Chapter 34

467 32 1
                                        

HAPPY READING GUYS

●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●

Setelah dari taman mereka kembali melanjutkan perjalanan ke rumah, sejak masuk mobil Ana terus-menerus menatap ke luar kaca jendela. Ia tak punya muka untuk melihat ke arah Ian, mengingat bagaimana ia tadi menangis dan Ian melihatnya, membuat rasa malu Ana meluap-luap.

Ian tertawa pelan, ia dapat melihat raut wajah Ana dari pantulan kaca jendela. "Itu donatnya di makan lagi."

Hening, bahkan untuk mengeluarkan suara pun Ana merasa malu.

Ian berdecak pelan, ia menepikan mobilnya ke samping dan menghentikannya sebentar untuk mengambil donat di jok belakang. Ia menaruh box itu di pangkuan Ana. "Makan," ucapnya, kembali menjalankan mobil.

Ana masih tetap dengan posisinya, dengan mata mencuri-curi pandang ke arah donat.

"Abang nggak akan ledekin kamu, beneran, udah di makan itu donatnya."

Ana sedikit merubah posisi tubuhnya, kini ia menatap depan, tetapi masih belum berani menatap Ian. Ia membuka box donat, di dalamnya masih tersisa tiga ia mengambil satu yang berwarna hijau dan memakannya.

"Eh itu jangan lupa hoodie abang cuci nanti, kena ingus kamu."

Ana menoleh cepat, menatap Ian tajam. "Pembohong emang!" Ujarnya, kemudian kembali menatap keluar jendela mobil, dengan mulut penuh gigitan donat.

Melihat itu Ian tertawa keras. "Iya, iya abang cuma bercanda, maaf."

Setalahnya Ian fokus ke jalanan, sedangkan Ana di sampingnya asik memakan donat. Tidak ada pembicaraan di antara mereka, lebih tepatnya Ana tidak berani memulai dan Ian juga sibuk dengan pikirannya.

Tiga puluh menit berlalu mobil sudah memasuki kawasan tempat tinggal mereka, Ian melirik ke samping, pantas saja sedari tadi tidak ada suara ternyata Ana tidur, wajahnya ia tenggelamkan pada boneka.

Ian memeriksa handphonenya, ada pesan masuk dari bunda yang meminta tolong untuk membeli beberapa kebutuhan rumah. Karena di daerah mereka tidak ada swalayan, Ian mencari alfamart terdekat.

Ian melihat Ana dari samping, kemudian keluar dari mobil. Karena barang yang harus dibeli tidak terlalu banyak, biarlah Ana tetap tidur di mobil. Satu persatu barang yang dilist bundanya sudah ia ambil, tak lupa menambahkan beberapa Snack, coklat, dan eskrim untuk Ana.

Sambil menunggu antrian Ian berkali-kali melirik keluar, ke arah mobil.

"Ada tambahan lagi mas?"

Ian menggeleng, "Udah itu aja mbak."

Selesai membayar Ian langsung menuju mobil, meletakkan belanjaan di jok belakang dan menjalankan mobil menuju rumah. Sebenarnya tidak ada acara yang begitu penting untuk mereka hadiri, itu hanyalah alasannya untuk membawa Ana pulang. Karena melihat beberapa hari terakhir Ana sering tiba-tiba menangis ia jadi sedikit khawatir.

Begitu sampai di depan rumah Ian turun dari mobil untuk membuka gerbang sendiri dan memasukan mobil kedalam. Memarkirkan mobilnya di belakang mobil sang bunda yang menyala terang.

Tanpa membangunkan Ana, Ian langsung turun dan masuk kedalam rumah.

"Mana Ana?! Kok kamu sendiri?" Mawar yang sedari tadi nunggu di ruang tamu langsung berdiri panik.

"Di mobil, tidur." jawab Ian, sebelum Mawar berlari kedepan ia buru-buru mencegahnya terlebih dahulu untuk salim. "Anaknya yang ini loh bunda," ucapnya tapi Mawar tidak peduli.

Ian berjalan menghampiri ayahnya yang sedang menonton sebuah drama di TV, ia bergabung dengan laki-laki. Menonton dengan fokus hingga ikut terbawa alur drama, sedangkan tangannya ia gunakan untuk memegang toples berisi kacang, memakannya.

Mubayyin [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang