Jika ada satu hal yang sangat Ola sesali sekarang, itu adalah kenapa ia harus pulang ke Jakarta. Seharusnya, seperti biasa, ia menolak dengan keras kepala, dan tetap bekerja alih-alih hanya berdiam diri di kamarnya semenjak ia pulang dari rumah Opa.
Ola merasa kesal pada apa yang tadi Opa dan ayah katakan padanya. Bagaimana mereka bisa begitu kolotnya tentang pernikahan? Dan perjodohan? Astaga! Mereka pikir ini tahun berapa? Tidak ada wanita jaman sekarang yang menikah karena dijodohkan.
Kalaupun ada, biasanya perjodohan itu hasil dari kencan daring. Bukan perjodohan keluarga. Dan persentasenya jelas tidak besar. Rata-rata orang berkencan daring hanya untuk bersenang-senang, bukan untuk tujuan menikah. Kalaupun pernikahan itu sampai terjadi, itu karena...takdir mungkin?
Ola berguling di ranjangnya, dan menatap ponselnya yang tadi sengaja ia matikan. Itu spontan dilakukannya, dan kini Ola menyesal telah mematikan benda itu. Mendengar suara Nero hanya membuat Ola ingin bercerita pada pria itu tentang apa yang terjadi. Dan itu jelas tidak bagus.
Sudah sekian lama Ola tidak pernah bergantung pada laki-laki. Ia bisa berdiri tegak di atas kakinya sendiri tanpa perlu bersandar di bahu seorang pria. Sayangnya, bukan itu yang terlihat sekarang ini. Ola mulai merasa nyaman dan terbiasa dengan kehadiran Nero di sekitarnya. Juga, mulai merasakan bagian dari dirinya yang rapuh, menggeliat dan ingin melepaskan diri.
Dia? Rapuh?
Mungkin, sesungguhnya memang seperti itulah dirinya yang sebenarnya. Masa kecilnya, terutama sebelum bertemu ayahnya, bukan masa kecil yang menyedihkan, tetapi juga bukan hal yang terlalu menyenangkan untuk diingat.
Dirinya dan Bunda tinggal berpindah-pindah di kontrakan sempit, dan di lingkungan yang bisa dikatakan hampir kumuh. Wajah Bunda yang terlalu cantik, menjadikan banyak pria dari lingkungan mereka, yang memperhatikan dan menggodanya, sehingga para wanita tidak menyukai keberadaan mereka di sana. Belum lagi omongan yang mengatakan bahwa ia adalah anak haram.
Ola mungkin masih kecil saat itu, tetapi dirinya bukan anak yang bodoh. Di usia tiga tahun, ia bisa melihat siapa yang tidak menyukai mereka, dan apa maksud dari yang orang-orang itu katakan pada Bunda. Ia tumbuh jauh lebih cepat daripada usia sebenarnya karena lingkungan tempat tinggalnya.
Ketika usianya menginjak empat tahun, Ola sudah belajar untuk melakukan semuanya sendiri. Mandi, mengganti bajunya, dan menyisir rambut panjangnya. Ketika Bunda menitipkannya pada pemilik kontrakan, yang sekarang sudah seperti nenek baginya, Ola juga tidak pernah membuat wanita itu kerepotan.
Sejak kecil, ia terbiasa untuk mandiri dan tidak manja meskipun Ola tahu Bunda tidak menginginkannya bersikap seperti itu. Ola tahu Bunda ingin memberikannya masa kecil yang normal seperti anak-anak lain. Akan tetapi, saat itu Ola sudah tahu bahwa hidup mereka tidak normal karena ia tidak punya ayah.
Atau, itulah yang ia pikir hingga ayahnya muncul kembali.
Memiliki keluarga yang lengkap, juga Oma, Opa, dan juga Tante, tidak serta merta merubah Ola menjadi anak yang manja. Terlebih dengan semua kemewahan yang ayahnya miliki. Hal itu malah membuat Ola takut pada awalnya. Ia tidak terbiasa dengan kemewahan dalam hidupnya.
Masa lalu itu mungkin sudah terkubur jauh di dalam kisah hidupnya. Namun, itu tidak bisa merubah sikap Ola. Ayah selalu berkata bahwa ia bisa minta apapun, dan ayah pasti akan memberikannya. Sayangnya, banyaknya materi tidak bisa merubah Ola yang mandiri menjadi Ola yang manja dan bergantung pada orang lain.
Apa yang terjadi pada ibunya dulu, membuat Ola takut bahwa kebahagiaan itu hanyalah sebuah angan semu. Kau akan berbahagia selama satu menit, tetapi akhirnya kau akan menderita selama satu tahun.
KAMU SEDANG MEMBACA
It Takes Two To Tango
RomantizmUntuk yang mau baca PART LENGKAPnya bisa baca di KaryaKarsa dan Playstore ya! Mencintai seorang wanita yang lebih tua bukanlah impian Nero Ganendra Goldman. Terlebih, ia tidak ingin jatuh cinta lagi setelah cinta tak terbalasnya selama bertahun-tahu...
