Chapter 35

476 28 1
                                        

HAPPY READING GUYS

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Lagi-lagi Ana tidur di kamar Ian, saat masuk ke kamar tidak ada yang berubah, kamar itu masih tetap sama seperti terakhir kali ia menginap. Mungkin karena Ian sendiri jarang tidur di kamar ini, jadi kamar ini tetap sama, tidak ada tambahan barang dan lainnya.

Ana mengunci pintu, ia melepaskan jilbab dan menggerai rambutnya yang panjang, pergi mengambil gitar yang ada di pojok ruangan dan mulai memainkannya di dekat jendela, ia tidak begitu mahir, tetapi ia bisa.

Satu demi satu lagu ia mainkan bergantian sampai suara ketukan di pintu menghentikan kegiatannya. "Siapa?"

"Hantuuuu,"

Ana meletakkan gitarnya di kasur, ia memakai kembali jilbabnya dan membuka pintu kamar. "Aaaa," Ana berteriak kaget saat wajah boneka panda muncul di depannya.

Gelagak tawa muncul setelahnya, boneka itu bergeser ke samping dan munculah wajah Ian yang merah karena tertawa. "Gitu aja teriak," ledek Ian. "Nih ambil." Cowok itu menyerahkan boneka panda Ana yang tadinya ada di mobil, lalu dari tangan yang satunya lagi ia menyerahkan segelas susu cokelat. "Abisin, terus tidur, bye." Setelah mengatakan itu Ian langsung balik badan dan turun ke bawah, bersiap tidur di sofa ruang tamu.

Ana ngelag cukup lama, kemudian menatap susu yang ada di tangannya. "Alah paling di suruh bunda, jangan baper Ana." Gumamnya pelan, masuk kembali ke kamar.

******

"Abis ngapain bang?"

Ian menggeleng, ia berada di anak tangga terakhir dan Mawar baru saja keluar kamar.

"Awas kamu macem-macem, jangan ke atas!" Perintah wanita itu mutlak.

Tanpa di beri tahu Ian pun juga tahu batasan. "Iya bunda,"

"Udah sana tidur, selimut sama bantalnya udah bunda taruh di sofa." Mawar sengaja mengambilkan selimut dan bantal untuk Ian dari kamarnya agar anak itu tidak merecoki Ana.

"Iya bunda siap." Ian segera menuju ke sofa, ia menyalakan handphone dan menonton vidio kajian, hal ini sudah menjadi kebiasaannya sebelum tidur.

Lewat beberapa menit tiba-tiba fokus Ian kabur, pikirannya malah melayang ke pak Hendra, bagaimana cara ia bisa membuktikan bahwa laki-laki itu memang benar ayah kandung Ana atau bukan. Ian mematikan vidio tontonannya, ia duduk di sofa sambil menatap lurus kedepan, mencari cara. Dan kenapa juga Ana bisa menebak itu ayahnya kalau ia sendiri belum pernah melihat secara langsung.

Ian memutuskan keluar rumah, sebelum itu ia mengetok kamar orang tuanya. "Bunda, bun!" Teriaknya agak keras.

"Bunda!"

"Apasih bang?!" Mawar keluar dengan raut wajah dendam. "Kenapa?"

"Pinjem sarung ayah, abang mau keluar sebentar." Ujar Ian dengan wajah melas, di akhiri cengiran, berharap bundanya luluh.

"Mau kemana kamu?" Mawar masuk kedalam dan mengambil sarung suaminya di lemari. "Udah sana, jangan ganggu kita."

"Okeh siap bunda." Ian berlari kecil ke arah dapur, ia memakai sarung tersebut kemudian mengambil beberapa snack untuk di masukan kedalam kantong keresek. Ia akan ke pos ronda, karena biasanya yang ronda adalah bapak-bapak asli kampung sini jadi ia akan mencoba mengorek informasi.

Mubayyin [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang