Chapter 37

971 34 25
                                        

HAPPY READING GUYS🍂
●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●

"Mana kang MC profesional itu? Yang katanya melebihi bakat saya?" sergah Azmi saat Ian datang ke mushola, acara akan di mulai nanti sehabis isya. "Mana kang mana?!" Serunya tidak sabar.

Ian melirik kesebelahnya, Ana berdiri dengan tangan saling menggenggam, dan mulut komat-kamit seperti meramalkan mantra.

"Ngapain lo kesini jam segini? Temen-teman yang lain mana?" Kini Azmi berpindah menyerocos ke Ana.

Ana mendongak linglung, menatap Azmi lalu menatap Ian, kemudian balik ke Azmi lagi. "Lo bilang apa barusan? Maaf nggak denger?" Tanya Ana, bukan meledek, tetapi ia memang tidak mendengar apa yang Azmi katakan.

Wajah Azmi langsung berubah masam. "Ngapain lo di sini," teriaknya lebih keras, membalaskan rasa kesalnya.

Mendengar teriakan temannya, Amal langsung berlari menghampiri, "Maaf lagi kumat dia," ucap Amal sambil menampar pelan muka Azmi. "Berisik lo ganggu!"

"Lagian dia ngeselin." Azmi menunjuk Ana yang masih komat-kamit menghafalkan pelafalan naskah MCnya.

Amal menatap Ana dengan senyuman mengembang, rasa suka itu masih ada dalam hatinya, belum hilang atau mungkin tak akan hilang.

Ian melirik tajam Amal, menyaksikan laki-laki itu melihat Ana tanpa berkedip membuat hatinya kesal. "Ini MCnya." Ian sengaja berkata keras, membuat Amal mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan gugup, Ana yang tadinya menunduk juga kini menatap Ian.

Sedangkan Azmi melongo di tempat, sedikit tidak percaya bahwa yang menjadi MC adalah Ana. "Lo MCnya? Kang Ian yakin dia yang bakalan gantiin aku? Kang Ian enggak salah?!" Azmi berseru mempertanyakan, tidak terima jika Ana dibilang MC profesional yang melebihi dirinya.

Ian mengangguk mantap. "Yaki-"

"Kenapa lo nggak terima? Gue emang profesional." Sahut Ana, bahkan memotong omongan Ian. "Lo MC ecek-ecek makanya gue yang bakalan gantiin." Ana berkata dengan bangga.

"Halah, nggak percaya gue coba buktiin."

"Okey." Ana merasa tertantang.

"Azmi, Amal sini! Ini acaranya gimana?!" Seorang bapak-bapak memanggil. Membuat Azmi dan Amal segera berlari mendekat, mereka adalah panitia inti acara.

Ana tersenyum miring, "Dasar payah!'

"Heh mulut, nggak boleh ngomong kayak gitu." Tegur Ian segera. Ia membawa Ana kesini tadinya untuk gladi bersih, tetapi ternyata panggung masih agak berantakan. "Latihan di rumah lagi aja lah, sekalian abang nyelesain deadline lukisan." Ajak Ian untuk balik kerumah. Karena harus sambil mengajari Ana untuk ngeMC lukisannya jadi belum selesai, padahal besok mereka sudah harus berangkat ke pondok.

"Okeh ayoklah." Ana mengangguk setuju.

Mereka berdua kembali pulang kerumah Ian dengan jalan kaki, sepanjang jalan Ana terus meramalkan bagiannya nanti, sedangkan Ian berjalan sambil diam, sesekali menyapa para tetangga yang ada di depan rumah.

Bagi para penduduk sana rasanya sudah tidak asing belihat Ian dan Ana yang begitu dekat, karena sejak kecil mereka berdua sudah seperti kakak adik.

******


Malamnya Ana menjalankan tugasnya dengan lancar, walau di tengah acara tadi ia salah menyebutkan salah satu nama anak tetapi itu masih bisa di toleransir. Ian pun seperti biasa, menjalankan tugasnya sebagai fotografer Ana dari bawah panggung, ia memakai camera milik ayahnya karena miliknya ada di pondok.

Mubayyin [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang