Chapter 32

470 27 2
                                        

HAPPY READING 🐣
●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●

Selama menuju kamar bibir Ana terus mengembangkan senyuman manis, memeluk penuh sayang paper bag yang ada ditangannya. Altha sungguh baik hati, dan ia sudah tidak sabar untuk membuka buku tersebut.

Keadaan kamar masih ramai, banyak santri yang masih membicarakan gus Robert, benar-benar seluruh anak kamar membicarakannya. Ana tak ambil pusing dengan itu, ia duduk di tempat tidurnya dan membuka isi paper bag. Terdapat dua buah buku yang ia inginkan, Ana menahan teriakannya saat memegang buku tersebut. Entah kenapa rasanya sangat bahagia saat ada orang yang memberikannya sebuah buku.

Selain buku di dalam paper bag juga ada tiga batang cokelat, oleh-oleh makanan dari Altha. Tetapi tatapan Ana tetap saja tertuju pada kedua buku itu, ia menghirup dalam-dalam aroma buku tersebut, benar-benar memabukan.

"Wiih buku baru nih."

Ana menyengir lebar sebagai jawaban. Membiarkan mbak Nurul mengambil buku yang satunya, membolak-balikan halamannya lalu kemudian menatap lama cokelat yang ada di kasur. Nirul memicingkan matanya.

"Dapet dari mana nih cokelat?" Tanya Nurul sambil memainkan cokelat tersebut di tangan. "Kayak kenal deh." Tambahnya.

Ana mengerjabkan matanya, ia berdehem pelan. "Anu itu, tadi ketemu ustad Ian terus dikasih." Jawab Ana berharap mbak Nurul tidak bertanya lebih lanjut.

"Iyakah?"

Ana mengangguk. "Emang kenapa?"

Nurul menggeleng, ia mengembalikan cokelat tersebut ke Ana. "Mungkin ustad Ian dapet dari gus Robert."

Ana mengangguk. "Mungkin."

"Eh kamu masih gantiin Rizka besok sore?"

Ana mengangguk, ia masih bertugas menggantikan mbak Rizka sebagai pengajar di madin. Dan entah mengapa ia malah semakin menikmati, rasanya ia  malah ingin menjadi seorang guru, menyenangkan.

"Di sana juga ada pengajar baru yah? Yang cowok, kayaknya dia seumuran sama kamu." Nurul duduk di kasur sebelah Ana.

"Haris?"

"Ah iya itu."

"Iya temen sekelas aku, kenapa emangnya?"

Nurul menggeleng, ia hanya ingin tahu, kemudian pandangannya beralih menatap pintu masuk, bertepatan juga dengan Azkya dan Ella yang masuk kedalam kamar, menuju pojokan. Nurul menatap Ana, dulu ia lihat mereka cukup dekat kenapa sekarang jadi asing. Tapi ia tidak cukup berani untuk menanyakannya.

"Kamu sama Ian itu saudara atau gimana sih?" Nurul mencari topik lain, ia hanya tahu bahwa Ana adalah piyik Ian, tetapi setelah beberapa kali melihat interaksi mereka rasanya lebih dari seseorang yang dititipkan.

Ana menggeleng, entah bagaimana ia akan menjelaskan hubungan mereka. "Tetangga mungkin." Jawab Ana samar, ia sendiri meragukan jawabannya. Mau mengakatan saudara mereka tidak punya hubungan darah, tetangga juga tidak masuk karena Ana merasa sudah di anggap keluarga di sana.

"Permisi mbak, ini yang jual minum siapa yah, kembaliannya nggak ada." Ujar seseorang di pintu kamar.

"Kurang berapa?" Ana beranjak dari kasur, pergi keluar kamar, lampu komplek sudah padam, beberapa santri juga terlihat sudah terlelap dalam tidurnya. Kadang Ana heran, di kamar sudah ada tempat untuk tidur kenapa malah mereka memilih tidur di luar.

"Kurang seribu lima ratus mba."

"Sebentar." Ana masuk kembali kedalam kamar, ia membuka loker bajunya dan mengambil uang recehan. "Nih,"

Mubayyin [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang