HAPPY READING GUYS
●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●
Beberapa bulan ini hujan terus turun membasahi bumi, membuat para santri selalu mengeluh karena jemuran nya tidak kering, selalu kehujanan saat pulang diniah, dan membuat suasana jadi malas untuk mengaji. Hal itu juga membuat Ana belum bertemu dengan Ian sedari ia sakit.
Di tengah suasana yang mendung, para santri tampak bersiap-siap untuk berangkat Diniah, tak lupa Beberapa dari mereka kerap membawa payung, untuk berjaga-jaga bila nanti hujan. Berbeda dengan Ana yang tampak tidak peduli dengan cuaca sekarang, ia tampak santai berangkat Diniah bersama para teman-temannya.
"Ah, enaknya kalau cuaca kayak ginih tuh tidur, mana nanti pelajaran ustad Ian lagi."
Ana mengangguk mantap. "Iya, aku juga ngantuk banget nih," Jawabnya sambil membenarkan posisi kitab. Namun dalam lubuk hatinya terdapat perasaan senang karena akhirnya akan bertemu Ian.
Mereka bertiga mempercepat jalan, menyusul para santri lain, takut tiba-tiba turun hujan. Dan benar saja, begitu sampai di depan Madin Diniah hujan turun deras, membuat para santri berlarian masuk kelas, bagi mereka yang berangkat akhir, naas harus meneduh di ruko pinggir jalan.
Ana mengibas - ngibaskas kerudungnya yang sedikit basah, ia melihat sekeliling, hampir sebagian para santri yang tadi berangkat bersama dengannya juga kehujanan.
"Ayok masuk ih, dingin di luar." Celetuk Ella menarik Ana masuk.
Ana menurut, ia duduk di bangku dan mulai membuka kitab, takut jika nanti ia di suruh maju menjelaskan. Tak lama, hingga bel masuk berbunyi, jadwal pelajaran pertama adalah Fiqih, baru nanti jam kedua Nahwu oleh Ian.
Ana memperhatikan dengan seksama apa yang sedang di jelaskan oleh ustad di depan, fiqih juga merupakan salah satu mata pelajaran yang Ana gemari.
Ketika bel istirahat berbunyi, para santri langsung bersemangat keluar kelas. Padahal sedari tadi sebagian dari mereka hanya tidur namun jika bel sudah berbunyi layaknya ada yang mendorong mereka untuk keluar dari kelas.
Ana juga tak melewatkan kesempatan ini, ia pergi ke penjual batagor dan mengantri bersama santri lain. Lama menunggu hingga ekor matanya melihat Ian yang baru datang ke Madin menaiki motor bersama Zaynal.
"Ustad Ian ganteng banget ih, bismillah lulus nikah sama aku."
Ana menoleh kaget mendengar pernyataan itu, namun ia langsung menutupi tingkahnya.
"Eh kalian gak tau gak sih, kemaren kang Ian sama mbak Rizka ketemuan di koprasi." Ujar santri lain menambah nuansa ghibah.
"Wah kapan tuh, kok aku gak tau."
"Udah lumayan lama sih, nah malem itu juga aku kan ronda tuh. Aku denger kalo Mbak Rizka bilang ke mbak Nurul kang Ian nganterin selimut sama makanan."
"Terus-terus gimana?"
"Mbak ini yang beli 5000 siapa?"
"Saya pak," ujar Ana mengambil batagor itu kemudian pergi ke kelas, bergabung dengan Ella dan Maya yang sedang makan pecel.
"Kok punya kalian udah mau habis sih," ujar Ana kesal, mulai memakan batagornya.
"Salah siapa milih penjual yang antri banget."
*****
Naas realita tak sesuai dengan ekspektasi, karena kini kelas Ana hanya di beri tugas untuk mengerjakan sesuatu. Karena para ustad sedang rapat untuk tes tengah semester.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mubayyin [On Going]
JugendliteraturUsaha Ana dalam mencari keberadaan sang ayah membuatnya harus tinggal di pondok pesantren, dan berada dalam pengawasan Ian, tetangga sekaligus ustad di pesantren itu. Walau di awal merasa terkekang dan tidak membuahkan hasil, namun kedekatannya deng...
![Mubayyin [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/332756967-64-k237080.jpg)