Chapter 14

501 26 0
                                        


HAPPY READING GUYS

●●●●●●●●●●●

Sorakan demi sorakan para santri putri yang begitu semangat membuat suasana lapangan menjadi semakin riuh, mengingat sekarang tanggal merah, jadi kegiatan sekolah libur dan di isi dengan lomba futsal kakang di belakang pondok putra. Acara ini di buat sebagai hiburan para santri.

Dan sesuai dengan ajakan Jule dan Maya kemaren sekarang Ana tengah berdiri santai di pinggir lapangan melihat persiapan lomba para santri putra, tak henti-hentinya juga Jule memekik heboh melihat crush nya.

"Lo gak ngerasa panas apa pake Hoodie?" Ella menepuk pundak Ana keras.

"Enggak, agak dingin soalnya." Jawab Ana, sedari tadi pagi suhu tubuhnya memang agak meninggi, mungkin ia demam ringan.

"Wajah Lo pucat, atau jangan-jangan Lo sakit yah?" Kini Maya heboh mengecek suhu tubuh Ana. "Tuh kan panas, balik aja yuk."

Ana menggeleng cepat. "Bentar, gue pengin liat kakang main dulu." Ujar Ana sibuk memperhatikan kanan-kiri mencari keberadaan Ian. Tujuan utama ia kesini adalah ingin melihat Ian main, kapan lagi coba ia bisa melihat laki-laki itu main bola.

Ella menarik tangan Ana membuat gadis itu tersentak. "Di warung aja, sambil duduk." Ajaknya melihat warung yang tak jauh dari lapangan, di sana ramai anak-anak kecil yang juga semangat menonton.

Ana menurut, ia duduk di samping bocil-bocil yang menatapnya penasaran. "Lo balik aja ke sana sama Maya, Jule, biar gue liat dari sini."

"Enggak ah gue di sini aja temenin lo." Tolak Ella, tetap berdiri di samping Ana.

"Gue tahu Lo pengin liat kang Ali main, udah sana." Dorong Ana, ia paham jika teman-teman nya datang kesini memang ingin melihat crush masing-masing, berbeda dengan dirinya.

"Lo hati-hati ya disini, gue kesana bentar. Bye-bye." Setelah mengucapkan itu Ella langsung berlari menghampiri Maya dan Jule.

Ana memejamkan mata, menghalau rasa pusing di kepalanya, agak lama sampai ia merasakan ada seseorang yang berdiri di depannya. Ana membuka matanya perlahan, mencoba melihat dengan jelas siapa laki-laki di depannya. "Mas- eh Haris, ngapain?" Ucap Ana agak kikuk, ia kira tadi Ian yang menghampiri nya.

"Harusnya gue yang tanya ngapain Lo di sini, mana muka Lo pucat banget lagi." Jawab Haris, meneliti wajah mulus Ana. "Mau cuem siapa Lo lagi sakit juga."

"Gak cuem siapa-siapa," jawab Ana malas, menatap lapangan, tampak permainan akan segera di mulai, namun ia belum juga melihat Ian, padahal menurut informasi Jule, Tim Ian akan main di babak pertama.

"Halah, bentar." Haris berjalan menuju belakang warung, ia tampak mengobrol santai dengan ibu-ibu pemilik warung. Lalu tak lama kembali dengan nampan berisi teh dan juga roti. "Makan nih,"

Ana mengangkat sebelah alisnya heran. "Buat gue?"

"Ya terus kalo gak buat Lo buat siapa lagi Maemunah." Jawab Haris cepat, meletakkan nampan di samping Ana.

"Tumben lo baik?"

Haris menatap Ana malas. "Gue emang aslinya baik Ana." Ujarnya, menatap Ana dalam. "Itu di makan, gue mau nyusul Lukman sama Samsul, Lo di sini aja gak usah ikut ke sana, panas." Ucapnya lalu pergi, meninggalkan Ana dengan raut wajah heran.

Ketika punggung Haris menghilang baru Ana menatap teh yang terlihat masih panas, hingga lagi-lagi ia merasa seseorang berdiri di depannya. "Ngapain balik lagi?" Ucap Ana ketika belum menyadari siapa yang berdiri.

"Siapa?" Tanya balik Ian bingung.

"Hah? Ouh enggak." Jawab Ana seraya menatap Ian dan Zaynal bergantian. "Mas mau main?"

Mubayyin [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang