HAPPY READING GUYS
●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●
"Gimana kang jadi mau apa enggak nih sama anak saya?"
Ian tertawa kecil mendengarnya. "Aduh si ibu, saya masih mau fokus ngaji." Jawab Ian sambil tersenyum sopan.
"Halah bilang aja enggak mau sama anaknya bu Nur, masih kecil juga." Seloroh ibu-ibu yang duduk di samping Ian. "Pasti kalo sama anak saya mau kan? Dia tahun ini semester 4." lanjut wanita setengah baya itu.
Ian lagi-lagi menanggapi dengan senyuman, sudah menjadi rutinitas jika ia pergi ke warung pasti akan mendapatkan pertanyaan yang sama.
"Atau kamu sudah punya calon?" Tebak Ibu penjaga warung.
Belum sempat Ian menjawabnya, ia malah lebih dulu teralihkan dengan sepeda motor yang lewat didepannya, dengan membawa tiga penunggang menggunakan seragam SMA. "Mirip Ana deh." Gumam Ian, pandangannya terus mengikuti arah laju motor.
"Udah lah enggak usah maksa Nur, cowok ganteng macam ustad Ian pasti udah punya calon lah."
"jadinya berapa bu?" Tanya Ian setelah kesadarannya kembali, tidak mendengar apa yang dikatakan ibu tadi.
"Jadinya 15.000 kang."
Ian segera menyerahkan uang untuk membarnya, lalu segera kembali kerumah.
*****
Dengan melewati gang sempit dan jalanan yang becek akhirnya mereka sampai di halaman rumah Ella yang dipenuhi dengan pepohonan.
Ana turun lebih dulu dari motor, masih dengan hati yang gelisah, terfikirkan Ian tadi, apkah laki-laki itu melihatnya? Semoga saja tidak.
"Rumah aku berantakan sorry ya." Ujar Ella merasa sedikit tidak enak.
Ana dan Fanny tersenyum ramah, disekitar mereka memang cukup berantakan, banyak balok-balok kayu berserakan juga botol-botol plastik.
"Kalem, aman kok rumah gue juga enggak jauh beda kalo lo mau tau." Jawab Ana. Namun kompak Fanny dan Ella memasang wajah tidak percaya.
"Enggak usah ngibuli kita." Jawab Fanny, mengikuti Ella dari belakang yang juga disusul Ana.
"Dih, enggak percaya, main kerumah gue ayok." Ucap Ana yang berjalan paling akhir, mengikuti Ella masuk kedalam rumah lewat pintu belakang.
"Assalamualaikum, bu." Panggil Ella dengan suara keras, masuk kedalam, ibunya sedang menjahit.
"Waalaikumsalam, pulang sama siapa El? Oalah sama nak Fanny, terus itu yang satu lagi siapa?" Tanya Ibu Ella saat menyadari keberadaan Ana.
"Saya Angelia bu, temannya Ella." Ana memperkenalkan diri seraya menyalimi ibu Ella.
"Dia anak pindahan bu." Jelas Ella. "Udah ayok masuk kekamar aku."
Satu jam berlalu tidak bnyak yang bisa dilakukan oleh mereka bertiga, hanya tiduran dan bermain handphone dengan cara bergantian. Ana sendiri karena bingung, dan juga tidak ingin menghubungi siapapun, jadi ia memilih membuka akun instagramnya dengan handphone Ella. Mengecek pesan yang masuk, dan membalas yang menurutnya penting.
Hingga munculah satu pesan yang membuat jantungnya berdegup kencang, sedikit panik. Pesan itu dari Ian yang menanyakan keberadaannya saat ini. "Apes banget gue." Dan tanpa berniat membalasnya Ana segera log out dari akun tersebut, ikut bergabung dengan Ella yang sedang menonton TV.
"Mienya dimakan dulu."
Ana mengangkat sebelah alisnya, baru sadar jika kedua temannya sedang makan mie. "Kapan buatnya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Mubayyin [On Going]
Genç KurguUsaha Ana dalam mencari keberadaan sang ayah membuatnya harus tinggal di pondok pesantren, dan berada dalam pengawasan Ian, tetangga sekaligus ustad di pesantren itu. Walau di awal merasa terkekang dan tidak membuahkan hasil, namun kedekatannya deng...
![Mubayyin [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/332756967-64-k237080.jpg)