29. Pulang

414 99 5
                                        

Setelah berjam-jam penerbangan yang melelahkan, akhirnya Ola menginjakkan kakinya lagi di Jakarta. Di kota yang menjadi tempat lahirnya, tetapi bukan kota yang ingin Ola tempati untuk menghabiskan semua sisa hidupnya meskipun semua keluarganya berada di sini.

Tempat itu sudah hiruk pikuk sejak dulu, tetapi sejak terakhir kali ia pulang satu tahun lalu, tampaknya keadaan malah jauh lebih buruk lagi daripada yang terakhir kali Ola ingat. Lalu lintas yang padat, panas udara yang membakar, juga betapa beragamnya kehidupan masyarakat di ibukota ini. Rasanya seperti melihat sudut lain kota New York yang selama ini tidak pernah ia datangi sebelumnya.

Ola merindukan orang tuanya tentu saja. Juga semua keluarga yang sebentar lagi akan ia temui. Namun, tidak bisa dipungkiri, bahkan ketika ia baru menginjakkan kakinya di sini, Ola sudah merindukan New York. Juga siapa yang baru saja ia tinggalkan.

Aneh kan? Mereka baru dekat selama...berapa hari? Empat hari saja kan? Tetapi kenapa rasanya sudah bertahun-tahun? Dan mengapa pula rasanya begitu berat saat harus membayangkan Nero melakukan apa yang ia minta sendirian?

Hanya itu yang ia inginkan dari Nero selama dirinya pergi. Bahwa kedua ayah dan anak itu harus berbaikan. Keinginannya bahkan semakin kuat lagi saat melihat betapa kalutnya Nero ketika tahu ayahnya selama ini sakit.

Ola juga bisa menduga bahwa tujuan pria itu datang ke apartemennya pada malam itu adalah untuk membicarakan hal tersebut. Akan tetapi, makanan telah membuat pria itu lupa pada tujuan utamanya.

Ola tersenyum saat mengingat bagaimana mereka berdua makan bersama, berbicara apa saja seperti teman yang sudah sangat saling mengenal, dan juga merasakan kenyamanan dari apa yang mereka bagi bersama.

Fakta bahwa Nero sangat meyukai masakan apapun yang ia buat, membuat Ola semakin yakin bahwa persahabatan yang mereka jalin sekarang adalah bagian dari rencana takdir yang tidak pernah diduganya sebelumnya. Bersama Nero, nyatanya telah membuat beberapa hari terakhir di New York menjadi jauh lebih mudah untuk dijalaninya.

Biasanya, Ola lebih sering menghabiskan waktu tanpa siapa-siapa. Ia bahkan juga lebih sering bicara sendiri hanya agar apa yang ia rasakan bisa diluapkan. Namun nyatanya, memiliki seseorang untuk berbagi cerita, jauh lebih menyenangkan.

Apa yang Nero katakan mungkin benar. Ia terlalu sombong dan mengira bisa hidup sendirian tanpa teman. Ia mengabaikan sikap baik Jules selama ini karena Ola tahu bahwa ia hebat. Bahwa ia bisa berada di posisinya sekarang karena kerja kerasnya sendiri.

Satu yang Ola lupa adalah, tidak ada satu manusia pun yang bisa sukses tanpa bantuan manusia lain. Mungkin, bantuan dan dukungan itu tidak terlihat, tetapi bahkan hal sekecil menyiapkan kopi seperti yang selalu Jules lakukan padanya pun adalah sebuah dukungan untuk apa yang sedang ia raih.

Baru sebentar saja berteman dengan Nero, Ola mendapatkan begitu banyak pelajaran yang tidak ia dapatkan selama ini. Ia sudah hidup dengan sangat egois selama 29 tahun ini, dan merasa seperti seorang superior.

Nanti, setelah ia pulang ke New York, Ola akan memperbaiki sikapnya terutama pada Jules. Gadis itu mungkin bisa menjadi teman terbaiknya selain Nero.

Pulang. Apa New York sekarang benar-benar telah menjadi rumah baginya? Bukan tempat di mana semua keluarganya berada? Di sini? Di Jakarta?

"Kamu melamun. Apa yang kamu pikirkan?"

Sentuhan lembut bundanya, membuat Ola menoleh pada wanita yang duduk di sebelahnya itu, dan tersenyum.

"Aku hanya senang bisa pulang."

"Tetapi wajahmu tidak menampakkan kesenangan itu," cetus Damar dari bangku depan.

It Takes Two To TangoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang