Chapter 31

499 36 2
                                        

HAPPY READING GUYS🌸
●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●

Kabar kepulangan Altha telah sampai di telinga Ana, jika santri yang lain sudah tidak sabar menunggu dan berkumpul di halaman, Ana masih anteng di kamar sambil memilih pakaian yang bagus. Ia berencana menemui Altha nanti malam di koprasi, sebelumnya ia sudah bilang ke Ian dan bahkan janjian lewat telepon dengan Altha.

Jujur Ana tidak sabar melihat laki-laki itu, ia bahkan tersenyum sendiri saat membayangkan dirinya bertemu Altha nanti malam.

"Kamu enggak ikut nimbrung di bawah?" Nurul masuk kamar sambil membenarkan sarung, habis mandi.

"Males." Jawab Ana seakan tidak peduli.

"Ualah, kamu belum tahu rupa gus Robert yah, kalau udah tau pasti terpesona kamu." Nurul berkata dengan semangat.

Ana hanya memandang tanpa minat ke arah mbak Nurul. 'Gue udah tau yah, bahkan baru aja telponan tadi sore.' Ucap Ana tetapi hanya di dalam hatinya. "Iya mbak gak tau."

"Atau mau ikut aku ke ndalem, ayok buat liat wajahnya."

Mata Ana langsung berbinar saat mendengarnya, tapi setelah di pikir ulang, mungkin lebih baik tidak. Ia sudah janjian bertemu Altha di koprasi, pun jika nanti ia bertemu di ndalem, ia juga tidak bisa menyapa Altha dengan bebas. "Enggak deh mbak, makasih."

"Okedeh kalau enggak mau."

Ana tersenyum kecil, ia kembali memilih baju yang menurutnya bagus. Ia ingin tampil baik di depan Altha. Sudah lama ia tidak melihat laki-laki itu.

******

Ian dan Zaynal sudah selesai bersiap-siap ke pondok untuk menyambut kepulangan Altha. Mereka bahkan memakai baju couple.

"Nih lo yang kunci." Ian melemparkan kunci rumah kearah Zaynal, sedangkan dirinya langsung turun dan menunggu. Mereka akan pergi kepondok dengan jalan kaki karena akan bersama kakang-kakang yang lainnya nanti, bertemu di pertigaan jalan.

"Cepetan nal." Desak Ian.

"Sabar kenapa sih." Balas Zaynal agak merasa kesal. Tidak lama setelahnya Zaynal segera bergegas memakai sandalnya. "Ayok!" 

Baru saja mereka akan meninggalkan pekarangan rumah tiba-tiba sebuah mobil melintas dan berhenti di samping mereka.

"Assalamualaikum Ustad-ustad muda." Salam seseorang dari dalam mobil, membuat Ian dan Zaynal saling lirik. Membalas salam tersebut bersamaan.

"Enten sing saged kami bantu pak?" Ian bertanya sopan.

Laki-laki setengah baya itu turun dari mobil. "Saya ada perlu sama kamu, bisa minta tolong lukiskan sesuatu." Ucapnya.

Ian tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. "Boleh pak, mari masuk dulu ke dalam." Ujarnya sambil memberi isyarat agar Zaynal pergi dulu. "Kuncinya, nanti gue nyusul." Bisik Ian pelan.

Zaynal memberikan kunci tersebut. "Misi nggih pak kulo pamit riyin badhe teng pondok."

"Ualah, saya ganggu yah?"

"Mboten pak, lagi senggang niki, anu badhe dolan teng pondok." Jelas Ian, sekali lagi memberi isyarat agar Zaynal segera pergi.

"Pamit pak, assalamualaikum." Zaynal menyalimi laki-laki itu kemudian berjalan meninggalkan mereka berdua.

"Mari pak masuk." Ian menunjuk rumahnya, membimbing laki-laki yang membuat Ana kalang kabut akhir-akhir ini. Pak Hendra.

"Kalian tinggal berdua doang disini?"

Mubayyin [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang