HAPPY READING 🤗
●●●●●●●●●●
Ana duduk termenung di atas kasur, ia baru saja selesai memakai handbody dan bersiap untuk tidur. Para teman-temannya yang lain sedang duduk tongkrongan di lantai bawah, sambil memakan camilan.
"Gue pulang aja kali ya?" Gumam Ana pelan, situasinya saat ini benar-benar tidak menguntungkan. Lagi pula tujuan awal ia kesini untuk mencari keberadaan sang ayah, dan kini malah tidak bisa bergerak secara leluasa.
Sudah satu Minggu Ana dan Ian tidak bertemu, sepertinya laki-laki itu sengaja menghindar. Pasalnya setelah beberapa hari sejak ia di marahin Ian, ia sempat menitipkan salam namun tetap saja Ian tidak datang.
"Capek." Gumam Ana pelan, mengambil Tote bag di lemari. Ia memasukan dompet, uang cash, dan obatnya. "Bodo amat lah sama pengurus." Begitu mengecek tidak ada yang kurang Ana balik ke kasur. Niatnya besok ia akan pulang ke rumah, menggunakan taksi mungkin. Toh sekarang banyak sekali tranportasi umum.
Sesuai rencana, paginya Ana menyuruh agar Ella berangkat sekolah lebih dulu. Ia sengaja berlama-lama di kamar mandi agar Ella tidak menunggunya, sampai jam menunjukkan pukul 06:55 Ana memutuskan keluar dari pondok.
Ana mengenakan seragam OSIS yang di lapisi kemeja, ia juga membawa Tote bag yang sudah di siapkan tadi malam. Ana berjalan ke persimpangan jalan yang lumayan jauh dari kawasan pondok untuk mencari ojek agar sampai di pusat kota, sehingga mudah baginya mencari taksi.
"Dari sini sampai ke mall berapa bang?" Tanya Ana pada salah satu tukang ojek, sengaja tujuannya ke mall karena itu tempat strategis untuk mendapatkan taksi.
"Dua puluh ribu, Mbak."
Ana mengangguk kecil. "Yaudah ayok bang cepet, keburu panas nanti." Ucap Ana sambil naik ke atas motor, tak lupa mengenakan helm yang di sodorkan Abang ojek.
Di perjalanan pikiran Ana berlabuh ke banyak hal, tentang Ian, ayahnya, nasib handphone, dan juga reaksi sang nenek jika mengetahui dirinya pulang, apalagi tanpa ijin.
"Mbak bule?"
"Keturunan pak." Jawab Ana seadanya, tidak di pungkiri setiap ia bertemu dengan orang baru pasti mereka menanyakan hal yang sama. Bahkan kadang banyak yang memulai obrolan dengan bahasa Inggris.
"Mau ke mall ngapain Mbak, gak sekolah?" Tanya tukang ojek tersebut lagi.
"Enggak, mau refreshing."
Percakapan masih terus berlangsung sampai Ana turun di depan mall, dan tepat setelahnya sebuah taksi berhenti tak jauh dari situ. Ana segera menghampirinya dan menyebutkan lokasi tujuannya.
Pengemudi taksi tersebut mengangguk, kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan pusat kota. "Mbak gak sekolah mau kemana? Pergi sendirian jauh-jauh."
Ana tersenyum. "Saya mau pulang ke rumah pak." Jawab Ana sesopan mungkin.
"Ouh kamu anak pondok?"
Ana tersentak kaget, namun setelahnya mengangguk. "Kok bapak bisa tau sih."
"Keliatan kok, pondok mana? Assalam?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Mubayyin [On Going]
Teen FictionUsaha Ana dalam mencari keberadaan sang ayah membuatnya harus tinggal di pondok pesantren, dan berada dalam pengawasan Ian, tetangga sekaligus ustad di pesantren itu. Walau di awal merasa terkekang dan tidak membuahkan hasil, namun kedekatannya deng...
![Mubayyin [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/332756967-64-k237080.jpg)