HAPPY READING GUYS
●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●
Di tengah teriknya sinar matahari, seorang gadis berjalan lemas menyusuri pinggiran jalan raya, menunggu mobil, bus atau apapun yang lewat untuk menumpang, tapi nihil, kendaraan yang lewat hanya sepeda motor. Lama berjalan Ana haus ingin minum, namun ia tidak mempunyai uang, hanya sisa dua puluh ribu uangnya. Karena saat pergi kemaren ia hanya membawa uang seratus ribu. Dan sisa uangnya di pondok tinggal enam ratus, entah bagaimana ia akan menjalani kehidupan setelahnya. Ana mengusap wajahnya frustasi, teringat percakapannya dan ibu Queen tadi malam.
"What are your plans after this?"
Ana mengangkat bahunya acuh, menatap layar TV yang menyala.
"I hope you work soon, because I don't have enough money to pay for you."
"Gue bisa hidupin diri gue sendiri, jangan khawatir." Jawab Ana tanpa melihat wajah Tantenya itu.
"Okey, good job and good luck."
"Maturnuwun." Ana langsung masuk ke kamar setelah mengatakan itu. Membereskan pakaiannya untuk dibawa pondok besok pagi.
Ana menendang batu yang menghalangi jalannya, ia sudah muak, dengan mengendong ransel besar berisi sisa bajunya di rumah Ana berjalan seperti orang hilang. "Tapi gue memang lagi hilang arah sii." Gumam Ana menjawab apa yang ada di otaknya.
Ana melihat kakinya yang merah, saat terkena sinar matahari kulitnya memang menjadi merah, ia menyayangkan kenapa tadi tidak memakai sepatu saja. "Ayolah tuhan kirim seseorang buat bantuin Ana, kalo bisa yang ganteng." Ucapnya dengan putus asa.
Ana menatap sekeliling, matanya berubah menjadi berbinar saat melihat sebuah mobil lewat. Ia melambaikan tangan di pinggir jalan berniat menghentikan mobil. "Pak ikut pak."
Mobil itu melaju melewati Ana, membuat gadis itu murung, tapi setelahnya tersenyum senang karena mobil itu berhenti.
"Why? You need ehm bantuan, eh help-help." Tanya supir mobil dengan bingung.
Ana membatin dalam hati, ia pasti dikira bule. "Saya boleh ikut enggak pak?" Tanya Ana, di samping supir itu ada seorang ibu-ibu dengan anak kecil, sedangkan dibelakang ada dua orang anak SD laki-laki dan perempuan.
"Oalah bisa bahasa indonesia tah mbak? Boleh, tapi saya cuma sampe tugu depan?"
"Iya enggak apa-apa pak, tujuan saya enggak jauh dari tugu kok." Wajah Ana berseri-seri senang.
"Yaudah mbak naik aja kebelakang, itu bekas jualan sayuran jadi sedikit kotor."
Ana mengangguk, ia memasukan tasnya terlebih dahulu kemudian kakinya naik ke ban mobil dan bak belakang mobil. Ya itu adalah mobil kolbak dengan sisaan sayuran didalamnya.
"Sini teh tak bantu." Tawar anak laki-laki dengan baju SD.
"Makasih dek." Ana duduk dengan sedikit tidak nyaman, karena bagian bawah mobil basah, ia duduk di kayu yang menompang sayuran. "Kalian abis sekolah?"
"Iya teh, ini baru pulang." Jawab si anak kecil, cewek.
Ana menatap sekitar. "Ohh, hebat di jemput ayah sama ibu yah?"
"Mereka bukan orang tua kita teh, kita cuma ngikut berangkat sama pulangnya aja."
Ana terkejut mendengarnya. "Loh rumah kalian berarti jauh?"
Si anak laki-laki mengangguk. "Lumayan teh, kita ngikut sampe tugu terus nanti keatasnya sendiri."
"Atas?" Ana belum terlalu familiar dengan daerah ini, ia hanya tahu jalan ke pondok.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mubayyin [On Going]
Teen FictionUsaha Ana dalam mencari keberadaan sang ayah membuatnya harus tinggal di pondok pesantren, dan berada dalam pengawasan Ian, tetangga sekaligus ustad di pesantren itu. Walau di awal merasa terkekang dan tidak membuahkan hasil, namun kedekatannya deng...
![Mubayyin [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/332756967-64-k237080.jpg)