Chapter 15

576 28 0
                                        

HAPPY READING GUYS 🥰

●●●●●●●●●●

Sepulang dari mengaji klasikal sore, kamar Ana di ributkan oleh tingkah Maya yang lebih sensitif, dan semua menjadi serba salah. Dan sasaran utama Maya tentu saja para teman-temannya.

"Ish awas aja tuh orang, ish benci banget deh." Gerutu Maya sambil memukul-mukul kasur. "Caper banget, gak bisa gitu diam aja, padahal kan gue mau jawab." Sambungnya lagi masih belum menerima kejadian tadi.

"Udah lah Ma-"

"Heh, gak bisa gitu!" Seru Maya galak, memotong ucapan Ella.

Ana menepuk bahu Ella pelan, ia beranjak ke rak makanan dan mengambil Snack. "Mending makan ini buat ganjel perut," ujarnya karena sebentar lagi mereka akan Takror. Dan sore tadi waktu makan mereka terbuang lantaran menenangkan Maya.

Jule mengangguk setuju, ikut memakan Snack yang ada di tangan Ana. Tak sengaja juga tangan Jule menyenggol tangan Ana. "Lo masih pusing gak." Tanya Jule tiba-tiba.

Ana menoleh heran. "Emang kenapa?"

Jule meletakkan tangannya di dahi Ana. "Tubuh Lo panas lagi nih, udah mending istirahat aja."

"Tenang aja gue gak apa-apa kok, cuma demam ringan." Elak Ana, walau memang sebenarnya tubuhnya agak lemas. Tapi ia tidak ingin di pandang lemah, karena sedari dulu pun ketika sakit Ana akan berusaha menutupinya.

"Udah istirahat aja, nanti aku ijinin Takror." Ucap Ella prihatin.

Ana hanya mendengkus, lalu bersandar pada kasur. "Coba deh nanti gimana." Jawabnya.

Ketika memasuki waktu Takror Ana memutuskan untuk izin dan tidur di kamarnya, rasanya kepala Ana semakin terasa lebih berat. Ia juga mengeratkan sarung yang di gunakan untuk menyelimuti tubuhnya, karena ia tidak membawa selimut.

Sekarang memasuki musim penghujan, hawa dingin semakin terasa menusuk. Padahal biasanya Ana tidur tanpa menggunakan selimut pun rasanya masih sangat panas, apalagi di kamar tidak ada kipas angin.

"Ana, ana bangun."

Ana merasa seseorang menggoyangkan tubuhnya, ia membuka matanya pelan, menyesuaikan kilau lampu yang membuat kepalanya semakin pusing. "Kenapa mbak?" Lirih Ana melihat Mbak Rizka.

"Ada kang Ian di bawah, kamu mau turun atau gimana?" Tanya Rizka menatap khawatir Ana.

Ana menggeleng. "Bilang aja aku lagi tidur mbak," jawab Ana entah sadar atau tidak, karena matanya kembali terpejam.

Rizka membenarkan sarung yang menutupi tubuh Ana. "Kamu punya selimut atau gak?"

Ana menggeleng sebagai jawaban, hening, Sampai Ana merasakan sesuatu yang lembut dan hangat membungkus tubuhnya.

"Yaudah Mbak turun ke bawah dulu."

*****

Di tengah gerimis yang membungkus desa, Ian duduk sambil memainkan handphonenya di pos penjaga, menunggu kedatangan Ana. Laki-laki itu sengaja memilih waktu Takror agar tidak banyak santri yang melihatnya, karena hal itu akan membuat Ana tidak nyaman.

Ian membawakan Ana, minyak telon, obat penurun panas, dan buah melon yang sudah ia potong-potong di rumah tadi. Tak lupa ia juga membawakan donat kesukaan Ana.

Mubayyin [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang