Chapter 17

434 27 0
                                        

HAPPY READING GUYS

●●●●●●●●

Suara riuh tampak mendominasi ruang kelas, para siswa tampak sedang bercanda untuk mengisi waktu luang. Beberapa di antara mereka juga memanfaatkan waktu itu untuk belajar.

"Mumpung jam kosong, coba ayok ih Lo ceritain kegiatan di pondok putra." Bujuk Ana pada Haris dan Lukman, sedari dulu ia penasaran.

"Buat apa coba?"

"Ayoklah haris, Lo mah jahat banget ih kan gue penasaran." Bujuk Ana lagi.

Haris menghela nafas panjang. "Enggak beda jauh sama santri putri Ana, kita kan di pondok yang sama jadi ya sama jadwalnya." Jelas Haris.

Ana bersedekap dada, kesal.

"Yaudah coba dong cerita atau apa gitu, biar waktunya bermanfaat." Ucap Ella menengahi pertengkaran mereka.

"Eh btw beberapa bulan lagi kan kita lulus yah, kalian mau lanjut kemana?"

Pertanyaan itu membuat mereka semua serempak diam, memikirkan dalam benak masing-masing akan menjadi apa mereka kedepannya. Dan memang benar, waktunya tak lama lagi hanya tinggal menunggu hitungan bulan.

"Gak tau." Jawab Lukman mendahului.

"Mungkin masih lanjut di sini, soalnya gue udah di tembung gantiin salah satu ustad ngajar klasikal pagi sama sore." Jawab Haris seadanya.

"Wah keren," jawab Ella. "Aku juga mungkin masih di sini, sekadar menyelesaikan diniah aja sih."

"Kalau ayang gimana?" Tanya Samsul penasaran, anak itu pergi membolos dan berujung di kelasnya.

"Gue?" Tanya Ana, ia berdiam sebentar. "Maybe tetep di sini, tapi gak tau juga liat aja besok. " Jawabnya di sertai senyuman kecil. "Kalau kamu gimana fan?"

"Kuliah, pengin jadi nakes soalnya." Jawab Fany semangat.

"Aamiin semoga tercapai deh."

Saat para teman-temannya masih asik melanjutkan topik tadi, Ana termenung, sejauh ini ia belum memikirkan kedepannya akan gimana. Karena selama ini tujuannya hanya satu, mencari ayahnya. Bahkan ia juga tidak tahu, setelah ia menemukan ayahnya ia akan bagaimana, apa yang akan ia lakukan.

Mungkin sedari sekarang ia harus cepat-cepat memikirkannya. Dan akan ia pastikan ia lulus dengan nilai terbaik, untuk membanggakan nenek dan tante Mawar.

"Ngelamun mulu!" Terus Samsul, membuat Ana tersentak kaget.

"Ish, kaget tau." Balasnya sengit.

Samsul memasang wajah jahil. "Yah ayang mah, masa kayak gitu doang kaget." Ucapnya sambil menarik pulpen di tangan Ana.

Hampir saja tangan Ana mendarat kasar di kepala Samsul jika saya Fany tidak menengahi. "Udah-udah, kek bocil tau kalian berdua." Ujarnya, kemudian menjulurkan handphone di atas meja. "Nih yah dari pada ribut mending kita pilih tema buat yearbook besok." Ucapnya menunjukan beberapa referensi.

Haris memandang Ana sekilas, sebelum akhirnya terfokus pada handphone Fany. "Sambil cari juga konsep dokumenter buat film pendek angkatan kita yah." Ucap Haris, membenarkan kacamatanya. Lalu berbalik arah dan membaca buku.

Ana mengangkat sebelah alisnya heran, ada apa dengan Haris?

*****

"Akhirnya," seru seseorang di ruangan yang terlihat acak-acakan, dengan noda cat di mana-mana. Nampak laki-laki itu meletakkan kuasnya asal di meja dan duduk di kursi kecil, menenggak kaleng berisi kopi, sambil menikmati hasil karyanya.

Mubayyin [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang