Chapter 2

1.1K 45 1
                                        

Happy Reading guys🤗

○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○

Sepulang dari pondok pesantren Assalam kepala Ana di penuhi banyak sekali pertanyaan dan rasa ingin tahu berlebih, semua itu berawal dari pria yang ia temui di mall tadi. Ia ingin sekali tahu, apa yang ia pikirkan benar ataukah salah.

Pun jika ia harus menghampiri ke sana lagi bukankah terlalu jauh, apalagi ia masih belum tahu kepastiannya. Dari kasur ia beranjak duduk di depan meja belajar, membuka laci paling bawah. Mengeluarkan kotak persegi yang tidak terlalu besar.

Ana mengambil foto di dalamnya. Foto-foto ibunya dengan seorang pria yang sangat asing di mata Ana, namun hari ini ia tak menyangka bertemu langsung dengan pria tersebut. Ia belum yakin apakah pria itu ayahnya atau bukan, dari kecil ia tak pernah di beri tahu siapa ayahnya.

Saat kecil nenek sempat bercerita bahwa ayahnya sedang pergi untuk bekerja, hingga setelah ibu meninggal dan ia yang mulai dewasa menemukan foto-foto ini. Nenek pun akhirnya bercerita banyak hal, termasuk pria tersebut.

"Gimana caranya biar gua bisa balik ke sana lagi," gumam Ana sambil terbaring di kasurnya. Pikiranya berkelana ke mana-mana.

"Ana bangun cepattt, berangkat sekolah udah siang." Seru sang nenek dari luar kamar.

"Iya Nek" jawab Ana lirih, kemudian pergi ke kamar mandi untuk ganti baju. Ia sudah mandi sejak subuh tadi tapi setelah itu kembali bersantai di kasur tercinta.

Setelah siap Ana keluar dari kamar menuju meja makan, menghampiri sang nenek yang sedang meminum teh hangat. "Nenek ayok makan," ajak Ana.

"Nenek nanti aja agak siangan, sekarang kamu makan cepet nanti telat."

Ana mengangguk kecil sebagai jawaban, sembari memakan sarapannya ia menatap sang nenek dengan penuh tanya. Tapi sepatah katapun tak keluar dari mulut mungilnya.

"Kenapa?"

Ana menggeleng pelan, kemudian menyudahi sarapannya. Meminum segelas air putih lalu beranjak berdiri. "Ana berangkat ya nek, assalamu'alaikum."

"Wa'alaikum salam, hati-hati di jalan."

Ana berangkat sekolah menggunakan motor maticnya, Honda Vario 125 yang berwarna kuning. Hadiah birth seven teen tahun lalu, dari sang nenek tentunya. Sampainya di sekolah Ana parkir di tempat biasa, kemudian berjalan di lorong kelas X untuk menuju ke tangga lantai atas. Kelasnya berada di lantai 3, sangat melelahkan karena harus naik-turun tangga.

"Anaaaa, suram tuh muka. Ada masalah hidup apa?" Tanya Serly sahabatnya.

"Pengin punya pacar, tapi enggak ada yang gua suka" jawab Ana asal. Kemudian duduk di samping Nella, melipat tangannya di atas meja di lanjut dengan kepalanya yang ia rebahkan di atas tangan.

"Noh sama sih Amal aja, lumayan kan dia ganteng. Mana tuh orang cuek-cuek friendly," jawab Serly, ia ikut merebahkan tangan di meja, Menghadap Ana. "Gue heran deh lo kok bisa cantik banget sih."

"Heh lagi ngapain kalian berdua!!" Mendengar suara cempreng itu membuat kepala Ana semakin pening.

"Diem deh sin, suara lo bikin gua pusing tahu." Ucap Ana pada Sindy, sahabatnya juga. Walau terkadang Ana malas mengakuinya, terlebih keaktifan sindy yang berada di atas rata-rata manusia.

Ana mengangkat kepalanya dari meja, kemudian berdiri sambil merapihkan bajunya yang sedikit kusut. "Gua mau ke kamar mandi, ikut gak kalian?"

"Males lah, ngajak tuh ke kantin. Ngajak kok ke kamar mandi" ceplos Sindy santai.

Mubayyin [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang