Chapter 30

570 37 2
                                        

HAPPY READING GUYS

●●●●●●●●●●●●●●

Mobil Ian berhenti tepat di depan gerbang asrama putri, saat ini sudah pukul 23.56 dan gerbang pondok putri sudah terkunci. Ana keluar dari mobil dengan santai, ia yakin masih ada orang ronda untuk minta tolong membukakan gerbang.

"Assalamualaikum, permisi!" Teriak Ana keras, mengetok-ngetok gerbang.

"Kek ngajak tawuran kamu." Seru Ian dari dalam mobil.

Ana melotot tidak terima. "Udah sana mas pulang aja, enggak usah nungguin Angel."

Ian menjawab dengan gelengan, terus memperhatikan Ana yang menggedor gerbang asrama. "Assalamualaikum."

"Siapa?"

"Angeliana, baru pulang ngisi acara diluar, udah dapet ijin juga dari pengurus." Jelas Ana tanpa diminta.

"Oke, sebentar yah."

Sekitar lima menit kemudian gerbang di buka, dan di belakang pintu terpampang wajah Aza. "Oh lo?"

Ana mengernyitkan dahinya, ia pikir Aza tidak kenal dengannya.

"Ustad Ian." Sapa Aza, melambaikan tangan kearah mobil, ia cukup dekat dengan ustad yang satu itu.

Ian balas melambaikan tangan. "Yaudah saya pamit, assalamualaikum." Ucap Ian kemudian menjalankan mobilnya.

Ana menyaksikan itu semua tapi tetap diam, ia masuk kedalam. "Makasih za." Ujarnya kemudian berlalu tanpa berniat menunggu Aza menutup gerbang. Hari ini sungguh melelahkan baginya, banyak hal yang terjadi hingga ia sendiri bingung harus merespon bagaimana.

"Heh, woy ini tutup dulu." Teriak Aza, tapi yang diteriaki tampak tidak peduli dan naik kelantai dua.

Sampai di kamar Ana duduk di samping tempat tidur, pikirannya melayang ke acara tadi. Benarkah itu ayahnya? Bagaimana jika ia salah? Tapi jika benar, apa yang harus ia lakukan? Pikir Ana. Pasalnya selama ini belum pernah terpikirkan ia akan melakukan apa setelah bertemu dengan ayah kandungnya.

Ana melamun di samping kasur, memandangi langit-langit kamarnya dalam diam, dengan kepala penuh pikiran yang tidak selesai. Tiba-tiba...

Tuk.

Pintu kamar yang tadinya tertutup bergerak sedikit, suara derit kayunya memecah kesunyian. Ana menoleh cepat, jantungnya seakan mencelos. Bayangan tubuh muncul di ambang pintu. Buru-buru ia meremas kasurnya.

"Loh, ada belum tidur?"

Ana berkedip cepat, ternyata teman sekamarnya Azkya. Masuk sambil tersenyum tipis ke arah Ana, tumben sekali.

"Belum tidur? Darimana kamu?" Tanya Ana memulai pembicaraan.

Azkya melepas kerudung, melirik Ana, kemudian duduk di kasur. "Abis ketemu kak Ella, kalau kakak?"

"Abis ngisi acara di luar." Ucap Ana, ia ingin bertanya lebih soal hubungan Ella dan Azkya tapi akhirnya ia urungkan karena mungkin akan terlihat lancang. "Tidur duluan ya aku."

"Iya kak."

******

"Serius?!"

Ian mengangguk, ia telah menceritakan semuanya pada Zaynal tentang apa yang terjadi pada Ana semalam dan juga dugaan Ana soal ayahnya.

"Tapi? Pak Hendra? Ayah Ana?" Zaynal masih tidak percaya. Apalagi jika dilihat dari wajah, mereka berdua sama sekali tidak mirip kecuali satu, sama-sama manusia.

Mubayyin [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang