Chapter 20

505 33 1
                                        

HAPPY READING GUYS

●●●●●●●●

Langit sedikit terlihat gelap dengan awan abu-abu yang menutupi cerahnya, angin berhembus kencang, mungkin, alam juga turut berduka atas apa yang Ana rasakan. Gadis itu duduk diam di mobil dengan pandangan kosong, tangannya senantiasa memeluk boneka pemberian Ian.

"Sayang, udah jangan ngelamun yah, kamu mau apa? Donat?" Melihat kondisi Ana membuat Mawar cemas setiap waktu, ia tadinya tidak membolehkan Ana untuk berangkat dulu ke pondok, tapi kata Ian Ana sudah melewati batas izin.

Memang sekarang hari minggu, sudah lewat dua hari dari jadwal seharusnya Ana berangkat, kamaren sewaktu di rumah ia juga sempat jalan-jalan bersama teman sekolahnya dan bertemu Farez, tapi rasanya masih belum cukup, ia masih ingin berada di rumah.

Ana diam, tidak merespon, masih tetap memandang luar jendela mobil. Ia melihat tumbuhan di sekitar jalan raya, teringat sosok neneknya yang suka tanaman.

Ian menoleh, menatap cemas. "Angel." Panggilnya lembut.

Ana masih diam, tidak merespon.

"Angel, mas panggil kamu loh." Ucap Ian lagi, kali ini berhasil mengalihkan perhatian Ana.

"Kenapa mas?"

Ian tak menjawab, hanya menatap Ana, masih sama, masih dengan tatapan khawatir. "Yah, mampir ke toko donat yang belakang Alfamart perempatan depan ya," ujar Ian sambil menunjukan arah toko donat langganannya.

"Oke bang." Tanpa bertanya, semua yang di mobil tahu, bahkan Ana pun tahu, tujuan Ian kesana membeli donat untuk Ana.

Begitu donat sudah terbeli, mereka melanjutkan perjalanan ke pondok. Dan sesampainya di depan pondok putri, Mawar turun dari mobil, berniat mengantar Ana.

"Ndut," panggil Ian saat melihat Ana akan turun. "Bawa, buat di kamar nemenin kamu." Ian menyodorkan boneka panda milik Ana.

"Oke, makasih yah mas." Setelah mengucapkan itu Ana keluar dan memasuki gerbang pondok putri bersama Mawar, menyisakan Ian dan Fahri di mobil.

"Kamu jagain Ana loh bang, awas aja kalo sampe kenapa-kenapa." Ucap Fahri mengingatkan anaknya.

Ian mengangguk malas. Bahkan tanpa di suruhpun ia akan tetap menjaga Ana sepenuh hati. "Siap ayah."

"Beliin dia makanan, kasih uang, jadi abang yang baik, kurangin jail-jailnya." Ujar Fahri lagi, menambahkan.

Ian hanya mengangguk santai, ia melibat arloginya, sekarang pukul 10.00 pagi, para santri masih sekolah jadi keadaan pondok sepi. "Aku langsung pergi aja ya yah, paling minggu besok abang pulang buat ambil mobil."

"Oke, hati-hati bang, jaga kesehatan."

"Siap." Jawab Ian kemudian keluar dari mobil menuju koprasi, ia terlalu malas berjalan ke rumah, jadi ia akan meminjam salah satu sepeda motor milik temannya.

"Udah puas liburannya pak ustad?" Seruan tersebut berasal dari penjaga koprasi, yakni George.

"Puas dong, satu minggu." Jawab Zaynal yang ternyata ikut jaga juga, meledek Ian yang baru masuk koprasi, untungnya tidak terlalu ramai pembeli.

Ian mendekat kearah kasir. "Jelas, jarang-jarang kan gue liburan." Jawab Ian membanggakan diri. "Tapi sayangnya kerjaan gue terlantar." Ujarnya, ia masih mempunyai beberapa pesanan yang belum di buat termasuk dari klien yang baru bertemu seminggu yang lalu.

"Itusih, udah derita lo." Ujar Zaynal sambil membukakkan kaleng sosis untuk anak kecil.

"Lo mau pulang kapan?" Tanya Ian, ia berniat nebeng karena ternyata ada Zaynal.

Mubayyin [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang