Chapter 7

597 33 2
                                        

Happy Reading guys

●●●●●●●●●●●●●●●●●●

Dalam perjalanan pulang dari sekolah mata Ana jelalatan melihat berbagai kedai yang menjual makanan, hingga matanya terpaku pada rumah makan kecil di pinggir jembatan.

"El kita makan dulu yuk di situ." Ajak Ana sambil menarik tangan Ella, memisahkan diri dari santri lain.

"Heh mau kemana?" Tanya Lukman yang ternyata sedari tadi berjalan di belakang mereka.

Ana menoleh sekilas, kemudian menunjuk rumah makan tersebut. "Beli makan bentar."

Lukman mengangguk kecil. "Jangan lama-lama, habis itu langsung balik." Ujarnya sambil terus berjalan, hingga beberapa santri melirik aneh padanya.

Malas berteriak, Ana hanya memberikan tanda oke dengan tangannya pada Lukman. Lalu masuk ke dalam dan duduk di tempat yang sudah di siapkan. "Bu Nasi goreng dua yah." Ujar Ana menyebutkan pesanannya.

"Nanti aku aja yang bayar." Ucap Ella sambil menatap jalanan yang ramai para teman seangkatannya.

Ana mengangguk singkat, tidak mempermasalahkannya. Karena sejak awal bertemu mereka selalu melakukan hal tersebut, kadang Ana yang membayar, kadang justru Ella.

"Eh El Lo kan di sini udah lumayan lama, kenal Gus Altha gak?" Tanya Ana pelan, sedikit ragu.

Ella diam, setahunya tidak ada santri yang bernama Altha di pondok pesantren. "Perasaan gak ada santri yang namanya Altha deh." Jawab Ella.

Ana ingin kembali menyaut tapi kemudian ia urung begitu menyadari jika apa yang ia ucapkan nanti mungkin saja membuat Ella penasaran akan hubungannya dengan Ian.

"Oalah yaudah." Jawab Ana singkat. "Tolong jelasin dong El kegiatan ngaji yang harus gue ikutin apa aja." Ujar Ana mengganti topik pembicaraan.

Ella mengangguk. "Pagi setelah subuh Lo setoran hafalan juz ama' setelah itu ngaji klasikal pagi kayak biasa. Terus setelah diniah biasa sholat ashar, abis itu klasikal sore, sholat magrib, setoran juz ama' lagi, ngaji klasikal malam, di lanjut ngaji sama Abah, terus sholat isya." Jelas Ella dengan pelan agar Ana paham, karena Ana masih belum aktif mengikuti seluruh kegiatan.

"Setelah isya kita takror sekitar 45 menit, dan setelah takror biasanya kita ada setoran hafalan nadhom. Itu kegiatan harian, kalo Mingguan besok aja lah sekalian di jalanin." Sambung Ana melanjutkan penjelasan tadi.

Mendengar itu Ana di buat menahan nafas, rasanya tidak ada jeda untuknya beristirahat dengan tenang. "Gila padat banget."

Baru saja Ella akan menjawab, nasi goreng yang mereka pesan datang. Sehingga mereka berdua cukup tergoda untuk menikmati makanan dari pada berbicara.

Sekitar setengah jam setelah selesai memakan nasi goreng Ana dan Ella kembali ke pondok, saat mereka berjalan melewati pondok putra, entah hanya perasaan Ana saja atau memang benar tapi ia merasa jika dirinya sedang di tatap lekat.

Hal itu membuatnya menoleh ke pondok putra, tak di sangka saat ia menoleh terdapat gerombolan kakang yang sedang duduk di samping gerbang dengan semangat menyorakinya. Hal itu membuat Ana malu bukan main.

Ana masuk ke pondok dengan setengah berlari, meninggalkan Ella yang berjalan santai. Ana langsung menuju lantai dua dengan menaiki tangga, meletakkan sandal di rak. Saat ia berjalan ke kamar di komplek ramai sekali Santri yang tengah tidur, namun beberapa dari mereka juga terlihat dengan santai berghibah ataupun membaca novel.

Ana masuk ke kamar melihat para santri yang tengah duduk bersama sambil memakan cemilan di lantai. Membuat tertarik untuk mendekat, dan duduk tidak jauh dari mereka.

Mubayyin [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang