HAPPY READING GUYS
●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●
Ana meletakkan tasnya di samping loker baju, loker itu lebih kecil dibanding loker di kamarnya yang dulu. Ana mengeluarkan satu demi satu baju yang ada di dalam tas, ia memperbanyak membawa kemeja dan kerudung.
"Loh Ana kapan kesini?" Tanya mbak Nurul, rois di kamar yang sekarang, juga berperan sebagai mbak ndalem abah.
Ana mengulurkan tangan dan bersalaman. "Iya nih mba aku baru sampai tadi."
Nurul mengangguk seraya tersenyum. "Di lanjut beres-beresnya." Ucap Nurul sebelum beranjak ke loker dan mengambil dompet. "Anak-anak, kalau semisal ada yang mau nitip uang langsung kasih mba aja ya."
"Siap mba." Jawab anak-anak kamar yang mayoritasnya anak SMA.
Di kamar ini Ana belum terlalu akrab dengan yang lain, berkenalan juga belum, ia hanya tahu mba Nurul karena sesama rois seperti mba Rizka. Ia malas jika harus memulai perkenalan lebih dulu, jadi biarlah keadaan seperti ini untuk sementara.
Walau fokus Ana ada pada baju yang sedang ia lipat, tapi ekor matanya bisa melihat teman-teman sekamarnya yang lain sedang bersenda gurau bersama, mengobrol satu sama lain.
Lipatan baju terakhir Ana telah selesai, ia menyusunnya dalam loker baju, kemudian beralih menata rak buku, memisahkan kitab yang masih di pakai dan yang tidak, karena sebentar lagi memasuki semester baru maka banyak kitab yang sudah tidak terpakai, ia berniat menyimpan di dalam kardus.
"Assalamualaikum, permisi Ana ada?"
Ana buru-buru menoleh saat mendengar namanya di sebut. Ternyata Jule yang mencarinya di pintu. "Sini lo, udah balik tapi enggak nemuin gue." Tegur Jule masuk kedalam kamar, merangkul Ana yang lebih tinggi darinya.
"Gue baru sampai yah, belum ada waktu buat liat muka lo." Balas Ana, melepaskan rangkulan Jule. "Mana Maya sama Ella?"
Jule melemaskan bahunya. "Maya udah mukim kemarin, kalau Ella enggak tahu." Jawabnya.
"Maya udah mukim?! Kok enggak nungguin gue balik kesini sih!" Seru Ana membuat anak kamar kini menjadikan mereka pusat perhatian.
"Yeee, kan gue bilang lo kelamaan, lagian tiba-tiba banget balik."
Ana menatap Jule sinis, kemudian ikut duduk disebelahnya. "Ada acara." Jawab Ana dengan pikiran yang melayang entah kemana. "Nih gue punya temen, nah temen gue tuh punya kakak tapi bukan kakak kandung kayak gimana yah,"
"Bentar-bentar dulu, temen lo nih?"
Ana mengangguk.
"Emang lo punya temen?" Jule bertanya dengan nada tidak percaya. "Bukannya temen lo cuma kita-kita doang."
"Temen gue banyak yah." Sangkal Ana. "Lanjut yah, intinya temen gue nih punya kakak tapi bukan saudara kandung atau ada ikatan darah, tapi dia juga yang ngerawat gue dari kecil."
Jule mengernyitkan dahinya, sambil tersenyum penuh kemenangan. "Jadi......" Jule mengangkat sebelah alisnya, menunggu Ana melanjutkan.
Ana tidak menyadari kesalahan yang ia buat. "Jadi temen gue nih bikin kakaknya marah gara-gara kabur dan hampir ketabrak mobil-"
Jule memegang kedua pundak Ana cepat. "Lo hampir ketabrak mobil?"
Ana menggeleng cepat. "Temen gue ya, bukan gue." Bantah Ana cepat, dengan wajah meyakinkan. "Kalau udah kayak gitu apa yang harus gu- temen gue lakukan?"
"Minta maaflah, apalagi?"
"Ihh jawabnya yang niat dong."
"Ya mau jawaban apalagi sii, temen lo harus minta maaf secara baik-baik sama kakaknya itu. Lagian kemarahan kakaknya juga wajarlah, adeknya kabur hampir ketabrak mobil, pasti dia khawatir banget."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mubayyin [On Going]
Teen FictionUsaha Ana dalam mencari keberadaan sang ayah membuatnya harus tinggal di pondok pesantren, dan berada dalam pengawasan Ian, tetangga sekaligus ustad di pesantren itu. Walau di awal merasa terkekang dan tidak membuahkan hasil, namun kedekatannya deng...
![Mubayyin [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/332756967-64-k237080.jpg)