HAPPY READING GUYS
●●●●●●●●●●●●●●●●
Ana duduk sendirian di kasurnya, bergelut dengan pikirannya sendiri. Rasa-rasanya ia tidak memiliki salah dengan Ella, tapi kenapa gadis itu seakan menghindarinya. Tadi pagi, Ella datang ke kamarnya, ia kira Ella akan menemuianya, ternyata menemui santri baru di kamarnya. Dan karena hal itu juga, Ana baru ingat kalo ia pernah melihat foto Azkya bersama Ella, makanya ia tidak asing.
Ana menghembuskan nafas panjang, menatap sekeliling kamarnya yang sepi, hari ini para siswa sudah masuk sekolah. Sedangkan di kamarnya mayoritas anak sekolah, hanya 4 orang yang sudah lulus, termasuk dirinya.
Ana beranjak pergi keluar kamar, ia pergi kejemuran baju di lantai atas, menuju pojokan, disana sepi tapi juga damai, ia bisa melihat desa sekitar, sawah, ladang dan lainnya. "Hidup gue kok gini banget ya." Gumam Ana sambil berpegangan pada pembatas pagar.
Cukup lama Ana berada disana, sampai ia kembali ke kamar dan memutuskan mandi. Ia akan mencoba pergi menemui Ian, untuk meminta maaf dan bertanya apakah sudah menemukan pekerjaan untuknya.
"Tumben mandi gasik mau kemana?"
Di kamar mandi belakang ternyata banyak mbak-mbak yang sedang mandi, sebagian dari mereka pengurus. Ana meletakkan handuknya di gantungan. "Keluar sebentar mbak, cari angin." Ana menjawab mbak Rizka, sambil melepas bajunya.
"Atau mau ketemu Ian?" Rizka berbisik pada Ana, agar yang lain tidak mendengar.
Ana tersenyum, mengangguk. "Iya mbak." Jawabnya.
"Apatuh bisik-bisik." Mbak Naila ikut mendekat, bertanya dengan penasaran.
"Bukan apa-apa." Rizka kembali ketempatnya sambil tersenyum kecil ke arah Ana.
Ana ikut bergabung mandi, menggunakan kemben. "Nih mbak, kalian ngisi waktu kayak gini ngapain?" Tanya Ana.
"Mbak bentar lagi berangkat ngajar, kalo Naila ya jelas di ndalem." Jawab Rizka.
"Ouh."
"Kamu bosen?"
Ana mengangguk, ia tidak tahu harus melakukan apa untuk mengisi waktu luang.
"Nanti deh coba aku tanya ada lowongan guru atau enggak, kalo semisal ada kamu mau?"
"Boleh, ngajarin anak TK enggak seribet itukan?"
Rizka hanya menanggapi dengan tawa keras, lebih ke miris mungkin. "Nanti mbak coba tanyain."
"Okey makasih mbak."
*******
Ian menatap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Zaynal berdiri rapih di depannya, menggunakan kemeja biru tua dan celana cream. "Lo mau ngedate?"
"Pinjem mobil sebentar." Zaynal mengacungkan tangannya, meminta kunci mobil.
Ian memicingkan matanya, mengendus sekitar tubuh Zaynal. "Wangi banget mau kemana?"
Zaynal berdecak. "Keluar." Jawabnya malas. "Pinjem mobil sebentar ih, nanti gue telat."
"Jawab dulu mau kemana?" Ucap Ian sambil senyum-senyum meledek. "Jujur lo mau ketemu cewek kan?"
"Iya, udah sini pinjem mobil."
"Wah akhirnya!" Seru Ian sambil masuk kedalam kamar, mengambil kunci mobilnya. "Baik-baik mobilnya, jangan lecet."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mubayyin [On Going]
Ficção AdolescenteUsaha Ana dalam mencari keberadaan sang ayah membuatnya harus tinggal di pondok pesantren, dan berada dalam pengawasan Ian, tetangga sekaligus ustad di pesantren itu. Walau di awal merasa terkekang dan tidak membuahkan hasil, namun kedekatannya deng...
![Mubayyin [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/332756967-64-k237080.jpg)