Limario yang ingin membawa Jennie jalan jalan terpaksa membatalkan niatnya itu gara gara Jennie yang harus pulang karena keluarganya akan melakukan makan malam bersama keluarga Jisoo. Andai bisa, Jennie ingin kabur agar tidak perlu melanjutkan perjodohan itu namun dia tidak tega melihat wajah sedih sang Mama.
"Tidak apa apa kok, kita bisa jalan jalan kapan kapan saja" ujar Limario menenangkan Jennie.
"Ini pasti ulah Jisoo! Dia tahu kita mau keluar bersama makanya dia menyiapkan makan malam keluarga seperti ini!" Dumel Jennie.
"Jangan suudzone Jen. Lagian makan malam itu juga bakalan ada orang tua kamu. Bukan kamu berdua saja sama Jisoo Hyung"
Jennie mendegus "Lim, bisa aku bertanya?"
Limario terkekeh kecil "Kenapa harus meminta izin? Tanya saja"
"Apa setelah aku menikah sama Jisoo, kamu akan mencari pengganti aku?"
Deg
Limario menelan ludahnya dengan kasar. Dia tidak tahu jawaban apa yang harus dia katakan untuk saat ini.
"Maaf kalau aku egois tapi aku tidak sanggup melihat kamu menikahi wanita yang lain. Aku harus gimana Lim?" Lanjut Jennie dengan sedih.
Limario menggenggam satu tangan Jennie "Aku juga tidak sanggup untuk menggantikan posisi kamu dihati aku. Andai kita memang ditakdirkan untuk tidak bersama, kita harus ikhlas dan aku pasti akan mendoakan kebahagiaan kamu bersama Jisoo Hyung"
Tidak terasa, mobil yang dikendarai oleh Limario akhirnya tiba didepan gerbang mansion orang tua Jennie.
"Tolong jangan membuka pintu hati kamu untuk siapa siapa ya. Aku belum siap untuk kehilangan kamu" ujar Jennie lalu dia berganjak keluar dari mobil tanpa mendengar sahutan dari Limario.
Limario mengusap wajahnya dengan kasar "Maafin aku Jen" lirihnya sebelum menjalankan mobilnya untuk pulang.
*
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam dan perut Limario juga sudah meronta meminta untuk diisi namun tidak ada tanda tanda kalau istrinya itu menyiapkan makan malam.
"Chaeyoung" panggil Limario mencari keberadaan sang istri.
Sejak pulang 1 jam yang lalu, Limario tidak melihat keberadaan Chaeyoung. Dia fikir Chaeyoung berada didapur makanya dia tidak peduli.
Namun sekarang dia tetap tidak menemukan keberadaan Chaeyoung.
"Sudah hujan" gumam Limario menatap hujan yang sudah turun membasahi bumi.
"Apa dia belum pulang? Ck, sepertinya seru banget ya keluar jalan jalan sama Jisoo Hyung" decak Limario kesal.
Ceklekk
Pintu mansion yang dibuka membuatkan Limario buru buru menghampiri Chaeyoung dengan wajah datarnya.
Namun secara tiba tiba raut wajah datarnya berubah ketika melihat Chaeyoung yang sudah basah itu "Kamu kenapa?"
"Soalan bodoh apaan itu huh?" Sambar Chaeyoung kesal.
Limario menelan ludahnya "Kenapa baru pulang?"
"Kamu fikir jarak dari rumah sakit kemansion ini dekat hah? Tidak ada bus dan aku jalan kaki untuk pulang. Mana sekarang lagi hujan!" Dumel Chaeyoung.
Perasaan bersalah tiba tiba muncul dihati Limario apalagi setelah dia melihat bibir Chaeyoung yang sudah membiru itu.
"Ketepi!" Kesal Chaeyoung berganjak kekamar. Dia harus segera mandi dengan air hangat untuk menghangatkan badannya yang sudah kedinginan itu.
"Bodoh Lim!" Umpat Limario memarahi dirinya sendiri.
Sebelum menyusul Chaeyoung kekamar, Limario memutuskan untuk menyiapkan segelas teh hangat yang mungkin bisa membantu Chaeyoung.
Chaeyoung keluar dari kamar mandi dengan bathrobe yang terpasang dibadannya. Dia mengernyit ketika melihat Limario yang hanya melamun diatas kasurnya itu.
"Hatchiuuuu!" Bersin Chaeyoung. Sepertinya dia akan mendapatkan flu.
Limario tersadar dari lamunannya "Saya menyiapkan teh hangat untuk kamu"
Chaeyoung mengambil teh hangat itu "Perhatian juga ya"
"Jangan geer. Saya menyiapkan teh itu karena tidak mau kamu sakit. Nanti merepotkan saya" ujar Limario tanpa filter.
Chaeyoung mengurungkan niatnya untuk meminum teh itu. Dengan kasarnya dia meletakkan cangkir teh itu diatas nakas "Jadi maksud kamu aku ini merepotkan?"
"B-bukan maksud saya seperti itu. Saya-"
"Kalau aku sakit, kamu tidak perlu repot repot menguruskan diri aku. Aku bisa menguruskan diri aku sendiri!" Potong Chaeyoung yang terlanjur kesal.
Tanpa mempedulikan Limario, dia berganjak keluar dari kamar dengan emosi.
"Bukan itu maksud saya Chae. Saya khawatir sama kamu" gumam Limario dengan pelan.
Walaupun kesal sama sang suami, Chaeyoung tetap menyiapkan makan malam untuk suaminya itu.
"Hatchiuu!" Dia kembali bersin dan badannya juga sudah terasa hangat.
Tidak butuh waktu yang lama, masakan yang dimasak oleh Chaeyoung akhirnya siap untuk dihidangkan.
"Sepertinya kamu bakalan demam" ujar Limario menghampiri Chaeyoung.
"Bukan urusan kamu" datar Chaeyoung "Habiskan makanan kamu. Piringnya tinggalkan saja. Biar aku cucinya besok pagi" lanjut Chaeyoung.
"Kamu tidak makan malam?" Tanya Limario.
"Sudah kenyang" singkat Chaeyoung.
"Memangnya kamu sudah makan apa?" Bingung Limario.
"Makan hati sama omongan kamu!" Ketus Chaeyoung lalu dia langsung berganjak kekamar meninggalkan Limario yang terbeku.
"Ternyata dia menyeramkan kalau lagi marah" gumam Limario.
Tekan
👇
KAMU SEDANG MEMBACA
Surrender ✅
FanfictionPernikahan yang terjadi secara tiba tiba membuatkan Limario membenci Chaeyoung namun akhirnya dia menyerah ketika cinta mula menghampiri namun dia 'terlambat' Chaelim📌 Fanfiction 📌 Fiksi📌
