Chapter 18

435 30 0
                                        


HAPPY READING GUYS

●●●●●●●●●●●●

Hari demi hari berlalu dengan damai, agaknya sudah hampir satu bulan ini Ana begitu fokus untuk ujian kenaikan kelas diniah dan juga ujian kelulusan di sekolah pagi. Waktu belajar Ana benar-benar padat, belum juga ia harus menyetorkan hafalan dan juga mengaji klasikal. Sebenarnya, mungkin, bagi santri lain ujian kelulusan di sekolah tidak terlalu penting.

Lain bagi Ana, sedari kecil ia sangat terobsesi dengan nilai sempurna, setidaknya tidak ada yang di bawah angka sembilan, maka dari itu ia sering belajar bahkan sampai mengabaikan hal lain seperti makan dan bermain. Dan karena hal ini juga, Ana tidak pernah bertemu Ian kecuali di jam pelajaran diniah.

Walau sibuk bukan satu-satunya alasan, karena ia merasa Ian tidak mau jujur padanya, bahkan selama sebulan ini Ian terus-terusan mengirimi Ana makanan lewat mbak Rizka. Membuatnya benar-benar tambah kesal.

"Woii, ngapain lo?" Ucap Maya yang baru selesai mandi, menghampiri Ana.

Ana menunjukan kitabnya. "Belajar buat tes nanti," ujarnya lirih, masih fokus murodi kitab bulughul marom.

"Cuma tinggal satu hari gak usah terlalu serius napa." Ucap Jule ikut nimbrung, menyingkirkan novel yang sedari tadi di bacanya.

Ana mendengkus malas. "Makanya karena ini tes terakhir harus serius, sayang." Ucapnya, kemudian kembali fokus ke kitab.

Maya beranjak ke depan lokernya, memakai handbody. "Gak sampai satu bulan lagi kita kelulusan, gimana, kalian mau lanjut di sini atau gimana?"

Ana meletakan kitabnya, menatap Jule dan Maya bergantian. "Gue belum tahu mau gimana." Ujar Ana yang juga bingung. "Tujuan gue belum tercapai di sini." Gumam Ana kecil.

"Hah apa?" Jule menatap Ana penuh tanya.

"Gue masih betah di sini." Ucap Ana asal.

"Gue kayaknya mau pindah deh, nyokap nyuruh gue pindah." Ucap Maya terdengar agak sedih.

"Uluh-uluh jan sedih dong." Ucap Jule, memeluk Maya. Ana yang melihatnya hanya tersenyum kecil.

*****

Selama waktu pengerjaan soal tes Ana benar-benar mencermati dengan serius, memastikan jawabnnya tidak banyak yang salah, ini adalah tes terakhirnya untuk kenaikan kelas diniah. Ana menghembuskan nafas lega ketika semua soal sudah terjawab, hanya tinggal mengecek ulang jawabannya.

"Assalamualaikum, maaf ustad menggangu." Seketika salam tersebut membuat seluruh penghuni ruangan mengalihkan perhatian mereka, menatap si pengucap salam.

"Waalaikum salam, kenapa kang?" Tanya gus Faruq.

"Afwan ustad, saya di suruh memanggil Angelia, di tunggu di depan madin." Ucap kakang tersebut.

Ana mengernyitkan dahinya, menatap kakang itu penuh tanya. "Siapa yang cariin?"

"Ustad Ian." Ujarnya menjawab.

Membuat seluruh santri yang ada di kelas mengalihkan perhatiannya dari lembar ujian, menatap heran dan penuh tanya.

Ana berdiri, beranjak ke depan meja gus faruq. "Afwan ustad saya ijin keluar boleh?"

"Kamu udah selesai belom?"

"Udah ustad." Jawab Ana sambil membawa kertas jawabannya ke depan pengawas. Ia sedikit merasa tidak nyaman. "Kenapa ya?" gumam Ana.

Mubayyin [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang