Chapter 24

453 27 4
                                        

HAPPY READING GUYS
●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●

Setelah puas bermain dipantai sejak pagi, siangnya mereka berempat cek out dari hotel dan pulang kerumah, baru hari besoknya Ian dan Ana kembali kepondok. Sepanjang perjalanan pulang Ana tidur disandaran bahu Mawar yang sedang bekerja, walau masih dalam perjalanan ia tetap harus mengikuti zoom meeting. Sedangkan Ian menggantikan ayahnya menyetir, karena Fahri juga sedang menyicil pekerjaan.

Ian melihat Ana dari kaca, lalu fokus pada jalanan yang sepi. "Yah," Panggilnya.

"Hem," Jawab Fahri tanpa melihat anaknya.

Ian diam, menimang apakah ia akan mengatakannya atau tidak. "Ehm kalau semisal abang- ahh enggak jadi deh." Ian menggelengkan kepalanya, fokus menyetir.  Ia menoleh melihat sang  ayah, syukurlah laki-laki itu fokus pada kerjaannya dan tidak menghiraukan ucapannya tadi.

"Berhenti di Alfamart sebentar bang, bunda mau beli minum sama roti." Pinta Mawar, menutup laptopnya, ia sudah kelar meeting.

"Oke bunda." Ian menjalankan mobilnya dengan santai sambil mencari Alfamart terdekat.

"Kamu tadi mau bilang apa bang?" Tanya Mawar, tadi samar ia mendengar Ian mengatakan sesuatu pada ayahnya.

Ian reflek menoleh.

"Nyetir yang bener." Fahri memukul kepala anaknya.

"Eh maaf-maaf." Ian kembali melihat ke jalanan. "Bukan apa-apa kok bun, enggak penting." Ujarnya, menepikan mobil ke Alfamart sesuai perintah bundanya.

Mawar menggoyangkan lengan Ana. "Kamu mau makan sesuatu enggak?"

Ana mengerjabkan matanya pelan, membenarkan posisi duduknya. "Udah sampai tante?"

"Yeee telinga apa cantelan wajan itu." Sindir Ian, melihat lewat cermin.

Mawar tersenyum kecil. "Belum, kita ada di Alfamart, kamu mau makan sesuatu atau enggak?"

Ana mengangguk, ia memang lapar sejak tadi. "Mau roti aja sama sosis." Jawabnya masih dengan wajah lesu.

"Kalo ayah mau apa?"

"Minuman aja bun, kalau bisa yang kopi."

"Oke," Mawar turun dari mobil, kemudian mengetuk kaca jendela pengemudi. "Ayok cepet ikut turun, temenin bunda." Desaknya pada Ian.

Dengan malas Ian turun dari mobil, mengekori bundanya kedalam Alfamart.

******


Tiga jam total perjalanan pulang, ketika sampai di pekarangan rumah Ian, Ana langsung pamit pulang, sebenarnya ia malas jika bertemu para saudaranya yang lain, tetapi tante Mawar memberitahu bahwa rumah itu telah kosong sejak seminggu yang lalu.

"Ana pulang dulu, Om, Tante." Pamit Ana seturunnya dari mobil, ia juga sempat melambaikan tangan ke arah Ian sebelum berlari.

"Makan malem disini nanti." Teriak Mawar.

"Siap tante."

Ana membuka rumah dengan tidak sabar, ia masuk dalam rumah dengan perasaan penuh haru, mengistirahatkan badannya dan duduk diruang tamu depan TV, tempat ia dan sang nenek bersantai dulu. Ia menyalakam TV, menatap sekeliling, kemudian pergi kedapur duduk di meja makan, tempat ia menunggu nenek selesai memasak.

Kenangan demi kenangan berputar bagai kaset film dikepala Ana, membuat air matanya turun tanpa bisa dibendung lagi. Ana beranjak berdiri menuju kekamar sang nenek, isak tangisnya lepas tat kala menyadari bahwa kamar itu tak lagi sama adengan kamar neneknya yang dulu. Ia duduk dikasur, seharusnya seprai nenek berwarna hijau, ia menatap meja di samping tempat tidur, seharusnya disana ada fotonya dan sang nenek.

Mubayyin [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang