2. Mainan atau Mencintai?

17.5K 611 34
                                        


Pagi beranjak dari kegelapan. Sebelum berangkat ke sekolah, aku akan sarapan seperti biasa, bersama papa dan anak kesayangannya.

Runitas ini kami jalani tanpa kehadiran mama. Tidak. Mamaku belum meninggal, dia cuma sedang tidur.

Menyiapkan sarapan adalah tugas papa bukan mama. Mama hanya pelayan papa di ranjang yang hobinya berbelanja dan mempercantik diri.

Sarapan kali ini lumayan enak. Suwir ayam kecap, sayur sop, dan ikan bakar. Meski papa tidak becus menjadi papaku, setidaknya dia bisa membuatkanku masakan enak setiap pagi.

Selepas sarapan aku menghampiri papa buat saliman. Melewati Uswa yang masih berleha-leha di saat seharusnya dia sudah bergegas ke sekolah. Mungkin itulah keberuntungan anak terakhir, bisa sesuka hati berbuat tanpa takut dinilai buruk.

Selagi pamitan, papa tidak melirik kemanapun selain makanan. Bahkan tangannya cekat saat kucium. Papa selalu disiplin mengenai waktu, bertele-tele tentu bukan sifatnya. Apalagi kalau sudah mengenakan jas kerja begini.

"Uswa ... main hpnya ditunda dulu, ini waktunya makan," tegur papa, nadanya sedikit tajam, namun penyampaian papa tetap lembut, diselingi senyuman tipis. Seperti sedang menegur anak kecil.

Uswa merengut sebal. "Makan sambil melihat ponsel itu bagus untuk mood makan, salahnya dimana?"

"Ini soal waktu bukan mood. Banyak hal yang lebih penting menunggu papa di kantor. Sebaiknya kamu sadar bertele-tele itu sifat orang pemalas." Aku menyaksikan langsung raut kepanasan Uswa, dia menyudahi aktivitasnya lalu menatapku garang. Tangan papa yang berbaring di meja mengepal, ikut emosi ingin menghajarku juga.

"Daripada menunggu disayang, tapi nggak disayang-sayang?" Kalimat itu meluncur dari bibir terbuka hendak tertawa, mata berkilat puas penuh ejekan. Rahangku seketika menegang, tanganku mendadak dingin dan mengepal.

"Kamu pergi sebelum saya lempar pakai gelas ini." Papa berucap lantang, tekanan emosinyaa membuat udara berhembus berat. Gelas kaca itu papa pegang erat, tertahan di udara.

Aku membuang nafas berat. Andai saja papa tidak di sini, mungkin leher putihnya sudah memerah akibat cekikanku, suara ejekannya lenyap menjadi engahan panjang mencari posokan nafas. Namun, ini bukan soal takut atau menurut, aku akan mengalah demi waktu. Kubiarkan papa dan Uswa menang, saat langkah lebar penuh amarahku pergi meninggalkan mereka.

                                ☆☆☆

Tiba di sekolah aku tak langsung masuk kelas. Langkahku membelah kerumunan murid di lorong, mencari tujuan tangan lembut yang ingin kugenggam erat. Dari ujung kaki sampai kepala, aku kenal betul bentuk tubuh mungilnya, rambut hitam legam sebahunya, sampai mata teduh yang kerap kubuat menangis.

Ya, dia Aya. Gadis yang semalam kupantau diam-diam di balkon. Sekarang dirinya sedang mengobrol di tepi lorong bersama Genta, sahabatku.

Gadis nakal. Dia berubah nakal semenjak beberapa tahun mencoba menghindariku. Interaksi keduanya tampak manis, Genta yang kukenal sulit tersenyum pada siapapun kini terang-terangan menunjukkan itu pada Aya.

Aku menyambar tangan Aya yang menjuntai, memulasnya penuh dan keras. "Kakak lepas!" Aya berusaha lepas dariku, wajahnya diliputi ketakutan. Genta ikut membela dengan melontarkan tatapan tajamnya, mencoba melepas cekalanku. "Lepas! Dia kesakitan."

Basa-basi sampah. Kepalang kesal, tanpa banyak bicara, aku menarik Aya bersamaku, mengabaikan Genta yang berbalik menatapku lebih tajam dari sebelumnya. Emangnya dia siapa berani mengaturku? Apa haknya menjadi pahlawan untuk seseorang yang telah menjadi milikku. Mainanku.

"Kakak mau apa?!" Aya bertanya keras, nadanya terik menantang. Aku memegang kendali atas tubuhnya, membawanya ke suatu tempat yang kerap kukunjungi bersamanya. "Sebaiknya kamu diam dan menurut," balasku tajam, sarat akan ancaman yang menolak dibantah sekatapun.

DAMAGEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang