Chapter 38

403 28 5
                                        

SELAMAT MEMBACA 💐

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

"Angeliana."

"Angeliana? Ana nggak berangkat ya?"

"Mboten gus, udah tiga hari izin." Jawab Samsul, saat semua teman kelasnya diam.

Altha mengernyit heran, tetap melanjutkan absensi dengan perasaan sedikit tidak tenang, pasalnya Ian memberitahunya bahwa Ana sudah kembali, dan meminta tolong untuk mengawasi gadis itu.

Selesai mengabsen Altha kembali bertanya, "Udah tiga hari? Okeh karena Ana nggak ada, tolong ketua kelas untuk menggantikan, jelaskan ulang apa yang dipelajari minggu kemarin dulu ya saya ada urusan sebentar." Perintah Altha pada anak-anak kelas, ia mengambil handphone, pergi ke luar kelas untuk menelepon Ian, laki-laki itu juga tidak berangkat, kembali izin karena harus menyelesaikan lukisan. 

"Hallo Assalamualaikum, kenapa al?" 

"Ana nggak berangkat diniah, dia sakit atau kenapa?" Ujarnya menanyakan keadaan gadis itu. 

Di seberang telepon Ian mengernyitkan dahinya. "Dia aman kok tadi, baik-baik aja"

"Kok nggak berangkat atau Ana lagi sama sampean?"

 "Wait al, makasih infonya catat aja kalo dia nggak ada surat ijin," Ucap Ian sambil berjalan keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah, berfikir kenapa gadis itu tidak berangkat diniah padahal tadi ia baik-baik saja. 

"Okeh, tapi Ana aman kan?" 

"Ini mau gue cek dulu, tutup ya teleponnya,"   

Altha mematikan telepon itu lalu kembali masuk kedalam kelas untuk lanjutkan mengajar, jujur ia juga khawatir tentang Ana yang sudah ia anggap sebagai adiknya, mengapa gadis itu tidak berangkat. 

*****

Ana menatap wajahnya di pantulan cermin yang nampak sudah kusam, permukaanya di penuhi oleh bintik-bintik air yang sudah mengering, cermin itu seharusnya memantulkan keindahan wajah seseorang yang berdiri di depannya, namun naasnya kini hanya menghadirkan bayangan yang sama kacau dengan keadaan disekelilingnya: busa sabun yang mengeras di sudut dinding, sampah kemasan sampo yang tergeletak tanpa peduli, ember-ember penuh pakaian santriwati yang belum disentuh, dan deretan baju bergantungan asal seperti napas kelelahan yang ditinggalkan begitu saja.

Sungguh miris, Ana kemudian menatap tangannya, ada sedikit noda darah disana, yang kemungkinan berasal dari kulit leher bagian belakangnya, terkelupas sebab ia menggaruknya terlalu keras, kulitnya menyusup ke kuku jari. Perih. Namun tidak terasa.

Wajah Ana juga tak kalah berantakannya, penuh bekas air mata yang kini sudah mengering, meninggalkan jejak ia terluka. Ana menatap semua bajunya yang kini bercampur benda putih lengket, ia tidak mempunyai baju lagi, entah apa yang harus ia lakukan. Dari cermin ia melihat leher bagian belakangnya yang memerah dengan bekas darah mengering di sekitar area luka itu, Ana memejamkan mata mencoba menikmati rasa sakit. 

"Sialan! Gue ada salah apa sih sama mereka! Nggak pada mikir apa ya itu orang," ungkap Gadis itu saat membuka matanya kembali, amarah itu masih membara didalam dirinya, karena ia sendiri juga tidak tahu apa kesalahannya.  

Ana mencuci bajunya dengan emosi yang masih menguasai hati, ia membolos diniah karena tidak punya baju, ia juga sudah kepalang emosi tadi jadi tidak bisa berfikir jernih, langsung pergi ke kamar mandi untuk bersembunyi dari para petugas yang mengecek siswa yang bolos diniah. Hingga tadi disaat keadaan sudah aman ia pergi ke atas mengambil pakaiannya untuk kemudian di cuci.  

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 01 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Mubayyin [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang