi.

"Gak, kita tetap gak bisa masuk, ini juga bahaya buat kamu," jawab Dion.

"Ayolah..." Mohon Unna.

"Gak na, kita di sini aja ya," bujuk Zia.

"Oke, kalau kalian gak mau masuk biar aku aja yang masuk sendiri," Unna kekeh untuk masuk, bahkan kini dirinya sudah bersiap-siap untuk keluar mobil, yang dengan cepat di cegah oleh Zia dan Dion.

"Hey jangan nekat, kalau gitu kita masuk sama-sama, tapi kamu gak boleh jauh-jauh dari kita, ayok bim," kata dion.

"Dan kalian bertiga tetep jaga sini, pantau situasi, bergerak cepat kalau ada apa-apa," lanjut Dion.

Ketiga orang yang ditunjuk Dion hanya menganggukkan kepalanya.

Dion, Bima, Unna, serta Zia melangkahkan kakinya memasuki gedung tersebut, sesekali mereka menoleh sekitar guna melihat situasi.

•••

Polisi mengatur strategi agar dapat melumpuhkan Sean, mereka tak boleh gegabah, karna bisa saja nyawa Darel melayang jika mereka salah mengambil langkah.

Sean tak bodoh dia bisa melihat beberapa polisi yang kini diam-diam mulai melangkahkan kakinya maju mendekati dirinya.

"Stop saya bilang atau saya tembak Darel sekarang juga," ucap Sean.

"Gue hitung sampai tiga kalian gak mundur bakal gue tembak Darel sekarang juga, satu....dua....ti-,"

"KAK SEAN, STOP!!"

•••

19 Maret 2023

Ikatan Suci [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang