38. Pelukan Seorang Teman

356 108 7
                                        

"Namanya Radit. Ia cucu dari teman baik Opa."

Setelah mengatakan itu, Ola terdiam dan menunggu apa yang dikatakan Nero. Namun, pria itu tidak mengatakan apapun, dan hanya menunduk memandang cangkir tehnya.

Satu jarinya berada di bawah meja, sementara tangan yang lain menggenggam cangkir dengan begitu erat hingga mungkin saja cangkir itu akan pecah jika Nero mengeratkan genggamannya lagi.

Ola masih menunggu, hingga yang tercipta di antara mereka hanyalah kesunyian. Bukan dalam artian yang buruk, tetapi kesunyian yang menyenangkan.

Ia selalu sendiri di apartemennya, dan itu adalah hal yang selalu membuatnya nyaman. Namun, memiliki orang lain untuk menikmati kesunyian itu, rasanya berbeda.

Ia sangat ingin membahas tentang Muti, tetapi dari apa yang terjadi tadi, Nero tampak tidak ingin membicarakannya. Padahal, ia benar-benar ingin tahu apakah Nero akan melaksanakan niatnya itu atau tidak.

Apa yang akan terjadi padanya jika Nero benar-benar menikahi Muti dan membawa gadis itu ke New York? Apa persahabatan yang baru terjalin antara dirinya dan Nero akan menghilang?

Jujur saja, sekarang ini, Ola tidak terlalu menyukai Muti. Mereka memang belum bertemu lagi secara langsung meskipun ia cukup sering melihat gadis itu dari jauh di sekolah. Namun, melihat Muti yang sekarang, Ola seperti melihat seseorang yang sama sekali berbeda.

Gadis itu tidak seperti gadis yang dikenalnya dulu. Muti yang ia tahu adalah seseorang yang ceria, kuat, dan bisa menghadapi apapun. Muti yang sekarang adalah seseorang yang rentan karena cinta.

Ya, itulah esensi cinta yang sesungguhnya. Membuatmu rentan dan lemah. Dan Ola tidak ingin menjadi orang yang seperti itu. Karena itulah ia menghindari cinta dan segala tetek bengeknya.

Jauh lebih baik memiliki hubungan persahabatan murni seperti dirinya dan Nero. Atau, apakah itu hanya anggapannya saja?

Ola tidak suka dengan reaksi yang dikeluarkannya saat mendengar Nero menyebut nama Muti dan bagaimana pria itu tidak bisa meninggalkannya.

Sepenting itukah Muti bagi Nero? Sebesar itukah cinta yang Nero miliki untuk Muti hingga membuat pria itu melupakan segalanya saat Muti ada di hadapannya? Bahkan jika Nero mengingat Ola sebentar saja, pria itu akan memintanya datang menjemput ke bandara.

Nyatanya, Nero bahkan tidak mengingatnya. Pria itu dan segala perhatiannya selama di New York, seakan hilang begitu saja begitu berada di dekat gadis yang selama ini mengisi seluruh relung hatinya. Mutiara Dunia.

"Bagaimana pria itu menurutmu?" tanya Nero setelah kesunyian itu.

Ola mengangkat bahu. "Cukup tampan," jawabnya pendek sambil meminum susunya lalu mengernyit. "Kau tidak menambahkan kopi."

"Ini sudah malam dan kau sudah mendapatkan kopimu tadi," sahut pria itu dengan tegas.

"Kau memang menyebalkan."

Nero menyengir sambil kembali meminum tehnya yang pasti sudah dingin seperti susu yang ada di gelas Ola.

"Jadi..." Nero sengaja melambatkan perkataannya. "Kau akan menuruti saran Opamu untuk menikah?"

"Kau bercanda!" seru Ola sambil memutar bola matanya. "Jika aku menikah, itu akan terjadi perang dunia ketiga."

"Kau bilang dia cukup tampan. Bukankah para gadis selalu lebih mementingkan wajah yang tampan di atas segalan-galanya?"

Lagi-lagi Ola memutar bola mata. "Tidak denganku. Jika kau pikir aku menerima usul itu dengan baik, aku tidak akan berada di sini bersamamu dalam busana yang sama sekali tidak cocok untuk minum kopi."

It Takes Two To TangoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang