11. Dunia Yang Baru

660 203 27
                                        

PART 66 sudah terbit di KaryaKarsa yaw!


----


"Apa aku benar-benar harus pergi? Atau ini hanya bagian dari permainan Paman juga?" tanya Nero begitu Viola keluar dari ruangannya.

Biasanya, Nero jarang lupa waktu kecuali ia sedang melewatkannya bersama Muti. Dengannya, Nero tidak pernah ingin waktu beranjak pergi yang membuatnya harus berpisah dengan gadis itu. Apapun yang Muti lakukan, tidak akan membuat Nero merasa bosan. Bahkan jika ia hanya duduk dan memandangi gadis itu menggambar.

Akan tetapi, hari ini nyatanya ia menikmati waktu makan siangnya bersama dengan orang yang sama sekali asing baginya. Ia tidak pernah bisa memulai pembicaraan dengan mudah, tetapi bersama Viola, rasanya seperti mereka sudah lama saling mengenal. Seakan memang mereka adalah dua orang teman yang sangat dekat.

Teman. Rasanya menyenangkan, sekaligus mengerikan. Ia tidak pernah menjalin hubungan dekat dengan seseorang, selain dengan yang dianggapnya nyaman. Muti adalah orang pertama yang bisa membuatnya percaya lagi pada hubungan antar manusia setelah apa yang terjadi padanya dan Andhita.

Oke, mungkin ia dekat dengan Paman Stevan dan juga keluarganya, tetapi itu sama sekali berbeda. Ia mengenal mereka sejak dirinya masih kecil, dan orang-orang itu sudah seperti keluarga baginya. Berbeda dengan Muti yang sama sekali tidak ia kenal, juga sama sekali berbeda dengan dirinya.

Kini, ketika ia merasakan hal yang sama pada Viola, sedikit kengerian kembali melingkupinya. Bagaimana jika nanti Viola melakukan sesuatu yang menyakiti hatinya seperti yang pernah dilakukan Andhita dulu? Bagaimana jika semua ini hanyalah kenyamanan semu karena ia, setidaknya, menemukan bagian dari keluarga yang pernah ia kenal di Jakarta?

Hanya saja, meskipun tahu bahwa akan ada banyak kemungkinan terburuk dari hubungan pertemanan ini, Nero tidak bisa menahan diri untuk menjaga jarak seperti yang seharusnya. Hubungan mereka di sini hanyalah hubungan atasan dan bawahan. Tidak peduli siapa gadis itu, seharusnya Nero tetap menjaga jarak.

Namun, Nero menyadari bahwa ia menyukai cara Viola yang makan dengan lahap tanpa memedulikan kalori atau apapun itu yang banyak dikeluhkan wanita. Ia menyukai bagaimana mata wanita itu berbinar-binar saat menceritakan sesuatu yang ia sukai. Suka senyum cemerlangnya yang selalu mengingatkan Nero akan kehangatan sebuah keluarga yang ia dapatkan di Jakarta.

Sedikit banyak, Viola mengingatkannya pada Muti. Mungkin hal itu juga yang membuatnya tidak bisa menjauh atau menjaga jarak. Karena Nero merasa menemukan lagi sesuatu yang baru saja hilang darinya di dalam diri Viola. Apakah itu salah? Apakah seharusnya ia tidak boleh seperti itu pada Viola?

"Kau memang harus ke sana. Ini rapat dengan para investor perusahaan cabang kita di Los Angeles. Penjualan di sana selalu bagus dan mereka semua berharap bisa bertemu denganmu."

Paman Stevan menyerahkan sebuah tablet yang berisi grafik-grafik, angka-angka, dan juga laporan yang tidak Nero pahami. Biasanya, ia hanya berkutat dengan buku-buku di perpustakaan, atau laporan sederhana di kafenya. Melihat laporan sekompleks ini hanya membuat kepalanya berdenyut.

"Apa Paman tidak bisa menjelaskan saja padaku daripada aku harus melihat semua ini sendirian?" tanya Nero sambil mendongak dari benda yang dipegangnya itu.

"Itu laporan penjualan, rugi laba, dan potensi pendapatan jika kita membuka cabang kelima kita di sana. Selain itu, pasar online juga sedang bergeliat, dan kita..."

Nero menaikkan telapak tangannya hingga Paman Stevan terdiam. "Ini hari pertamaku dan aku sudah harus dihadapkan pada hal-hal semacam ini? Bukankah tugas Presiden Direktur hanyalah mendengarkan bagaimana hasil kerja para direktur?"

It Takes Two To TangoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang